Hikmah Di Balik Kontroversi Repatriasi WNI Eks ISIS Ke Tanah Air

Al-Quran, kitab suci umat Islam telah memerintahkan umatnya untuk memperhatikan segala pe­ris­­tiwa yang terjadi, agar dapat diambil manfaat

Editor: Salman Rasyidin

Dalam QS. Al-Maidah: 49, Allah Swt berfirman: “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara me­reka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari se­ba­gian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling dari hukum yang telah di­turunkan Allah, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpahkan musibah kepada mereka disebabkan sebagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya keba­nya­kan manusia adalah orang-orang yang fasik”.

Karena itu, bagi masyarakat umum, terkhusus para pemuda yang ingin mengetahui kebenaran ISIS jangan sekedar melihat dari propaganda ISIS, tetapi lihatlah pernyataan resmi dan ke­pu­tusan resmi ISIS.

Lalu cari tafsir yang lurus dari para ulama yang dikenal kelurusannya, niscaya akan diketahui bahwa pernyataan mereka telah melenceng dari tafsir Al-Qur'an dan hadis Nabi SAW.

Lebih jelas lagi, mereka mengatakan bahwa orang yang tidak mengakui Abu Bakar al-Bag­dady sebagai khalifah adalah murtad.

Padahal kekhalifahan yang mereka dibuat dengan man­haj sendiri, jelas tidak sesuai dengan Khilafah ‘ala Minhaj al-Nubuwah, sebagaimana tuntunan Na­bi Muhammad SAW.

Berangkat dari ulasan di atas, makadalam setiap peristiwa yang terjaditersimpan hikmah seba­gai pelajaran tertinggi dari suatu pengalaman yang hendaknya berusaha dipahami setiap individu mus­lim secara objektif dan futuristik.

Apa yang telah dialami oleh eks ISIS adalah akibat dari pe­­mahaman yang sesat, dan buah dari tindakan yang salah, disadari atau tidak sesungguhnya te­lah mendatangkan mudarat, baik bagi keluarga (yang seharusnya tidak menanggung dosa/ hu­kuman atas perbuatannya), orang lain (masyarakat umum) yang menjadi korban teror, beban bagi ba­ngsa dan negara asal, serta merusak citra agamanya sendiri.

Sedari itu, apabila pengetahuan ki­­ta kurang tentang sesuatu, maka janganlah gegabah, seharusnya bertanya dan berkonsultasi ke­pada orang-orang tepat, lurus, dan istiqomah dalam menjalankan ajaran Islam yang berdimensi rahmatan lil ‘alamin.

Allah Swt berfirman dalam QS.An-Nahl: 43, Maka bertanyalah kepada o­rang yang memiliki pengetahuan jika kalian tidak mengetahui”.

Melalui al-Quran pula sudah ada batasan dan kewajiban yang jelas bagi umat perihal ketaatan dalam suatu sistem peme­rin­tahan.

Sebagaimana termaktub dalam QS. An-Nisa: 59, Wahai kaum beriman taatilah Allah, ta­atilah rasul, dan ulil amri (pemerintah) di antara kamu. Jika kamu berlainan pendapat tentang se­suatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul-Nya, jika kamu benar-benar beriman ke­pada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih baik bagimu dan lebih baik aki­bat­nya”.

Semoga kita dapat menjaga diri kita, keluarga, dan masyarakat dari segala macam pemahaman yang menyimpang dalam beragama.

Islam sebagai the way of life, tentunya senantiasa selaras a­jar­an-ajaran dengan fitrah kita sebagai manusia.

Apabila bertentangan itu artinya ada sesuatu yang keliru dalam interpretasi manusia, maka hendaknya dikembalikan kepada sumber utama­nya; al-Quran dan al-Hadis. Wallahu ‘alam bi ash-shawab.

Sumber:
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved