Opini
Obituari Buya Romli : Selamat Jalan, Guru dan Penuntun Kami
Kontribusi beliau mungkin sudah tak ternilai pada program takmir masjid, membina pemuda, dan sering menjadi tempat bertanya serta penyejuk suasana
Oleh: Dinar Try Akbar
(Ketua IRMA Baiturrahman Komplek Kebun Bunga/Mahasiswa Magister Pengelolaan Lingkungan Universitas Sriwijaya)
SRIPOKU.COM - Malam hari di tengah kemacetan kota Palembang pada 14 Juni 2025, menjelang lantunan adzan Isya berkumandang, dering telfon dari ibu saya berbunyi.
Dengan suara yang sedikit gemetar, “Buya telah meninggal, tolong segera pulang.”
Ibu meminta saya bergegas membersamai di kediaman Buya Romli yang sudah ramai orang menunggu kedatangan jenazah beliau.
Kabar duka tersebut juga dengan cepat tersiar melalui grub pesan singkat baik di grub ronda komplek sampai dengan organisasi.
Kabar yang kita dapatkan, Prof. Dr.H. Romli SA, M.Ag yang biasa disapa Buya Romli telah menghembuskan nafas terakhir pada Sabtu, 14 Juni 2025 pukul 19.17 WIB di RS Muhammadiyah Palembang.
Puluhan bahkan ribuan orang tentu merasakan kehilangan setelah mendengar kabar tersebut.
Kabar duka menyelimuti Palembang dan khususnya Komplek Kebun Bunga, atas wafatnya Buya Romli, seorang ulama, akademisi, dan guru kehidupan yang tak hanya dihormati di ruang-ruang ilmiah, mimbar kehormatan di organisasi persyarikatan Muhammadiyah, tetapi juga dicintai dalam keseharian warganya.
Obituari ini ingin coba mengenang sisi lain Buya Romli dalam kehidupan sehari-harinya sebagai warga perumahan biasa, memutar kembali memori ditengah kesedihan untuk mencatat pengalaman selama berinteraksi dan bertatap muka dengan Buya, mungkin tulisan kecil ini tidak akan cukup menggambarkan sosok nya yang besar.
Beliau berpulang ke rahmatullah meninggalkan warisan ilmu, teladan, dan kasih yang tak ternilai bagi siapa pun yang pernah mengenalnya. Sosoknya yang begitu sederhana, ramah, dan mudah didekati membuatnya begitu lekat di hati masyarakat.
Sempat ada pertanyaan, kenapa Buya Romli tidak pilih tinggal di perumahan elit tapi masih saja nyaman tinggal di perumahan yang lorong nya sempit, bahkan parkir mobil saja sulit. Tapi begitulah Buya Romli yang sederhana dan juga dicintai warganya.
Di lingkungan Komplek RSS Kebun Bunga, Buya Romli bukan sekadar tokoh masyarakat yang namanya sudah begitu besar di Sumatera Selatan. Mungkin banyak juga yang tidak tahu beliau pernah lama menjadi ketua takmir Masjid Baiturrahman Kebun Bunga, sampai menjadi Penasihat dan Pembina dari sebuah masjid yang berdiri di gang kecil yang tidak jauh dari tempat beliau tinggal.
Pengabdian yang paripurna dari guru besar di bangku perkuliahan, ketua persyaritan Muhammadiyah tingkat provinsi sampai dengan di level rukun tetangga, beliau hadir untuk semua .
Buya Romli adalah tetangga yang tidak pernah absen dan tidak menjaga jarak pada kehidupan masyarakat disekitarnya, beliau hadir sebagai suluh peradaban dalam kehidupan warga.
| Hati-hati dengan Diskon! |
|
|---|
| Digitalisasi Perbankan: Efisiensi Operasional atau Ancaman Keamanan Siber? |
|
|---|
| IHSG Awal 2026 Merosot Tajam: Mengapa Ini Justru Momentum Emas bagi Investor Jangka Panjang? |
|
|---|
| Menyelamatkan Masa Depan Santri: Agenda Mendesak Pembenahan Sistem Pesantren |
|
|---|
| Sawah Digital yang Gersang: Gajah di Tengah Ladang Kemarau |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/DINAR.jpg)