Peluang Media Massa di Balik Kegamangan (Calon) Mahasiswa
Sejak sebulan lalu, keluarga yang punya anak di kelas tiga SMA/MAN, dibuat sibuk memikir-kan pilihan apa yang pas untuk anaknya di perguruan tinggi.
Lalu, kalau kita kaitkan dengan kondisi generasi muda yang akan kuliah dan sudah menamatkan program sarjana tadi, pernahkah kita memberi kesempatan dan peluang kepadanya untuk bersuara, memberikan pendapat dan pemikiran?
Apakah yang mereka harapkan dari media massa?
Jika media massa tidak pernah melakukan survei kepada pembaca, khususnya generasi muda (siswa dan mahasiswa, serta sarjana), maka media massa tetap asing bagi mereka.
Harus kita sadari, bahwa media massa itu adalah jembatan bagi siswa, mahasiswa, sarjana un-tuk memasuki dunia perguruan tinggi dan dunia kerja.
Ketika siswa butuh gambaran dunia kerja ke depan dan gambaran perguruan tinggi, maka hendaknya media massa mengkomunikasikan kebutuhan mereka akan itu.
Peranan media massa dalam menjembatani kepentingan pembangunan dan generasi muda ini. Menurut saya, bertumpu kepada asumsi dasar yang sederhana, bahwa intervensi selama masa remaja dan pubertas (selama masa peka pembentukan) menyiapkan mereka untuk menjadi orang dewasa yang berguna.
Peranan media massa hendaknya membantu mengkomunikasikan, memberikan arah, dan mendorong para generasi muda untuk ikut aktif dalam pembangunan bangsa dan negara.
Salah satu bentuk yang bisa diaplikasikan oleh media massa adalah dengan mengkomunika-sikan model-model sukses yang kelak akan menginspirasi/ditiru oleh para generasi muda.
Model-model ini dapat berupa sikap, pandangan hidup, maupun usaha yang gigih untuk tetap maju dan berhasil.
Update 6 Maret 2022. (https://covid19.go.id/)
Ketika generasi muda membutuhkan informasi untuk melangkah ke depan ke masa depan ya-ng lebih cemerlang yang belum jelas dan belum pernah mereka tempuh, maka media massa yang dibutuhkan mereka adalah media massa yang menyajikan informasi seperti peluang ke-sempatan kerja, jenis dan macam pekerjaan yang prospektif.
Artinya, informasi yang diberikan adalah informasi yang diperlukan. Informasi tentang karier.
Pemilihan karier setidak-tidaknya harus melalui tiga fase;
(1) mengenali diri sendiri,
(2) fase mengenali pekerjaan yang diperlukan oleh lembaga kerja,
Dan (3) fase menempatkan diri sendiri (true reasoning) yang dihubungkan dengan jenis pekerjaan yang tersedia.
Oleh karena itu, hal-hal yang berhubungan “mengapa” serta “bagaimana” seseorang menetapkan pilihan tentang keterampilan yang akan dikembangkannya sangatlah vital diperhatikan dalam pemberian informasi yang mereka perlukan.
Tanpa informasi yang akurat, maka generasi muda kita sulit diharapkan dapat berkompetisi untuk memasuki dunia kerja yang selalu berubah dan bahkan berubah dengan sangat cepat.
Maka peran media massa yang paling tepat dewasa ini adalah menempatkan diri untuk meng-komunikasikan informasi yang diperlukan tersebut, agar generasi muda dapat melakukan true reasoning dengan masa depannya.
Harus disadari bahwa generasi muda kita dalam kegamangan disebabkan mereka dalam masa transisi ke masa dewasa.
Dan bagi mereka bagai berada di dalam kegelapan.
Mereka meraba-raba untuk mencari jalan yang menjadi harapan atau cita-citanya.
Banyak contoh teladan, bisikan teman, yang mereka serap, namun demikian dapat dipastikan bahwa pada suatu saat mereka perlu pengambil keputusan, jalan mana yang harus ditempuh.
Bagaimana media massa mengaplikasikan kebutuhan informasi untuk generasi muda itu, mu-ngkin ini diskusi panjang.
Akan tetapi, dari dialog-dialog yang saya lakukan, generasi muda butuh gambaran, penjelasan tentang peluang kerja.
Lalu ada profil contoh sukses dengan segala dinamika suka dan dukanya.
Misalnya, industri pertelevisian/perfiman butuh penulis skenario dan atau penulis ide cerita.
Maka, seperti apa prospeknya, bagaimana penghasilan seorang penulis seknario/ide cerita.
Atau, bagi yang ingin jadi pengacara.
Seperti apa prospek profesi tersebut.
Lalu bersamaan dengan itu ada profil pengacara sukses, apa yang mesti dimiliki seorang pengacara untuk sukses, dan sebagainya.
Ada ratusan pekerjaan yang bisa diinformasikan kepada generasi muda.
Bahkan dari hobi pun kalau dikelola dengan baik, juga bisa menjadi pekerjaan.
Banyak contoh sukses yang bisa dipaparkan kepada pembaca kalangan generasi muda.
Bahkan, sebagian dari pekerjaan itu bisa dilakukan di sela-sela kesibukan sebagai siswa dan atau sebagai mahasiswa.
Pengalaman sebuah koran harian di Padang, Sumatera Barat, yakni Padang Ekspres dengan “Laman Sekolah”, “Laman Guru”, “Laman Siswa”, dan “Laman Kampus” adalah contoh yang terbukti mendapat sambutan hangat, sehingga berdampak positif dengan peningkatan oplah koran.
Koran tersebut akhirnya menjadi kebutuhan utama dunia pendidikan, dunia kampus.
Jika digarap dengan profesional, bayangkan potensi besar di depan mata; ada ratusan sekolah dengan puluhan ribu siswa, ada ratusan perguruan tinggi dengan ratusan ribu mahasiswa, adalah pangsa pasar yang besar.
Media massa tak hanya dapat pemasukan dari peningkatan oplah yang cenderung naik dari hari ke hari, dari bulan ke bulan.
Akan tetapi juga pemasukan dari pariwara atau liputan khusus dari sekolah dan kampus, yang antarmereka berkompetisi untuk mendapatkan siswa dan atau mahasiswa baru.
Karena besarnya peluang itu, seorang pemimpin redaksi dalam diskusinya dengan penulis, be-rencana menambah halaman.
Halaman ditambah bukan mengurangi pendapatan, akan tetapi membuat bertambah besarnya pemasukan bagi perusahaan media.
Dalam kondisi sekarang, kreativitas dan inovasi dari pengelola media massa sangat diperlukan. Untuk itu, mari kita lakukan evaluasi.*
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Yurnaldi2-Yurnaldi1-Yurnaldi.jpg)