Opini

Sampah dan "Sirkuit" Dadakan di Kambang Iwak

Membuang sampah sembarangan di tempat umum mencerminkan keretakan adab seorang terhadap lingkungannya.

|
Dokumen Pribadi
Oleh: Distiliana, M.Pd.I (Pemerhati Sosial dan Keagamaan/Dosen Agama Islam Universitas Palembang) 

Ringkasan Berita:
  • Kambang Iwak adalah mahakarya Thomas Karsten peninggalan 1920-an yang kini jadi jantung ekonomi UMKM dan ruang rekreasi warga Palembang.
  • Sampah berserakan mencerminkan krisis akhlak. Padahal, menjaga kebersihan adalah bagian dari iman dan bentuk menjaga titipan alam.
  • Perilaku penyewa atau pengendara motor mini di Kambang Iwak membahayakan pengunjung. Sesuai kaidah fikih, keselamatan jiwa harus didahulukan daripada keuntungan ekonomi.

Oleh: Distiliana, M.Pd.I
(Pemerhati Sosial dan Keagamaan)

SRIPOKU.COM - Kambang Iwak (KI) bukan sekadar ruang terbuka hijau bagi warga Palembang. Ia adalah jantung kota, salah satu tempat melepas penat sekaligus pusat denyut ekonomi kecil.

Pada Minggu malam (28/12/2025), saya bersama suami dan tiga anak sengaja berkunjung ke sana. Suasana sangat hidup; lampu-lampu kota berpadu dengan aroma kuliner yang menggoda selera.

​Kami sempat berkeliling, melintasi jembatan di tengah kolam, lalu menikmati cilok kuah dan es matcha yang diakui anak-anak sangat lezat. 

Namun, di balik keseruan "healing" keluarga itu, ada dua kegelisahan yang mengusik kenyamanan dan rasa aman kami sebagai pengunjung.

Jika kita memutar waktu kembali ke tahun 1920-an, kawasan Talang Semut tempat di mana Kambang Iwak berada merupakan mahakarya seorang perancang kota legendaris, Herman Thomas Karsten.

Dalam catatan sejarah yang sering diulas oleh Harian Kompas, Karsten merancang kawasan ini dengan konsep Tuinstad atau Kota Taman. 

Kambang Iwak atau populer juga dengan singkatan KI, yang kala itu bernama Wilhelmina Park, bukanlah sekadar kolam hias. Ia adalah "paru-paru" sekaligus sistem drainase canggih yang menjaga Palembang dari banjir. Buku Palembang: Sejarah dan Kebudayaan, karya Duddy Adrian, mencatat bahwa tempat ini dahulu adalah simbol keteraturan dan keasrian kelas atas.

Namun sayang, wajah "keteraturan" itu tampak sedang diuji oleh zaman.

Malam itu, Kambang Iwak memang sangat hidup. Cahaya lampu kota yang memantul di permukaan air kolam menciptakan suasana romantis yang khas. Beragam jenis kuliner ada di sana. Di titik ini, fungsi KI sebagai pusat ekonomi kecil (UMKM) sangat terasa.

Namun, di tengah keceriaan itu, mata saya tertuju pada noda yang menyedihkan: sampah. Botol plastik dan bungkus makanan berserakan di pinggir kolam, terutama di tempat-tempat duduk area jogging track. Seperti membenarkan banyak pendapat bahwa pengelolaan sampah di ruang publik sering kali terbentur pada rendahnya kesadaran kolektif.

Saya melihat ini bukan sekadar masalah teknis kebersihan, melainkan krisis akhlak di ruang publik. Membuang sampah sembarangan di tempat umum mencerminkan keretakan adab seorang terhadap lingkungannya. Keindahan yang dirancang Karsten lebih seabad lalu tidak boleh kalah oleh ego pengunjung yang enggan mencari tempat sampah.

Kegelisahan saya memuncak saat suara raungan knalpot membelah malam. Jalan melingkar di KI yang hanya selebar 5-6 meter seketika berubah fungsi menjadi "sirkuit" dadakan akibat perilaku beberapa penyewa mini cross.

Kita tentu mendukung geliat ekonomi UMKM, namun ketika aktivitas tersebut mulai mengancam keselamatan pejalan pengunjung lainnya, maka prinsip hukum Islam harus dikedepankan: "Dar'ul mafasid muqaddamun 'ala jalbil mashalih"—menghilangkan kemudaratan harus didahulukan daripada mengambil kemaslahatan (keuntungan ekonomi).

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved