Opini
Palembang Makin Panas dan Lembap, Saatnya Kita Melek Iklim dan Peduli Air
Dari Juni hingga September, langit Sumsel diperkirakan akan lebih sering cerah, suhu udara melonjak, dan kelembapan pun menyesakkan.
Pemerintah harus berhenti membiarkan tata ruang dikendalikan kepentingan jangka pendek. Tak boleh ada lagi reklamasi rawa-rawa atau pengeringan situ demi kompleks perumahan. Jika tidak, kita sedang menggali lubang bagi generasi mendatang yaitu lubang kering yang tak ada airnya.
Perubahan iklim adalah kenyataan, dan kota-kota besar seperti Palembang berada di garis depan dampaknya. Tapi sekaligus, kota juga punya peluang menjadi pusat inovasi dan gerakan perubahan.
Sistem pengelolaan air berbasis masyarakat, infrastruktur hijau seperti taman resapan dan danau buatan, serta pendidikan iklim di sekolah-sekolah harus menjadi prioritas.
Media pun punya tanggung jawab: tidak hanya memberitakan banjir saat terjadi, tapi juga mengedukasi mengapa itu bisa terjadi dan apa yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya.
Jika Palembang ingin tetap layak huni di tengah krisis iklim, maka kita harus menjadikan cuaca dan air sebagai isu utama pembangunan.
Kita tak butuh jargon “smart city” jika kota ini masih membuang limbah rumah tangga ke sungai.
Kita tak butuh gedung-gedung tinggi jika kaki kita tenggelam oleh genangan. Kita butuh kota yang cerdas dalam membaca tanda-tanda alam, dan yang lebih penting: kota yang bijak dalam menjaga air sebagai sumber kehidupan. (*)
| Dari Kayuagung ke Moskow, Perjalanan Anak Sumsel Mengubah Nasib di Rusia |
|
|---|
| Menziarahi Reruntuhan Makna: Ketika Sejarah "Dikhianati" Demi Seremonial Belaka |
|
|---|
| Hati-hati dengan Diskon! |
|
|---|
| Digitalisasi Perbankan: Efisiensi Operasional atau Ancaman Keamanan Siber? |
|
|---|
| IHSG Awal 2026 Merosot Tajam: Mengapa Ini Justru Momentum Emas bagi Investor Jangka Panjang? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Muhammad-Hakiem-Sedo-Putra.jpg)