Opini Hari Lansia 29 Mei
Di Ambang Pintu Aging: Kabar Bak atau Buruk?
Sensus Penduduk (SP) menyingkap wajah kependudukan Indonesia. Dari sisi jumlah dan laju pertumbuhan, hingga perubahan struktur demografis.
Oleh: Marpaleni MA, Ph.D
Lulusan PhD program Population and Geography dari Flinders University of South Australia. Saat ini bekerja sebagai Statistisi Madya di BPS Provinsi Sumatera Selatan.
Sensus Penduduk (SP) menyingkap wajah kependudukan Indonesia. Dari sisi jumlah dan laju pertumbuhan, hingga perubahan struktur demografis.
SP2020 mengabarkan, per September 2020 penduduk Indonesia mencapai 270 juta jiwa.
Ini berarti, jumlah penduduk Indonesia bertambah 32,56 juta jiwa dari sensus sepuluh tahun sebelumnya.
Kabar lain yang dibawanya adalah soal pergeseran struktur demografis.
Sekitar 26 juta penduduk Indonesia tahun 2020, berusia 60 tahun atau lebih.
Ini berarti, proporsi penduduk lansia Indonesia sudah mencapai 9,8%. Sebagai perbandingan, pada tahun 1971 lansia di Indonesia mencapai 5,3 juta atau sekitar 4,5% dari total penduduk Indonesia saat itu.
Hasil SP2020 menunjukkan, selama lima dasawarsa jumlah lansia melesat hingga lima kali lipat angka tahun 1971.
Juga semakin mendekati 10% total populasi.
Menurut UNFPA -United Nations Population Fund, ketika proporsi penduduk usia 60+ di suatu wilayah telah mencapai sepuluh persen atau lebih, maka wilayah tersebut disebut telah berada di era aging society.
Ini berarti, saat ini penduduk Indonesia sedang berada di ambang era penduduk menua.
Era aging society merupakan fenomena global yang tidak dapat dihindari. Transisi demografis ini muncul sebagai akibat dari rendahnya mortalitas sementara fertilitas juga menurun.
Selanjutnya, transformasi demografis ini menggeser struktur umur penduduk dan berujung pada perubahan wajah kependudukan Indonesia.
Pertanyaannya: pencapaian ini merupakan kabar baik ataukah buruk?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/marpaleni-bps.jpg)