Opini

Tata Kelola Pangan: Dari Sawah ke Meja Makan

Di pasar-pasar Palembang, harga cabai dan beras naik-turun seperti cuaca yang sulit ditebak.

SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Pengamat Politik dan Kebijakan Publik dari Unsri, Dr. Muhammad Husni Thamrin, MSi. 

Koperasi Merah Putih, misalnya, bisa diperkuat bukan hanya sebagai penyalur hasil tani, tetapi juga sebagai pengelola informasi harga dan stok antarwilayah. Kolaborasi dengan perguruan tinggi dan kelompok masyarakat sipil juga bisa difokuskan pada riset data pangan lokal dan model logistik cerdas yang menekan biaya distribusi.

Di sisi lain, pemerintah provinsi dan kabupaten perlu berani meninggalkan model kebijakan yang seragam. Alih-alih memperbanyak program baru, yang lebih dibutuhkan adalah platform koordinasi lintas sektor yang memungkinkan pembelajaran antarwilayah.

Misalnya, membuat dashboard pangan terbuka berbasis desa yang menghubungkan data produksi, konsumsi, dan stok, sehingga keputusan intervensi bisa diambil secara cepat dan transparan.

Langkah berikutnya adalah desentralisasi tanggung jawab dengan akuntabilitas kolektif. Pemerintah daerah bisa mendorong pembentukan forum pangan lintas pelaku di tingkat kabupaten, tempat petani, akademisi, tokoh masyarakat, dan pelaku usaha duduk bersama merumuskan prioritas pangan lokal.

Di ruang seperti ini, kebijakan tak lagi hanya memerintah, melainkan benar-benar mendengar.

Ketahanan pangan tidak lahir dari gudang beras yang penuh, tetapi dari sistem yang terbuka, adaptif, dan saling percaya.

Kemandirian pangan baru akan menjadi kenyataan bila pemerintah mau beranjak dari peran pengatur menjadi fasilitator pembelajaran bersama.

Karena sejatinya, kedaulatan pangan bukan dimulai dari kebijakan besar, melainkan dari keberanian untuk mempercayai warganya sendiri dan memberi ruang bagi kolaborasi tumbuh. (*)

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved