Opini

Sindrom dan Kecemasan Masyarakat Indonesia Sepanjang Tahun 2024

DALAM sebuah novel yang berjudul “Japanse Steenhower, Pemecah Batu Jepang” yang ditulis oleh Max Havelaar, yang diceritakan kembali oleh Eduard.

Tayang:
Editor: Yandi Triansyah
Dokumen Pribadi
A. Rifai Abun Ketua Program Studi doktor Manajemen Pendidikan Islamdan Pengajar Tetap Filsafat Ilmu Management Strategis Universitas Islam An Nur Lampung 

Oleh: A. Rifai Abun

Ketua Program Studi doktor Manajemen Pendidikan Islamdan Pengajar Tetap Filsafat Ilmu Management Strategis Universitas Islam An Nur Lampung

SRIPOKU.COM - DALAM sebuah novel yang berjudul “Japanse Steenhower, Pemecah Batu Jepang” yang ditulis oleh Max Havelaar, yang diceritakan kembali oleh Eduard Douwes Dekker, alias Multatuli, bahwa dahulu ada seorang pekerja “pemecah batu” yang tidak puas dengan kehidupannya dan bermetamorfosis menjadi seorang raja, yang kemudian menjandi miskin kembali, dan ini merupakan gambaran ketamakan politik pejabat-pejabat Hindia Belanda atau ketamakan imperialis.

Sepanjang tahun 2024 hingga saat ini, kehidupan kita hamper dalam berbagai lini mengalami sebuah “kecemasan” dan ini merupakan penyakit baru yang mewabah di Indonesia, dan hal ini dirasakan betul oleh generasi yang lahir di tahun 2000 an. Penyakit baru ini merupakan sebuah sindrom seperti seorang pemecah batu Jepang, yang satu sama lain saling berhubungan dan bahkan membentuk suatu pola.

Penyakit tersebut telah menyerang pikiran manusia Indonesia dan berimplikasi ke dalam prilaku seseorang. Munculnya penyakit tersebut, puncaknya di tahun 2024, yang dipicu oleh proses rekrutmen pimpinan dan/atau pejabat – yang merupakan pengkhianatan besar terhadap proses demokratisasi di Indonesia, sebagai  sebuah ketamakan para elit politik.

Wujud dari sindrom dan/atau kecemasan tersebut terutama yang dirasakan oleh generasi yang lahir di tahun 2000-an di atas, berupa sempitnya dan/atau terbatasnya lapangan kerja, deretan kemiskinan bertambah panjang, korupsi dan ketidak adilan terpapar begitu gamblang dihadapan kita yang sudah menjadi pandangan keseharian.

Implikasi dari itu lahirlah sebuah keterbatasan dikalangan masyarakat bawah hidup menjadi sulit, tantangan dan persaingan semakin kentara.

Sementara, ditengah kehidupan semacam itu muncul fenomena kehidupan lain, terutama di lingkaran elit politik hidup dalam berkecukupan, bergelimangnya harta kekayaan dan kemewahan.

Dalam tulisan ini, paling tidak bentuk-bentuk dari sindrom dan atau kecemasan tersebut, terdapat sembilan varian. Pertama, kebanyakan orang lahir dari situasi kemiskinan dan bahkan ketertindasan, dan seluruh hidupnya hanya dipandang dengan sebelah mata.

Hal ini telah memunculkan sikap predator, dendam dan atau ambisi untuk meraup kekayaan dan kekuasaan dengan segala cara. Kemiskinan dan kertertindasan tersebut, sebagian orang mengololanya untuk dijadikan jalan guna mencapai pencerahan dan pembebasan. Namun, sebagian orang tetap berkubang di dalamnya dengan berbagai pertimbangan.

Kedua, sindrom yang dialami oleh manusia seperti digambarkan di atas berimplikasi terhadap kehidupannya yang selau tidak merasa puas, hatinya terbakar penuh dengan kebencian.

 Ia selalu merasa tidak puas dengan kehidupannya. Ia tidak bisa menerima keadaan sebagaimana adanya dengan kebijaksanaan. Sesungguhnya, ia hidup bagaikan di dalam neraka, karena api dendam dan ambisi yang berkobar di dalam hatinya.

Ketiga, pengidap sindrom ini tidak cerdas. Ia tidak suka dan terbiasa membaca. Tidak mampu berpikir kritis dan realistis, dan sistematis.

Ia tidak memiliki wawasan sejarah maupun pengetahuan yang luas. Ketika ditanya, berbagai persoalan yang muncul di hadapannya, ia hanya menjawab sekedarnya, dan ini ciri-ciri orang yang malas berpikir.

Tidak ada informasi dan pengetahuan di dalam kepalanya. Pengidap Sindrom ini miskin wawasan, sehingga tidak mampu membangun argumen yang meyakinkan dan mencerahkan.

Keempat, walaupun miskin wawasan, namun ia sangat licik dan pandai memanipulasi orang. Di Indonesia pada 2024, pengidap sindrom ini menggunakan penegak hukum secara ilegal untuk menekan lawan-lawan politiknya.

Ia pandai menipu dan mencuri, namun lemah dalam keluhuran serta wawasan dunia.

Kelima, kelicikan juga dipakai untuk menipu masyarakat. Pengidap Sindrom ini pura-pura lugu. Ia pura-pura polos dan tak bersalah. Ini adalah cara untuk membangun pencitraan palsu, guna menutupi segala kebusukan yang ada di hati dan pikirannya.

Keenam, yang juga berbahaya, Sindrom ini menular. Keluarganya ikut terkena imbas keserakahan, dendam, ambisi dan mental koruptif yang bercokol di hatinya.

Di 2024, kita menyaksikan gaya hidup mereka yang menjijikan. Tanpa rasa malu, mereka mencuri, menipu dan bergaya hidup mewah di tengah lautan kemiskinan rakyat Indonesia.

Ketujuh, pengidap Sindrom ini memiliki hati yang hampa. Pengalaman kemiskinan, ketertindasan serta kemalasan untuk belajar membuat batinnya tersiksa.

Ia pun mengisi batinnya dengan kekuasaan dan kemewahan semu. Di dalam sejarah Indonesia, si pengidap sindrom ini akan tercatat sebagai pengkhianat republik.

Kedelapan, dari sudut teori transformasi kesadaran yang saya kembangkan, pengidap Sindrom seperti si tukang Batu ini terjebak pada kesadaran distingtif-dualistik.

Ini adalah tingkat kesadaran yang paling rendah. Ia melihat kelompok lain yang berbeda sebagai musuh. Ia mencari keuntungan dengan mengorbankan kepentingan orang lain. Derita dan konflik adalah buahnya.

Kesembilan, karena hampa hati dan miskin wawasan, si pengidap Sindrom seperti ini selalu mencari pengakuan. Ia membangun proyek yang tak masuk akal, tanpa faedah yang jelas, dan justru merugikan orang. Ia mencari pengalihan dari kedangkalan batin dan pikirannya.

Sekarang, kita mesti berkaca, apakah kita mengidap Sindrom seperti tukang batu? Apakah kesembila ciri di atas melekat di batin kita? Ini adalah saatnya untuk bersikap reflektif. Jika ya, maka kita harus segera melakukan beragam cara untuk melenyapkannya. (*)

 

Sumber:
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved