Opini

Memaknai Budaya Dalam Konteks yang Berbeda

Budaya bukan benda mati, tapi hidup dan terus berubah. Dari kontroversi hingga akulturasi, kuncinya ada pada cara kita memahami dan memaknainya.

Tayang:
Handout/tidak ada
Albar S Subari 

Ketiga, penggunaan atribut budaya tergantung cara pandang kita. Yang disesuaikan dengan maksud dan tujuan yang mau dicapai. Seperti tanjak (tutup kepala), untuk laki laki, mulanya sebagai pakaian yang digunakan dalam upaya adat, namun sekarang, penggunaannya sudah berkembang. Bahkan oleh pemerintah daerah propinsi Sumatera Selatan sudah dijadikan lambang khusus Provinsi Sumatera Selatan (sudah dibuat Perda). Bahkan dilambangkan dibangun di atas gapura (pintu gerbang) dan sebagainya diberbagai bangunan.

Walaupun budaya itu berkembang melalui sistem asimilasi, akulturasi budaya maka kita bangsa Indonesia tetap patuh dan taat pada nilai nilai luhur bangsa Indonesia yang terpelihara sejak sejarah lahirnya bangsa dan negara Indonesia.

Berkenaan dengan itu Ki Hadjar Dewantara dalam bukunya berjudul "kebudayaan", terbitan Yayasan Taman Siswa Yogyakarta mengatakan bahwa di dalam pembentukan budaya/hukum nasional harus tetap memenuhi "tri Kon", yaitu konsentrisitas maksudnya adalah perkembangan budaya/ hukum nasional yang berasal dari budaya/hukum lokasi (kearifan lokal) tetap terkonsentrasi pada nilai aslinya yaitu dalam bahasa politiknya "Pancasila".

Kontinuitas maksudnya dalam pembangunan-pelestarian dan perkembangan budaya/hukum harus tetap berkesinambungan dengan budaya kearifan lokalnya sehingga tidak terputus satu dengan yang lain nya yang mungkin bisa bertentangan satu dengan yang lain.

Konversi, sebagai bangsa yang berkembang tentu kita tidak dapat menutup diri sehingga budaya luar (asing) sama sekali ditolak. Budaya asing bisa ditoleransi sepanjang sesuai dengan nilai nilai luhur bangsa Indonesia yang bersumber pada nilai Pancasila.

Ketika istilah tri Kon tersebut tetap bisa berasimilasi maupun berakulturasi.

Asimilasi adalah akumulasi dua atau tiga budaya menjadi satu kebudayaan baru: yang satu sama lain menghilangkan ciri masing-masing. Sedangkan akulturasi budaya adalah pertemuan dua atau lebih budaya di mana masing-masing terap memiliki ciri khas tanpa harus saling bertolak belakang. Intinya rukun dan damai.

Seperti baru baru ini, terjadi akulturasi budaya antara budaya hari raya Nyepi bagi umat Hindu dan tradisi budaya masyarakat muslim khususnya yang berdomisili di Pulau Bali. (*)

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved