Breaking News

Opini

Bencana Alam dan Pemasaran Sosial: Mengukur Niat Dibalik Aksi

Apakah bantuan yang datang benar-benar menjawab kegelisahan mendasar itu, atau hanya memenuhi feed Instagram dengan narasi kepahlawanan semu?

Editor: tarso romli
Handout/tidak ada
Alditya Aris Rinandy 

Ketika seorang anak kecil bertanya, "Bagaimana mereka mau makan?", jawabannya tidak boleh hanya berupa video viral seorang selebritas yang membagikan makanan. Jawabannya harus berupa sistem penjaminan pangan darurat yang dijalankan negara dengan tegas.

Seperti pepatah, rambut sama hitam, hati lain-lain. Di tengah derita bencana, mengukur niat adalah langkah pertama untuk memastikan bahwa setiap bantuan, setiap kampanye, dan setiap kunjungan pejabat, benar-benar bermuara pada pemulihan martabat korban. Marilah kita berhenti sekadar menjadi penonton spektakel kedermawanan.

Mari menjadi warga yang kritis, yang mendorong solidaritas yang substansial, dan menuntut negara hadir bukan dengan pencitraan, tetapi dengan sistem yang bekerja untuk rakyatnya di saat paling sulit. Bencana ini seharusnya menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola, bukan sekadar memperkaya galeri konten sosial media para elit. (*)

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved