Opini

Sumsel, Ekonomi Syariah, dan Ruang Bernama Keadilan Pasar

Kekayaan alam kita melimpah, tapi kenapa kita masih hobi kirim barang mentah ke luar? Jawabannya bukan cuma soal modal, tapi soal ekosistem!

Dok Pribadi
Kamalia Sani, S.E.I., M.E. (Dosen Ekonomi Syariah, Universitas Sriwijaya) 

Selain itu, isu keuangan sosial dalam ekonomi syariah seperti zakat, wakaf, dan infaq dapat menjadi mekanisme redistribusi yang melengkapi pembiayaan komersial. Bayangkan jika wakaf produktif dikelola untuk UMKM pangan lokal atau pesantren craft. Ia bukan hanya mengurangi biaya modal, tetapi juga menciptakan solidaritas pasar. Dan solidaritas seperti ini yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Sumsel, namun sering tidak terkonversi menjadi kekuatan ekonomi.

Fesyar sebenarnya memberikan petunjuk, ketika ada ruang bertemu antara pembiayaan, pasar, edukasi, dan jejaring, pelaku kecil tidak lagi sendirian. Sumsel membutuhkan ruang semacam ini secara rutin, bukan hanya dalam bentuk festival tahunan. Karena UMKM tidak tumbuh dari seremonial, tetapi dari ekosistem yang konsisten: pasar yang bisa diprediksi, kebijakan yang jelas, edukasi yang berkelanjutan, dan pembiayaan yang tidak mencekik.

Pada akhirnya pembangunan ekonomi syariah di Sumsel bukan soal simbol, tetapi soal keberpihakan. Apakah kita ingin UMKM hanya menjadi dekorasi pameran, atau menjadi fondasi ekonomi daerah? Apakah produk lokal akan terus dianggap alternatif kedua, atau kita ingin menjadikannya bagian dari kebanggaan identitas?

Pertanyaan-pertanyaan ini akan menentukan posisi Sumsel dalam kompetisi ekonomi regional di masa depan.
Pada akhirnya, ekonomi syariah adalah percakapan tentang masa depan, bukan ruang eksklusif untuk teknokrat. Jika dikelola dengan visi, ia dapat memotong mata rantai ketidakadilan pasar yang selama ini seperti rahasia umum. Ia dapat mempertemukan inovasi dengan keberlanjutan, serta menjembatani kepentingan pasar dengan martabat manusia.

Jika Sumsel mengambil langkah lebih serius ke arah ini, kita bisa membayangkan UMKM yang naik kelas tanpa belas kasihan, konsumen yang memilih produk lokal karena kualitas dan nilai, serta pemerintah yang bertindak bukan hanya sebagai regulator tetapi sebagai fasilitator yang menghubungkan.

Kita sering lupa bahwa ekonomi lahir dari tanah, bukan dari kertas. Dan tanah Sumsel sesungguhnya cukup subur untuk menumbuhkan ekonomi yang lebih kompetitif sekaligus manusiawi. Ekonomi syariah mungkin hanyalah jendela, tapi jendela itu sudah terbuka. Yang diperlukan sekarang adalah keberanian untuk menengok keluar dan mulai bergerak. (*)

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved