Opini
Optimalisasi Amal Ibadah di Bulan Muharram
Bulan Muharram adalah termasuk salah satu dari empat bulan yang dimuliakan. Bulan Muharram disebut juga dengan Syahrullah (bulannya Allah).
Dalam Islam, tathayyur diklasifikasikan sebagai bentuk takhayul dan termasuk dalam hal yang harus dihindari.
Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ghoffar Ismail, menegaskan bahwa Muhammadiyah dengan tegas menolak kepercayaan terhadap mitos-mitos yang tidak memiliki dasar syariat maupun logika.
Ia menyebutkan bahwa mitos-mitos tersebut termasuk dalam tathayyur, takhayul, dan khurafat.
Apabila secara berlebihan diyakini, hal itu dapat menjadi syirik, yakni menyekutukan Allah, yang menjadi pelanggaran besar dalam akidah Islam.
Meski demikian, pendekatan dalam pemahaman pemahaman masyarakat tidak boleh dilakukan secara konfrontatif.
Dakwah harus disampaikan dengan cara yang bijak, penuh hikmah, serta melalui nasehat yang baik.
Jika terjadi kejadian atau diskusi, maka harus dilakukan dengan cara yang santun dan beradab, sebagaimana ajaran dalam Al-Qur'an tentang mujadalah bil ma'ruf.
Melalui pendekatan tersebut, diharapkan umat Islam dapat memahami dan menghayati makna Bulan Muharram yang sejati tanpa terjebak pada mitos dan keyakinan keliru.
Justru sebaliknya, sepatutnya Muharram menjadi momentum untuk memperkuat ibadah, memperbaiki diri, dan mengokohkan tauhid sebagai fondasi utama kehidupan beragama.
Terlepas dari tradisi dalam bulan Muharram dalam konteks wakwah, dalam bulan Muharram terdapat keutamaan dan amalan ibadah yang disyariatkan pada bulan Muharram di antaranya adalah:
Pertama, memperbayak puasa pada bulan haram khususnya di bulan Muharram, sebagaimana sabda Rasulullah SWT:
“Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah – Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR.Muslim).
Ibnu Rajab Al Hambali mengatakan, “Puasa yang paling utama di antara bulan-bulan haram (Dzulqo'dah, Dzulhijah, Muharram, Rajab) adalah puasa di bulan Muharram (syahrullah)”. (Lathoif Al Ma'arif)
Berdasarkan penjelasan tersebut, kaum muslimin dianjurkan memperbanyak puasa pada bulan Muharram. Memperbanyak puasa bukan berarti berpuasa sebulan penuh.
'Aisyah Radhiyallahu 'anha pernah berkata: َ “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan 5 Ramadhan. Aku tidak pernah melihat dia banyak puasa dalam sebulan kecuali pada bulan Sya'ban.” (HR.Muslim)
Drs H Salman Rasyidin
Mantan Wartawan Sriwijaya Post
Wakil Sekretaris Dewan Pendidikan Sumsel
Puasa di Bulan Haram
puasa arafah
Bulan Muharram
| Sleep Training dan Bayi yang tak Lagi Bangun: Saat Tren Parenting Berubah Jadi Peringatan |
|
|---|
| Serba Serbi Kitab Undang Undang Hukum Pidana Baru |
|
|---|
| Pelecehan Seksual di Dunia Pendidikan, Alarm Darurat Degradasi Moralitas Generasi |
|
|---|
| Memaknai Budaya Dalam Konteks yang Berbeda |
|
|---|
| Opini: Memaknai Budaya Dalam Konteks yang Berbeda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/H-Salman-Rasyidin.jpg)