Tumbuhlah dengan Harum Wahai Anak-anakku!

DALAM satu tahun, kita akan memperingati hari anak sebanyak tiga kali. Setiap tanggal 01 Juni, akan memperingati Hari Anak Internasional.

Tayang:
Editor: Salman Rasyidin
ist
Oleh: Muhammad Walidin, M.Hum 

Bisakah ia dilihat?

Bagaimana mati itu?

Dan lain sebagainya.

Pertanyaan- pertanyaan ini memang terkesan berat karena seharusnya memang belum akan dicerna oleh anak.

Namun, pengarang berusaha memberi contoh cara bagaimana memberikan hak-hak anak akan jawaban yang dibutuhkan.

Caranya dengan membuat analogi-analogi yang mudah dicerna anak.

Misal, ketika ditanya mengapa tokoh anak bisa berbeda agama?

Tokoh ayah mengatakan bahwa karena ayah ibu, nenek kakeknya sudah beragama demikian, maka anak-anak juga akan beragama demikian.

Ketika ditanya yang mana yang lebih baik?

 Pertanyaan ini dijawab bahwa semua agama baik dan setiap orang boleh memilih seperti keputusan untuk memilih mode pakaian.

Terhadap pertanyaan apakah mode pakaian sahabatnya sudah kuno dan mode pakaian tokoh kecil ini adalah yang terbaru, tokoh ayah menjawab tidak ada pakaian yang kuno atau baru.

Semua orang haruslah berpakaian seperti orang tuanya.

Be gitu seterusnya, semua pertanyaan dibuat seringan mungkin agar mampu dicerna oleh akal anak-anak yang masih dalam usia kanak-kanak.

Adalah menarik untuk menghubungkan cerpen di atas dengan pemenuhan hak spiritual anak dalam pendidikan usia dini.

Sejatinya, anak-anak telah memiliki sebuah potensi kecerdasan spiritual.

Menurut Seto Mulyadi, kecerdasan spiritual adalah bagaimana manusia dapat terhubung dengan Sang Pencipta.

Dengan kata lain, kecerdasan spiritual adalah kemampuan manusia untuk mengenali potensi fitrah dalam dirinya serta kemampuan seseorang mengenali Tuhannya yang telah menciptakan sehingga di manapun berada merasa dalam pengawasan Tuhannya.

Dalam penelitiannya, Sinter (2002) menyatakan bahwa potensi-potensi pembawaan spiritual (spiritual trait) pada anak antara lain adalah sifat keberanian, optimisme, keimanan, perilaku konstruktif, empati, sikap memaafkan, dan bahkan ketangkasan dalam menghadapi ama rah dan bahaya.

Semua itu menjadi sifat-sifat spiritual anak-anak sejak usia dini.

Kecerdasan sprititual ini harus diberi ruang-ruangnya oleh orang tua dan guru agar anak-anak bisa menerima hak-haknya serta mengeksplorasi potensi kedahsyatan dirinya sebagaimana pada cerpen Jannat al-Athfal dan tidak salah arah sebagaimana anak-anak dalam novel Aulad Haratina di atas.

Dalam hal pentingnya pemenuhan hak-hak spiritual anak, kita harus ingat apa yang dikatakaan oleh Donah Zohar dan Ian Marshal pada awal tahun 2000; kecerdasan spiritual dapat menjadi sumber motivasi yang memiliki kekuatan maha dahsyat, dan merupakan landasan yang diperlukan untuk memfungsikan intelligence quotient (IQ) dan emosional intelligence (EI) secara efektif bahkan merupakan kecerdasan tertinggi manusia.

Selamat Hari Anak! Tumbuhlah dengan harum anak-anak Indonesia!

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved