Opini

Frustrasi Publik dan Pelampiasan Agresi pada Elit Bernama DPR

Pemerintah gagal membaca tanda-tanda frustrasi sosial dan ketidakpercayaan publik terhadap elit politik.

Istimewa
Diana Putri Arini, M.A., M.Psi.,Psikolog. 

Kemunculan rasa muak terhadap sikap DPR disebabkan kurangnya kesadaran pejabat dalam menghadapi sorotan publik.

Banyak anggota tidak dipersiapkan untuk komunikasi publik yang sensitif. Jawaban sekenanya, bahkan terkesan mempermainkan, menimbulkan rasa disepelekan.

Dalam psikologi komunikasi, hal ini disebut insensitive response—yakni respon minim empati, defensif dengan membela diri sambil menyudutkan pihak lain, meremehkan masalah, serta gagal menawarkan solusi.

Jenis respon ini lebih menyakitkan dibandingkan memilih untuk diam. Kondisi dapat diredam bila ada tim Public Relations (PR) yang menjembatani komunikasi, meluruskan konteks, dan mengurangi eskalasi.

Kenyataannya, isu dibiarkan viral sehingga menjadi bola salju yang kian membesar.

Solusi dari masalah ini bersifat dua arah: bagaimana publik tidak semakin frustrasi, dan bagaimana elit belajar berkomunikasi secara sehat.

Publik perlu forum dengar pendapat yang nyata, bukan seremonial, agar mereka merasa suaranya dihargai. Riset psikologi menunjukkan bahwa didengarkan saja sudah dapat mengurangi frustrasi, meski masalah belum sepenuhnya terselesaikan.

Di sisi lain, anggota elit perlu mendapat pelatihan komunikasi publik dengan menekankan respon empatik, transparansi, dan berbasis data.

Dengan begitu, ruang bagi propaganda dan hoaks semakin sempit, dan emosi publik lebih mudah dikelola. (*)

 

Sumber:
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved