Opini
Palembang Makin Panas dan Lembap, Saatnya Kita Melek Iklim dan Peduli Air
Dari Juni hingga September, langit Sumsel diperkirakan akan lebih sering cerah, suhu udara melonjak, dan kelembapan pun menyesakkan.
Oleh: Muhammad Hakiem Sedo Putra, S.T., M.T.
(Dosen dan Peneliti pada Program Studi Rekayasa Tata Kelola Air Terpadu, Institut Teknologi Sumatera)
SRIPOKU.COM - Musim kemarau mulai mengetuk pintu Palembang. Dari Juni hingga September, langit Sumatera Selatan (Sumsel) diperkirakan akan lebih sering cerah, suhu udara melonjak, dan kelembapan pun menyesakkan.
Tapi jangan salah, "kemarau" hari ini tak seperti dulu. BMKG bahkan menyebut kemarau tahun ini sebagai kemarau basah—yang artinya, meski musim kering, hujan masih bisa turun deras sewaktu-waktu, acak dan tak terduga.
Fenomena ini bukan sekadar anomali cuaca. Ini adalah peringatan dari alam bahwa kita sedang hidup di tengah krisis iklim, dan Palembang bukan pengecualian.
Di kota yang dibelah Sungai Musi ini, kita sering merasa dikepung dua bencana, yaitu kekeringan saat kemarau dan banjir saat hujan turun deras.
Ironisnya, dua hal ini punya akar masalah yang sama yaitu tata kelola lingkungan yang belum berpihak pada keberlanjutan.
Permukiman tumbuh tanpa kendali di bantaran sungai, rawa dan daerah resapan berubah jadi beton dan pusat komersial, sementara limbah domestik dan industri masih bebas mencemari anak-anak sungai.
Kita bicara tentang air seolah itu soal pipa dan pompa, padahal ini soal kehidupan. Air bukan hanya soal teknis, melainkan soal etika, budaya, dan masa depan.
Palembang hari ini tengah menghadapi dua tekanan besar seperti perubahan iklim global dan degradasi lingkungan lokal.
Ketika suhu meningkat, kelembapan tinggi, dan curah hujan tak menentu, maka pola konsumsi air masyarakat dan daya dukung sumber daya alam pun ikut goyah.
Kekeringan bisa merambah ke sumber air bersih, sementara banjir bisa merusak jaringan sanitasi dan memperparah penyakit berbasis air.
Kita sedang berada di masa transisi yang menuntut keputusan-keputusan radikal apakah kita tetap abai dan terus menanggung risiko, atau berubah dan mulai membangun kota yang adaptif terhadap iklim.
Masyarakat punya peran kunci. Kita tidak bisa hanya menunggu pemerintah menyelesaikan semuanya. Butuh perubahan pola pikir kolektif, bahwa air bukan sesuatu yang bisa diambil sesuka hati tanpa mengembalikannya ke alam.
Sudah saatnya warga kota mulai menampung air hujan di rumahnya, membatasi pemakaian air bersih untuk kegiatan tidak esensial, dan menolak pembangunan yang merusak kawasan hijau.
| Meningkatkan Keakuratan Hasil Sensus Ekonomi 2026 Melalui Ground Check |
|
|---|
| Sleep Training dan Bayi yang tak Lagi Bangun: Saat Tren Parenting Berubah Jadi Peringatan |
|
|---|
| Serba Serbi Kitab Undang Undang Hukum Pidana Baru |
|
|---|
| Pelecehan Seksual di Dunia Pendidikan, Alarm Darurat Degradasi Moralitas Generasi |
|
|---|
| Memaknai Budaya Dalam Konteks yang Berbeda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Muhammad-Hakiem-Sedo-Putra.jpg)