Opini Hari Lansia 29 Mei

Di Ambang Pintu Aging: Kabar Bak atau Buruk?

Sensus Penduduk (SP) menyingkap wajah kependudukan Indonesia. Dari sisi jumlah dan laju per­­tum­buhan, hingga perubahan struktur demografis.

Tayang:
Editor: Salman Rasyidin
ist
Marpaleni 

Patut Disyukuri

Peningkatan proporsi penduduk lansia sesungguhnya patut disyukuri.

Terus bertambahnya lansia adalah refleksi penurunan tingkat kematian dan semakin panjangnya umur penduduk.

Hal ini tentu meng­indikasikan adanya perbaikan nutrisi, sanitasi, ekonomi, dan peningkatan fasilitas kesehatan.

Se­­lain itu, peningkatan proporsi penduduk lansia juga tak lepas dari menurunnya angka kelahiran.

Berkebalikan dengan proporsi lansia, proporsi penduduk balita Indonesia (0-4 tahun) terus me­nu­run dari SP ke SP.

Indikator ini mengindikasikan keberhasilan program Keluarga Berencana.

Kedepan, proporsi penduduk lansia diprediksi akan terus bertambah, seiring meningkatnya angka harapan hidup (AHH). SP1971 menunjukkan: AHH penduduk Indonesia sebesar 47,7 tahun.

Ar­ti­nya, bayi-bayi yang dilahirkan menjelang tahun 1971 (periode 1967-1969) akan hidup hingga 47 atau 48 tahun.

Lima dasawarsa kemudian, SP2010 mencatat, bayi-bayi yang dilahirkan menjelang tahun 2010 mempunyai usia harapan hidup lebih panjang yakni 69,43 tahun.

Namun, perlu diingat. Karakterisik penduduk lansia berbeda dengan penduduk muda.

Sejalan per­tam­­bahan usia, kemampuan fisik dan non fisik penduduk usia balita dan remaja biasanya juga me­ningkat.

Sebaliknya terjadi pada penduduk lansia.

Penuaan lansia biasanya diikuti dengan pe­nu­runan kemampuan fisik dan kognitif.

Kondisi ini membuat lansia berisiko terjebak dalam ber­bagai persoalan kesehatan.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved