Opini

Menelisik Tren Hunian Hotel di OKU: Antara Tantangan dan Optimisme

Dalam dua tahun terakhir, tren hunian hotel menunjukkan sinyal peningkatan yang layak diperhatikan

Editor: tarso romli
handout
Candra Budiman-Statistisi Mahir BPS Kabupaten OKU 

PERKEMBANGAN sektor perhotelan di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) menjadi cerminan penting dari dinamika ekonomi dan mobilitas masyarakat daerah. Dalam dua tahun terakhir, tren hunian hotel menunjukkan sinyal peningkatan yang layak diperhatikan, baik sebagai indikasi geliat sektor pariwisata maupun sebagai refleksi dari pergerakan ekonomi daerah secara lebih luas.

Terdapat gambaran yang menarik terkait perkembangan sektor perhotelan di Kabupaten OKU pada tahun 2024. Sebagai salah satu daerah yang berkembang, OKU mulai menapaki upaya pengembangan ekonomi melalui jalur pariwisata, meski harus berhadapan dengan tantangan dalam meningkatkan tingkat penghunian kamar hotel (TPK). Dengan Salah satu tantangannya adalah infrastruktur yang belum semaju kota-kota besar, serta daya tarik pariwisata yang belum sepenuhnya optimal. Pengembangan sektor perhotelan OKU berada dipersimpangan antara potensi besar dan hambatan yang harus diatasi.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), tren tingkat penghunian kamar di hotel-hotel di Sumatera Selatan, termasuk OKU, mengalami fluktuasi sepanjang tahun 2024. Secara umum, terdapat peningkatan signifikan pada Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel di Kabupaten OKU. Pada tahun 2023 untuk Kabupaten OKU, TPK tercatat sebesar 28,81 persen, sementara pada tahun 2024 naik menjadi 35,08 % . Kenaikan ini bukan sekadar angka, ia mencerminkan peningkatan kunjungan masyarakat, baik dari kalangan wisatawan, pelaku bisnis, maupun dinas pemerintahan, yang mulai kembali menggeliat pascapandemi.

Namun demikian, peningkatan TPK ini disertai dengan dinamika yang menarik pada indikator lain: Rata-rata Lama Tamu Menginap (RLTM). Jika pada tahun 2023 RLTM tercatat sebesar 1,29 malam, maka pada tahun 2024 justru menurun menjadi 1,25 malam. Meski tampak sebagai penurunan kecil, tren ini mengindikasikan bahwa kunjungan yang terjadi cenderung bersifat singkat atau transit. Bisa jadi tamu datang untuk urusan bisnis harian, kegiatan pemerintahan, atau agenda singkat lainnya tanpa memperpanjang masa tinggal.

Tantangan di OKU
Meski tren menunjukkan arah positif, bukan berarti tidak ada tantangan. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan sumber daya manusia (SDM) di sektor jasa perhotelan. Kualitas layanan menjadi faktor penting yang dapat menentukan kepuasan tamu dan keputusan mereka untuk kembali. Hospitality adalah kunci dalam pelayanan sektor jasa, terutama perhotelan. Sementara budaya pelayanan adalah suatu kemampuan yang harus digali dan dipelajari, terutama jika ingin mengoptimalkan penyerapan tenaga kerja lokal.

Selain itu, penting juga untuk memperhatikan standarisasi, konsistensi, dan klasifikasi hotel.  Hal ini supaya pelayanan yang diberikan sesuai dengan ekspektasi tamu. Tantangan-tantangan seperti ini, jika tidak segera diatasi, bisa menghambat potensi besar sektor perhotelan OKU. Aspek lain yang tak kalah penting adalah promosi digital. Di era digital seperti sekarang, keberadaan hotel di platform reservasi daring, ulasan di Google Maps, hingga keaktifan di media sosial dapat memengaruhi keputusan calon tamu.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan yang penting: Mengapa tamu datang lebih banyak, tetapi tidak tinggal lebih lama? Jawaban terhadap pertanyaan ini sangat penting bagi pelaku industri perhotelan, pengelola destinasi wisata, hingga pemangku kebijakan daerah. Apakah ini berarti bahwa daya tarik wisata kita belum cukup kuat untuk membuat tamu “betah”? Atau justru karena keperluan tamu yang lebih dominan bersifat jangka pendek?

Pertanyaan ini menjadi lebih menarik ketika kita melihat data penerimaan pajak hotel di OKU berdasarkan informasi dari Badan Pendapatan Daerah (BAPENDA) Kabupaten OKU. Pada tahun 2024, data menunjukkan tren yang cukup meyakinkan. Pada Triwulan I, tercatat penerimaan pajak hotel melonjak tajam sebesar 124,99 % dibandingkan Triwulan I tahun 2023. Lonjakan signifikan ini mengindikasikan mulai pulihnya aktivitas perjalanan dinas, kegiatan pemerintah, maupun keperluan bisnis di awal tahun. Namun demikian, pada Triwulan II terjadi penurunan secara triwulanan (quarter-to-quarter) sebesar 7,39 % dibandingkan Triwulan I 2024. Meskipun demikian, secara tahunan (year-on-year), penerimaan pada Triwulan II 2024 masih lebih tinggi 18,24 % dibandingkan periode yang sama tahun 2023, menunjukkan tetap adanya daya dorong positif yang ditengarai disebabkan oleh momen libur Lebaran yang jatuh pada triwulan ini.

Pada Triwulan III, penerimaan pajak hotel kembali meningkat secara triwulanan sebesar 20,79 % dibanding Triwulan II. Namun secara tahunan justru terjadi penurunan yang cukup signifikan yaitu -42,17 % dibandingkan Triwulan III tahun 2023. Penurunan ini kemungkinan besar dipicu oleh berkurangnya event atau perhelatan skala besar pada periode tersebut, dibandingkan tahun sebelumnya yang mungkin lebih padat agenda. Adapun Triwulan IV 2024 mencatat penerimaan tertinggi sepanjang tahun yaitu naik 11,42 % dibanding Triwulan III, walaupun jika dibandingkan tahun sebelumnya masih mengalami penurunan sebesar -10,29 % . Kenaikan pada triwulan ini diduga kuat terkait dengan momentum libur sekolah, Natal, dan Tahun Baru (Nataru) yang memang menjadi periode puncak aktivitas perhotelan.

Secara total, sepanjang tahun 2024 pemerintah daerah menerima Rp1.735.186.789 dari pajak hotel. Angka ini cukup menggembirakan, apalagi jika melihat bahwa tren cenderung meningkat secara konsisten dari TW II ke TW IV. Artinya, meski durasi menginap menurun, frekuensi tamu yang datang dan menginap meningkat, sehingga tetap memberikan kontribusi yang nyata terhadap pendapatan asli daerah (PAD). Jika dikumulatifkan, pajak hotel menyumbang 2,81 persen dari total penerimaan pajak pada tahun 2024. Angka yang mencerminkan kontribusi yang cukup dipertimbangkan akan eksistensi jasa perhotelan.

Kita dapat menarik beberapa kesimpulan awal dari pola ini. Pertama, jumlah kunjungan ke hotel meningkat secara signifikan, yang merupakan kabar baik bagi pengusaha perhotelan dan pelaku UMKM di sektor penunjang. Kedua, karakteristik kunjungan masih cenderung singkat, yang menunjukkan tantangan tersendiri bagi pelaku wisata dalam mengembangkan keunikan dan destinasi yang mampu memperpanjang masa tinggal tamu. Bagi Kabupaten OKU, ini menandakan perlunya strategi yang lebih agresif untuk memperpanjang masa tinggal wisatawan, misalnya melalui pengembangan paket wisata terintegrasi yang mempromosikan keindahan alam dan budaya lokal. Selain itu, tantangan lain datang dari kurangnya promosi pariwisata yang efektif. Meskipun Kabupaten OKU memiliki potensi wisata alam seperti Goa Putri, arung jeram Belanting di sungai Ogan, serta air terjun-air terjun yang tersembunyi di kecamatan Ulu Ogan, daya tarik ini belum sepenuhnya tergarap dan harus menjadi perhatian khusus bagi pemerintah. Dikarenakan wisatawan masih cenderung memilih destinasi yang lebih populer di luar OKU, seperti Palembang, Danau Ranau di Kabupaten tetangga yakni OKU Selatan atau daerah pesisir laut seperti Liwa dan Krui yang termasuk dalam Kabupaten Lampung Pesisir Barat.

Perkembangan sektor lain di Kabupaten OKU juga berpotensi mendukung peningkatan daya tarik wisatawan. Salah satunya adalah industri makanan dan minuman khas daerah, seperti kerupuk kulit, keripik olahan ikan, kipang kacang, dodol, bubuk kopi premium dan aneka jajanan tradisional lainnya. Produk-produk ini dapat dikembangkan menjadi oleh-oleh khas OKU, sehingga wisatawan yang berkunjung tidak hanya menginap, tetapi juga membawa pulang cendera mata khas daerah. Potensi ini sekaligus membuka peluang pertumbuhan pendapatan bagi pelaku UMKM lokal, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat basis ekonomi kerakyatan.

Selain itu, proses urbanisasi di Kabupaten OKU juga mulai menunjukkan dampaknya. Munculnya pusat-pusat hiburan baru, seperti mall, kafe, tempat karaoke, bioskop dan berbagai tempat rekreasi modern lainnya, memberi warna tersendiri dalam perkembangan wajah kota. Fasilitas-fasilitas ini bukan hanya dinikmati oleh warga lokal, tetapi juga menarik minat masyarakat dari Kabupaten tetangga untuk berkunjung ke OKU, baik untuk berbelanja, bersantai, maupun mengisi waktu luang. Fenomena ini tentu berpotensi meningkatkan angka kunjungan dan lama menginap, khususnya pada akhir pekan atau musim libur panjang.

Secara keseluruhan, data ini menunjukkan adanya optimisme di tengah tantangan. Meskipun terdapat penurunan secara tahunan di Triwulan III dan IV, pertumbuhan signifikan pada awal tahun menunjukkan sinyal positif pemulihan industri perhotelan di Kabupaten OKU. Ditambah dengan pengembangan sektor makanan khas daerah dan bertambahnya fasilitas urban, sektor pariwisata dan jasa di OKU berpeluang tumbuh lebih pesat di masa mendatang.

Optimisme untuk Masa Depan
Dari sudut pandang pembangunan daerah, tren ini patut disambut dengan optimisme. Peningkatan TPK dan pajak hotel adalah sinyal bahwa OKU mulai menunjukkan daya tariknya kembali. Setelah terpuruk akibat pandemi COVID-19, banyak sektor ekonomi daerah kini kembali menemukan napasnya. Sektor jasa, perdagangan, dan pariwisata mulai menunjukkan geliat yang positif.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved