Peluang Media Massa di Balik Kegamangan (Calon) Mahasiswa

Sejak sebulan lalu, keluarga yang punya anak di kelas tiga SMA/MAN, dibuat sibuk memikir-kan pilihan apa yang pas untuk anaknya di perguruan tinggi.

Tayang:
Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM / Istimewa
Yurnaldi Wartawan Utama, Penulis Buku-buku Jurnalistik Serial wartawan Hebat 

Oleh Yurnaldi
Wartawan Utama, Konsultan Media dan Keterbukaan Informasi Publik, Penulis Buku-buku Serial Jurnalistik Wartawan Hebat

Sejak sebulan lalu, keluarga yang punya anak di kelas tiga SMA/MAN, dibuat sibuk memikir-kan pilihan apa yang pas untuk anaknya di perguruan tinggi.

Pihak sekolah sudah memberikan saran sesuai potensi diri si anak, berdasarkan nilai di raport.

Sementara si anak yang dikunjungi oleh seniornya (alumni) yang kini kuliah di berbagai perguruan tinggi, juga terpengaruh oleh cerita seniornya.

Orangtua juga menyarankan anaknya pilih ini-pilih itu di perguruan tinggi favorit.

Anak-anak yang sebentar lagi menamatkan pendidikan sekolah menengah atas itu, gamang dan dalam ketidakpastian.

Fakta lain, sesaat orangtua meluapkan kebangaan atas wisuda sarjana anaknya di suatu pergu-ruan tinggi.

Harapannya menjadi anak yang berguna, bagi nusa, dan bangsa, serta agama.

Untuk menjadi anak yang berguna itu, si anak yang sarjana juga gamang memikirkan; mau be-kerja apa?

Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:

Apakah peluangnya ada?
Lantas, dari ribuan bahkan puluhan ribu pesaing di peluang yang sama, apakah dia yang bakal diterima?

Sementara di banyak bidang, lowongan pekerjaan di pemerintahan tidak ada. Moratorium penesimaan Aparat Sipil Negera (ASN).

Pencari kerja di bidang pemerintahan menumpuk dalam jumlah yang tidak sedikit.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan angka angkatan kerja per Agustus 2021, naik.

Secara total, penduduk usia kerja ada sebanyak 206,71 juta orang, di mana sebagian besar penduduk usia kerja merupakan angkatan kerja, yairu 140,15 juta orang atau 67,80 persen.

Tercatat jumlah pengangguran per Agustus 2021 sebanyak 9,10 juta orang (sumber www.liputan6.com, diunduh 22/2/22).

Angka pengangguran sebanyak 9,10 juta orang itu, diyakini akan terus bertambah.

Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung dua tahun lebih, membuat banyak sektor mengalami kesulitan.

Sehingga, ada karyawan yang dirumahkan, ada yang di PHK, ada juga yang mungkin di-turunkan gajinya.

Ada juga di antara mereka kemudian banting stir, mencari dan/atau menciptakan peluang kerja dengan mengembangkan hobi/kegemaran. Berwirausaha adalah salah satu pilihan, jika cerdas membaca peluang pasar.

Dalam kondisi kegamangan (calon) mahasiswa dan lulusan sarjana, saya mencermati ada pelu-ang bagi media massa, media arus utama, khususnya media cetak dan media daring.

Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

Logo instagram.com/sriwijayapost/

Tidak saja peluang untuk menambah oplah atau pembaca, tetapi juga peluang iklan yang memungkinkan media massa tetap bisa bertahan di tengah ekonomi yang sulit.

Peluang besar untuk meningkatkan pundi-pundi keuntungan.

Banyak orang meramalkan media massa, khususnya media cetak akan mengalami nasib tragis; gulung tikar atau beralih ke dalam format digital.

Yang digital atau media daring juga banyak, namun kehadirannya juga tidak seperti yang diharapkan.

Kenapa bisa begitu?
Euforia media daring akibat perkembangan dan kemajuan teknologi, memang membuat orang semakin dekat dengan sumber-sumber informasi.

Namun, informasi yang disajikan ke publik/pembaca juga jauh dari harapan.

Fakta tersebut terjadi karena keberadaan media massa sekarang tidak pernah mau tahu dengan kebutuhan pembaca.

Dari ratusan ribu media daring dan ribuan media cetak, hanya dalam hitungan jari sebelah tangan media yang punya tim penelitian dan pengembangan (Litbang), lalu melakukan survei ke pembaca.

Betapa banyak media massa yang dikelola dengan sebatas hobi, daripada tak ada “gawe”.

Tidak banyak media massa yang dikelola secara profesional dan dengan karya jurnalistik yang berkualitas.

Membaca berita dengan bahasa yang kacau, sudah membuat kita tak ingin lagi membuka media daring tersebut. Seleksi alam tetap ada.

Jangan lupa subscribe, like dan share channel TikTok Sriwijayapost di bawah ini:

Logo TikTok Sripoku.com

Pembaca yang cerdas pasti hanya akan membaca media massa yang bisa mencerdaskan pula.

Media massa yang mencerdaskan dalam karya-karya jurnalistiknya pasti banyak informasi yang bermakna, informasi yang menginspirasi, informasi yang memandu dan menjadi solusi dari persoalan masyarakat secara keseluruhan.

Media massa yang sensasional, yang menebarkan hoaks juga ada.

Akan tetapi, yang suka sensasional dan hoaks, lambat laun medianya akan kehilangan pembaca.

Gerakan literasi di mana-mana kini membuat masyarakat semakin cerdas, bisa menilai mana informasi yang berkualitas dan mana yang tidak berkualitas.

Peluang Media Massa
Kecenderungan pers/media massa sekarang –sejak era Orde Baru dan kemudian 22 tahun era Reformasi, kalau kita cermati masih berkutat soal kultur kebendaan, bukan kultur pendapat.

Coba lihat mulai dari kalangan elit, sampai kalangan bawah, rakyat di pedesaan, nilai sosial se-seorang masih diproyeksikan kepada kebendaan, kekayaan, dan kekuasaan.

Seseorang belum dihargai kalau tidak berpakaian yang baik, tidak memiliki rumah mewah, tidak memiliki mobil bagus.

Orang dihargai bukan karena pendapatnya bagus, berguna, dan bermanfaat, tetapi karena siapa yang mengatakan.

Bahkan, ahli jurnalistik Ashadi Siregar (1987) menemukan pula kecenderungan pers yang me-nitikberatkan beritanya pada pendapat-pedapat dari kalangan yang memiliki otoritas.

Jangan lupa Like fanspage Facebook Sriwijaya Post di bawah ini:

Lalu, kalau kita kaitkan dengan kondisi generasi muda yang akan kuliah dan sudah menamatkan program sarjana tadi, pernahkah kita memberi kesempatan dan peluang kepadanya untuk bersuara, memberikan pendapat dan pemikiran?

Apakah yang mereka harapkan dari media massa?

Jika media massa tidak pernah melakukan survei kepada pembaca, khususnya generasi muda (siswa dan mahasiswa, serta sarjana), maka media massa tetap asing bagi mereka.

Harus kita sadari, bahwa media massa itu adalah jembatan bagi siswa, mahasiswa, sarjana un-tuk memasuki dunia perguruan tinggi dan dunia kerja.

Ketika siswa butuh gambaran dunia kerja ke depan dan gambaran perguruan tinggi, maka hendaknya media massa mengkomunikasikan kebutuhan mereka akan itu.

Peranan media massa dalam menjembatani kepentingan pembangunan dan generasi muda ini. Menurut saya, bertumpu kepada asumsi dasar yang sederhana, bahwa intervensi selama masa remaja dan pubertas (selama masa peka pembentukan) menyiapkan mereka untuk menjadi orang dewasa yang berguna.

Peranan media massa hendaknya membantu mengkomunikasikan, memberikan arah, dan mendorong para generasi muda untuk ikut aktif dalam pembangunan bangsa dan negara.

Salah satu bentuk yang bisa diaplikasikan oleh media massa adalah dengan mengkomunika-sikan model-model sukses yang kelak akan menginspirasi/ditiru oleh para generasi muda.

Model-model ini dapat berupa sikap, pandangan hidup, maupun usaha yang gigih untuk tetap maju dan berhasil.

ilustrasi
Update 6 Maret 2022. (https://covid19.go.id/)

Ketika generasi muda membutuhkan informasi untuk melangkah ke depan ke masa depan ya-ng lebih cemerlang yang belum jelas dan belum pernah mereka tempuh, maka media massa yang dibutuhkan mereka adalah media massa yang menyajikan informasi seperti peluang ke-sempatan kerja, jenis dan macam pekerjaan yang prospektif.

Artinya, informasi yang diberikan adalah informasi yang diperlukan. Informasi tentang karier.

Pemilihan karier setidak-tidaknya harus melalui tiga fase;
(1) mengenali diri sendiri,
(2) fase mengenali pekerjaan yang diperlukan oleh lembaga kerja,
Dan (3) fase menempatkan diri sendiri (true reasoning) yang dihubungkan dengan jenis pekerjaan yang tersedia.

Oleh karena itu, hal-hal yang berhubungan “mengapa” serta “bagaimana” seseorang menetapkan pilihan tentang keterampilan yang akan dikembangkannya sangatlah vital diperhatikan dalam pemberian informasi yang mereka perlukan.

Tanpa informasi yang akurat, maka generasi muda kita sulit diharapkan dapat berkompetisi untuk memasuki dunia kerja yang selalu berubah dan bahkan berubah dengan sangat cepat.

Maka peran media massa yang paling tepat dewasa ini adalah menempatkan diri untuk meng-komunikasikan informasi yang diperlukan tersebut, agar generasi muda dapat melakukan true reasoning dengan masa depannya.

Harus disadari bahwa generasi muda kita dalam kegamangan disebabkan mereka dalam masa transisi ke masa dewasa.

Dan bagi mereka bagai berada di dalam kegelapan.

Mereka meraba-raba untuk mencari jalan yang menjadi harapan atau cita-citanya.

Banyak contoh teladan, bisikan teman, yang mereka serap, namun demikian dapat dipastikan bahwa pada suatu saat mereka perlu pengambil keputusan, jalan mana yang harus ditempuh.

Bagaimana media massa mengaplikasikan kebutuhan informasi untuk generasi muda itu, mu-ngkin ini diskusi panjang.

Akan tetapi, dari dialog-dialog yang saya lakukan, generasi muda butuh gambaran, penjelasan tentang peluang kerja.

Lalu ada profil contoh sukses dengan segala dinamika suka dan dukanya.

Misalnya, industri pertelevisian/perfiman butuh penulis skenario dan atau penulis ide cerita.

Maka, seperti apa prospeknya, bagaimana penghasilan seorang penulis seknario/ide cerita.

Atau, bagi yang ingin jadi pengacara.

Seperti apa prospek profesi tersebut.

Lalu bersamaan dengan itu ada profil pengacara sukses, apa yang mesti dimiliki seorang pengacara untuk sukses, dan sebagainya.

Ada ratusan pekerjaan yang bisa diinformasikan kepada generasi muda.

Bahkan dari hobi pun kalau dikelola dengan baik, juga bisa menjadi pekerjaan.

Banyak contoh sukses yang bisa dipaparkan kepada pembaca kalangan generasi muda.

Bahkan, sebagian dari pekerjaan itu bisa dilakukan di sela-sela kesibukan sebagai siswa dan atau sebagai mahasiswa.

Pengalaman sebuah koran harian di Padang, Sumatera Barat, yakni Padang Ekspres dengan “Laman Sekolah”, “Laman Guru”, “Laman Siswa”, dan “Laman Kampus” adalah contoh yang terbukti mendapat sambutan hangat, sehingga berdampak positif dengan peningkatan oplah koran.

Koran tersebut akhirnya menjadi kebutuhan utama dunia pendidikan, dunia kampus.

Jika digarap dengan profesional, bayangkan potensi besar di depan mata; ada ratusan sekolah dengan puluhan ribu siswa, ada ratusan perguruan tinggi dengan ratusan ribu mahasiswa, adalah pangsa pasar yang besar.

Media massa tak hanya dapat pemasukan dari peningkatan oplah yang cenderung naik dari hari ke hari, dari bulan ke bulan.

Akan tetapi juga pemasukan dari pariwara atau liputan khusus dari sekolah dan kampus, yang antarmereka berkompetisi untuk mendapatkan siswa dan atau mahasiswa baru.

Karena besarnya peluang itu, seorang pemimpin redaksi dalam diskusinya dengan penulis, be-rencana menambah halaman.

Halaman ditambah bukan mengurangi pendapatan, akan tetapi membuat bertambah besarnya pemasukan bagi perusahaan media.

Dalam kondisi sekarang, kreativitas dan inovasi dari pengelola media massa sangat diperlukan. Untuk itu, mari kita lakukan evaluasi.*

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved