Opini

Sindrom dan Kecemasan Masyarakat Indonesia Sepanjang Tahun 2024

DALAM sebuah novel yang berjudul “Japanse Steenhower, Pemecah Batu Jepang” yang ditulis oleh Max Havelaar, yang diceritakan kembali oleh Eduard.

Editor: Yandi Triansyah
Dokumen Pribadi
A. Rifai Abun Ketua Program Studi doktor Manajemen Pendidikan Islamdan Pengajar Tetap Filsafat Ilmu Management Strategis Universitas Islam An Nur Lampung 

Keempat, walaupun miskin wawasan, namun ia sangat licik dan pandai memanipulasi orang. Di Indonesia pada 2024, pengidap sindrom ini menggunakan penegak hukum secara ilegal untuk menekan lawan-lawan politiknya.

Ia pandai menipu dan mencuri, namun lemah dalam keluhuran serta wawasan dunia.

Kelima, kelicikan juga dipakai untuk menipu masyarakat. Pengidap Sindrom ini pura-pura lugu. Ia pura-pura polos dan tak bersalah. Ini adalah cara untuk membangun pencitraan palsu, guna menutupi segala kebusukan yang ada di hati dan pikirannya.

Keenam, yang juga berbahaya, Sindrom ini menular. Keluarganya ikut terkena imbas keserakahan, dendam, ambisi dan mental koruptif yang bercokol di hatinya.

Di 2024, kita menyaksikan gaya hidup mereka yang menjijikan. Tanpa rasa malu, mereka mencuri, menipu dan bergaya hidup mewah di tengah lautan kemiskinan rakyat Indonesia.

Ketujuh, pengidap Sindrom ini memiliki hati yang hampa. Pengalaman kemiskinan, ketertindasan serta kemalasan untuk belajar membuat batinnya tersiksa.

Ia pun mengisi batinnya dengan kekuasaan dan kemewahan semu. Di dalam sejarah Indonesia, si pengidap sindrom ini akan tercatat sebagai pengkhianat republik.

Kedelapan, dari sudut teori transformasi kesadaran yang saya kembangkan, pengidap Sindrom seperti si tukang Batu ini terjebak pada kesadaran distingtif-dualistik.

Ini adalah tingkat kesadaran yang paling rendah. Ia melihat kelompok lain yang berbeda sebagai musuh. Ia mencari keuntungan dengan mengorbankan kepentingan orang lain. Derita dan konflik adalah buahnya.

Kesembilan, karena hampa hati dan miskin wawasan, si pengidap Sindrom seperti ini selalu mencari pengakuan. Ia membangun proyek yang tak masuk akal, tanpa faedah yang jelas, dan justru merugikan orang. Ia mencari pengalihan dari kedangkalan batin dan pikirannya.

Sekarang, kita mesti berkaca, apakah kita mengidap Sindrom seperti tukang batu? Apakah kesembila ciri di atas melekat di batin kita? Ini adalah saatnya untuk bersikap reflektif. Jika ya, maka kita harus segera melakukan beragam cara untuk melenyapkannya. (*)

 

Sumber:
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved