Mendidik Moral Pancasila Untuk Meneguhkan Karakter Islami
PERGULATAN pembentukan ideologi Pancasila negara di Indonesia telah melewati sejarah panjang. Dan proses demikian telah melalui diskusi
Kecenderungan penetrasi budaya Barat yang liberal yang tanpa sadar semakin banyak gandrungi kaum millineal Indonesia merupakan bukti pelemahan edukasi nilai-nilai moral Pancasila.
Perilaku hidup bebas, kurang memperdulikan dan tidak menganggap penting tradisi dan praktik keagamaan, serta menjauhi pola-pola hidup santun dan memperhatikan adab merupakan bentuk-bentuk sikap hidup yang mulai menjauh dari sistem nilai Pancasila.
Fakta pelemahan karakter ini sangat mungkin disebabkan oleh model dan pendekatan edukasi yang lebih bersifat normatif dan belum menyentuh aspek substansial dari pengajaran moral Pancasila.
Jangan lupa Like fanspage Facebook Sriwijaya Post di bawah ini:

Problem metodologis adalah masalah mendasar yang perlu ditemukan solusinya untuk meningkatkan efektifan pendidikan moral di berbagai level institusi.
Model pendidikan karakter dengan pendekatan role model yang sejak lama ditunjukkan kalangan pesantren melalui uswah dan contoh teladan para kiai menjadi penting dipertimbangkan kembali sebagai metodologi pendidikan yang efektif.
Negeri ini masih membutuhkan contoh nyata sikap takwa, peduli, beradab, sederhana, bertanggung jawab, dan adil dari semua pranata sosial. Sosok orang tua, guru, tokoh masyarakat, pimpinan, dan pejabat apapun posisinya harus menjadi teladan bagi siswa, anak-anak, dan warga masyarakat lainnya.
Dengan demikian, proses pembumian Pancasila dan penguatan karakter warga bangsa akan lebih cepat terlihat implementasi.
Penting ditegaskan bahwa musuh besar Pancasila adalah sikap ketidakadilan, kezaliman, penindasan, kebodohan, dan semua perilaku koruptif. Posisi agama dengan seperangkat nilai normatif luhur di dalamnya menjadi roh dari Pancasila atau sebagai soko guru utama Pancasila.
Karena itu, tanpa eksistensi agama maka Pancasila menjadi kehilangan sisi ruhaniyah yang maha penting. Sementara itu, aktualisasi agama akan sulit dihargai di negeri ini jika tidak ada eksistensi Pancasila sebagai konsensus bersama yang menghargai semua perbedaan dalam kesatuan (unity in diversity).
Akhirnya sungguh pantas untuk menegaskan bahwa Pancasila dan Agama bagi masyarakat nusantara adalah seperti dua sisi mata uang. Tanpa sisiyang satu, maka mata uang akan tidak bernilai. Wallahu a’lam bi al-Shawwab !
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/abdurrahmansyah2-abdurrahmansyah1-abdurrahmansyah.jpg)