Opini Hari Lansia 29 Mei

Di Ambang Pintu Aging: Kabar Bak atau Buruk?

Sensus Penduduk (SP) menyingkap wajah kependudukan Indonesia. Dari sisi jumlah dan laju per­­tum­buhan, hingga perubahan struktur demografis.

Tayang:
Editor: Salman Rasyidin
ist
Marpaleni 

Menggapainya membutuhkan keberadaan institusi ekonomi dan kebijakan yang mampu menterjemahkan perubahan struktur kependudukan tersebut menjadi pertumbuhan e­ko­nomi.

Agar bonus demografi pertama dapat diraih, diperlukan kebijakan-kebijakan yang mendorong ter­cip­­tanya sumber daya manusia (SDM) berkualitas dan dapat terserap di pasar kerja.

Selain itu di­per­­lukan juga upaya-upaya promotif yang mendorong SDM usia produktif untuk menabung dan berinvestasi agar mapan dan mandiri.

Seiring peningkatan populasi penduduk tua di seluruh dunia, ahli demografi mengemukakan bah­wa bonus demografi kedua, yaitu “Longevity Dividend” atau "Deviden Umur Panjang", mungkin sa­­ja terjadi.

Bonus demografi kedua dideskripsikan sebagai anugerah ekonomi yang mungkin di­per­oleh saat lansia semakin banyak, namun penduduk usia lanjut ini masih produktif dan bisa ber­kon­tribusi dalam perekonomian.

Dengan kata lain, Longeviti Dividend adalah deviden yang di­per­oleh dengan memaksimalkan kontribusi dari populasi lansia yang berpendidikan, aman, dan sehat dan aktif secara sosial dan ekonomi.

Namun demikian, seperti halnya bonus demografi pertama, bo­­nus demografi kedua juga tidak terj­adi secara otomatis.

Mewujudkannya memerlukan usaha se­rius dan sungguh-sungguh.

Tantangan Menuju Penuaan yang Berhasil

Kontribusi lansia kepada masyarakat sesungguhnya sangat berharga.

Walau memang terkadang, kon­tribusi—seperti mengasuh, menjadi sukarelawan, atau meneruskan tradisi budaya kepada ge­ne­rasi penerus, seringkali tidak dapat diukur secara ekonomi.

Jangan lupakan juga bahwa orang yang le­bih tua sering berperan sebagai pemimpin yang tangguh, misalnya dalam menyelesaikan konfik ke­­luarga, dalam komunitas dan bahkan dalam situasi darurat.

Saat ini Indonesia masih berada dalam masa-masa pemanfaatan bonus demografi pertama.

Namun, tak lama lagi penduduk yang saat ini berada dalam kategori produktif akan memasuki usia 60 ta­hun keatas dan pensiun.

Jika dipersiapkan sejak dini dengan didukung kebijakan pembangunan yang mempertimbangkan dinamika perkembangan kependudukan, penuaan penduduk berpeluang mem­berikan bonus demografi kedua.

Menjaga agar bonus demografi kedua dapat diraih di Indonesia bukan perkara mudah.

Data Sa­ke­r­nas menunjukkan, mayoritas penduduk usia produktif di Indonesia masih berpendidikan rendah, bekerja di sektor informal dan memiliki pendapatan rendah.

Perpaduan kondisi tersebut menyu­lit­kan penduduk yang saat ini termasuk kategori produktif untuk menabung sebagai persiapan jelang pen­siun.

Mempersiapkan lansia berpendidikan tinggi yang sehat dan produktif di masa depan, perlu di­la­ku­kan sedari sekarang.

Salah satunya adalah dengan  memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi ma­­syarakat untuk mengenyam pendidikan tinggi dan mengembangkan kompetensi profesional.

Ter­masuk kaum perempuan.

Selain didorong untuk meningkatkan pendidikan, perempuan juga perlu dimotivasi agar bisa me­ma­suki pasar kerja.  SP2020 menyebut mayoritas penduduk Indonesia berjenis kelamin laki-laki.

Na­mun, data menurut kelompok umur menunjukkan: semakin tua lansia, perempuan semakin men­do­­minasi.

Pada tahun 2020, rasio jenis kelamin Indonesia sebesar 104.

Sementara sex ratio pen­du­duk 60+ sebesar 94.

Rasio jenis kelamin pada kelompok umur tertua (75 plus) adalah sebesar 79.

Ar­­tinya, pada kelompok umur 75 keatas, dari 100 lansia perempuan terdapat 79 lansia laki-laki.

Mem­fasilitasi perempuan untuk memasuki lapangan kerja di masa kini, akan berkontribusi positif di era penduduk tua nantinya.

Hal krusial lainnya adalah intervensi di bidang kesehatan dan sosial kemasyarakatan, seperti me­nyiapkan sistem jaminan kesehatan dan sosial untuk lansia bisa tetap produktif dan tidak menjadi be­­ban pembiayaan kesehatan.

Sistem ini perlu dipersiapkan dengan hati-hati, sehingga men­jang­kau seluruh lansia yang membutuhkannya tanpa diskriminasi.

Selain itu, diperlukan juga pem­bang­un­an kawasan ramah lansia seperti, ruang terbuka, transportasi, lingkungan perumahan, dan lain-la­in.

Perlu juga dicatat bahwa, mempersiapkan SDM agar berkembang menuju penuaan yang sukses me­merlukan bantuan dari seluruh pihak.

Baik itu pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia u­sa­ha maupun seluruh lapisan masyarakat.

Masyarakat perlu disiapkan sedari sekarang agar bisa men­jadi kelompok yang siaga mendampingi para lansia.

Saat ini, penuaan penduduk Indonesia adalah sebuah fenomena demografis yang sedang menanti di de­pan mata.

Mau tidak mau, kita harus menghadapinya.

Bersamanya, ada tantangan. Menyam­but­nya, perlu persiapan.  

Mengutip Betty Friedan, “aging is not lost youth but a new stage of oppor­tu­ni­ty and strength”.

Jadi, apakah transisi menuju penduduk menua ini merupakan kabar baik ataukah buruk?

Jawab­an­nya bergantung pada kesiapan kita memitigasi setiap risiko yang menyertainya.

Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved