LIPSUS

LIPSUS: Ada Cuan dari Illegal Drilling, Ledakan Sumur Minyak Ilegal Terus Berulang Terjadi di Muba

Area yang dulunya hanya dikenal sebagai lahan perkebunan, namun sejak akhir 2022 diramaikan aktivitas pengeboran sumur minyak oleh masyarakat.

Penulis: Fajeri Ramadhoni | Editor: Odi Aria
Dokumentasi Polisi
OLAH TKP -- Tim gabungan Subdit IV Tipidter Ditreskrimsus Polda Sumsel bersama Satreskrim Polres Musi Banyuasin dan Polsek Keluang mendatangi lokasi kebakaran sumur minyak ilegal di lahan HGU milik PT Hindoli, di Desa Tanjung Dalam, Kecamatan Keluang, Kabupaten Musi Banyuasin, Rabu (1/4/2026). Ada sejumlah kendaraan dan lahan seluas 4,2 hektar hangus terbakar. 

Ringkasan Berita:
  • Kawasan Hindoli di Musi Banyuasin berubah jadi lokasi pengeboran minyak ilegal sejak 2022
  • Aktivitas ini memberi keuntungan besar bagi warga namun memicu aktivitas masif
  • Minimnya standar keselamatan menyebabkan sering terjadi kebakaran dan ledakan sumur minyak ilegal yang menimbulkan korban serta kerusakan lingkungan

SRIPOKU.COM, SEKAYU- Kawasan Hindoli yang berada di wilayah perkebunan sawit di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) kini berubah drastis.

Area yang dulunya hanya dikenal sebagai lahan perkebunan, namun sejak akhir 2022 diramaikan aktivitas pengeboran sumur minyak oleh masyarakat.

Secara geografis, kawasan Hindoli berjarak sekitar tiga jam perjalanan dari Sekayu, ibukota Kabupaten Musi Banyuasin.

Akses menuju lokasi didominasi medan perkebunan sawit yang cukup menantang.

Diperkirakan aktivitas pengeboran tersebut bermula ketika sejumlah warga dari kecamatan tetangga mencoba peruntungan membuka sumur minyak secara mandiri dan berhasil mendapatkan hasil yang cukup menjanjikan.

"Mulai dari 2022 yang paling ramai. Dahulu, jalan lintas Sekayu menuju Sungai Lilin ramai warung-warung pada malam hari. Karena saat itu banyak mobil yang mengangkut minyak keluar masuk," ujar seorang narasumber yang merupakan warga Muba, Jumat (3/4/2026).

Keberhasilan eksploitasi minyak bumi tersebut lantas memicu kedatangan para tauke atau penambang lain untuk ikut melakukan eksplorasi dan eksploitasi di kawasan tersebut.

Lalu, seiring berkembangnya aktivitas pengeboran minyak bumi tersebut, kawasan seperti Tanjung Dalam yang sebelumnya memiliki perputaran ekonomi biasa-biasa saja, mendadak mengalami lonjakan signifikan.

Bahkan, tidak sedikit warga yang dalam waktu singkat meraih keuntungan besar hingga meningkatkan taraf hidup secara signifikan.

Contohnya beberapa warga membeli kendaraan sekelas SUV besar karena taraf perekonomian meningkat.

"Ada kantiku (teman saya), baru ikut ngebor setahun sudah kebeli Pajero dan Hilux," ujar seorang warga.

Namun, di balik potensi ekonomi itu, risiko besar juga mengintai. Berdasarkan data yang digali Sripo, sejumlah insiden kerap terjadi di kawasan tersebut, mulai dari kasus kekerasan hingga ledakan sumur minyak yang menimbulkan korban jiwa.

Tingginya angka kejadian ledakan diduga disebabkan minimnya pemahaman terkait standar keselamatan kerja (safety) dari para penambang.

Sebagian besar pekerja diketahui merupakan pendatang yang tidak memiliki latar belakang teknis pengeboran minyak.

Kondisi ini membuat peristiwa serupa terus berulang dan menjadi perhatian berbagai pihak.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved