Mendidik Moral Pancasila Untuk Meneguhkan Karakter Islami
PERGULATAN pembentukan ideologi Pancasila negara di Indonesia telah melewati sejarah panjang. Dan proses demikian telah melalui diskusi
Bahkan para santri ajarkan secara aktual melalui keteladanan para kiai dan ulama untuk bersikap takwa, adil, peduli sesama, beradab, dan menjaga kebersamaan.
Mengajarkan hakikat Pancasila secara substantif sesungguhnya akan melahirkan sosok manusia Indonesia dengan karakteristik kepribadian yang unik berupa perilaku kesantunan dan keadaban yang kuat.
Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

Keunikan lain dari nilai-nilai Pancasila adalah kandungan universalitas nilai yang diakui oleh semua konsep dan sistem nilai pada semua agama secara substantif.
Karena itu, menolak prinsip-prinsip dasar Pancasila sama dengan menolak nilai-nilai substansi dan prinsip-prinsip moral universal pada semua agama.
Kelompok-kelompok yang masih mempertentangkan Pancasila dengan nilai dan prinsip dasar moralitas Islam dapat dipastikan terindikasi sebagai kelompok gerakan (harakah) yang menghajatkan sisi-sisi kekuasaan politik semata dan sama sekali tidak berdasarkan pemahaman akademik dari sisi keilmuan Islam.
Dari perspektif akhlak Islam, kesadaran untuk mentauhidkan Allah menempatkan posisi tertinggi yang dari situ muncul pencapaian perilaku adil dan melihat sisi kemanusiaan sebagai obyek untuk dilayani dengan santun dan beradab.
Manusia Islam tidak dianggap memiliki kualitas iman yang utuh jika membiarkan manusia lainnya menderita tanpa menunjukkan
kepedulian sebagai sesama. Karena itu, sikap kebersamaan (togetherness) sebagai manusia selalu muncul sebagai wujud kesadaran batin bahwa kita semua adalah satu, baik sebagai bangsa (nation) maupun sebagai insan (human being).
Keragaman dan kebhinekaan manusia dalam satu ikatan bangsa membutuhkan kerendahan hati untuk saling mendengar dan menerima pandangan dalam sebuah proses dialog besar melalui forum musyawarah untuk mencapai kesepakatan bersama.
Tradisi dialogis untuk memecahkan semua problem kemasyarakatan dan kebangsaan pasti akan melahirkan perasaan keadilan dan selalu merasa terlibat dan dilibatkan dalam setiap urusan.
Jangan lupa subscribe, like dan share channel TikTok Sriwijayapost di bawah ini:

Komitmen sikap batin dan prinsip moral yang dirangkai oleh sila-sila dalam Pancasila sungguh anggun untuk diedukasi dan dipraktikkan secara terus menerus dalam kehidupan bermasyarakat.
Meneguhnya pendidikan moral Pancasila, selain sangat relevan dan cocok dengan konsep moral semua agama, juga untuk menegaskan bahwa sistem moral bangsa Indonesia berbeda dengan sistem moral negara lain yang bercorak komunis atau liberal.
Karena itu, posisi pengembangan karakter warga bangsa Indonesia tidak boleh merujuk begitu saja kepada sisi karakter liberal atau karakter anti agama secara ekstrim dan sepihak.
Paradigma pendidikan karakter manusia Indonesia harus mengacu pada nilai agama, kemanusiaan, kebersamaan, dialog, dan keadilan. Dengan demikian, semua konsep karakter dan sistem nilai yang tidak menghormati agama, tidak menghargai hak-hak asasi manusia, tidak beradab, mengupayakan perpecahan, dan merasa benar sendiri secara tidak adil adalah bertentangan dengan konsep dan paradidma pengembangan karakter manusia Pancasila.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/abdurrahmansyah2-abdurrahmansyah1-abdurrahmansyah.jpg)