Opini

Sidak Menteri Komdigi ke Kantor Meta: “Media Optics” Mengertak Big Tech

Sidak ke kantor Meta seperti menepuk air di dulang, menghasilkan percikan tetapi yang kena muka sendiri, bukan solusi nyata.

Tayang:
Dokumen Pribadi
Isni Andriana, SE, M.Fin, PhD 

Ada juga pertanyaan yang sah tentang apakah investasi dalam moderasi konten di pasar-pasar dengan margin keuntungan lebih rendah cukup memadai. Jadi pertanyaannya bukan apakah Meta perlu didorong untuk berbuat lebih baik dan mereka memang perlu. Pertanyaannya adalah apakah sidak yang dramatis ini adalah cara yang paling efektif untuk mendorong perubahan nyata.

Candaan lama tentang "menepuk air di dulang" adalah bahwa upaya itu menghasilkan banyak kebisingan tetapi tidak ada hasil. Dalam kasus sidak Meta ini, kita memiliki kebisingan media yang luar biasa, drama politis yang menarik, dan headline yang mengesankan.

Tetapi jika pertanyaannya adalah: "Apakah ini akan menurunkan tingkat konten judi online dan disinformasi di platform Meta dalam enam bulan ke depan?" maka jawabannya mungkin tidak signifikan, karena masalahnya bukan terletak pada keputusan yang diambil oleh kantor Meta di Jakarta.

Jangan salah paham: pemerintah Indonesia benar untuk menekan platform digital untuk mematuhi hukum lokal dan bertanggung jawab terhadap dampak sosial mereka. Tetapi tekanan itu akan jauh lebih efektif jika diartikulasikan melalui dialog teknis yang berkelanjutan, melalui koordinasi dengan regulator teknologi di negara lain, melalui investasi dalam kapasitas monitoring independen, dan melalui pemikiran jangka panjang tentang bagaimana mengatur ekosistem digital yang terus berkembang.

Sidak dramatik adalah alat PR yang baik untuk menunjukkan kepada konstituensi bahwa sesuatu yang "tegas" sedang dilakukan. Tetapi dalam dunia algoritma dan machine learning, yang diperlukan adalah pendekatan yang lebih sistematis, lebih teknis, dan kurang fokus pada pertunjukan.

Pada akhirnya, sidak Meta ini adalah simbol dari apa yang sering terjadi dalam “governance digital” di era kontemporer: politisasi dari masalah teknis yang seharusnya ditangani melalui dialog dan kolaborasi. Publik akan melihat menteri yang marah dan kantor yang disidak, dan akan merasa bahwa "sesuatu sedang dilakukan."

Tetapi pemerintah perlu menyadari bahwa dalam melawan algoritma, Anda memerlukan lebih dari sekadar ancaman. Anda memerlukan pemahaman teknis yang mendalam, strategi jangka panjang, dan kesediaan untuk berinvestasi dalam kapasitas sendiri untuk memahami dan memonitor teknologi yang menjadi subjek kekhawatiran.

Jadi ya, sidak Meta adalah “media optics” yang bagus. Tetapi “media optics” yang bagus tidak selalu menghasilkan hasil yang baik. Terkadang, itu hanya menghasilkan percikan air di dulang yang akhirnya mengenai wajah sendiri dalam bentuk reputasi internasional yang terluka, keterlibatan yang terganggu dengan perusahaan teknologi global, dan masalah yang sebenarnya tetap tidak terpecahkan karena Anda telah mengangkat suara kepada orang yang tidak memiliki kekuatan untuk menyelesaikannya. (*)

 

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved