Tumbuhlah dengan Harum Wahai Anak-anakku!

DALAM satu tahun, kita akan memperingati hari anak sebanyak tiga kali. Setiap tanggal 01 Juni, akan memperingati Hari Anak Internasional.

Tayang:
Editor: Salman Rasyidin
ist
Oleh: Muhammad Walidin, M.Hum 

Akan tetapi, masya rakat yang menolak karya ini menganggap novel ini sebagai fakta sosial (socio fact); sesuatu yang pernah terjadi layaknya sebuah sejarah, bahkan lebih parah lagi menganggapnya sebagai fakta agama (religous fact) yang seakan melakukan upaya rekonstruksi sejarah agama.

Selama satu pihak memaksakan sudut pandangnya terhadap orang lain, maka kejadian seperti ini akan sangat mungkin terulang kembali terhadap karya yang lain, di tempat yang lain pula.

Karya kedua Najib Mahfuz yang berkaitan dengan tema anak adalah cerpen Jannat al-Athfal (Surga Kanak-Kanak).

Cerpen ini diperan kan oleh tiga orang tokoh, yaitu seorang bapak, ibu, dan anak perempuan berusia sekitar lima tahun.

 Siapapun yang membaca cerpen ini akan mengatakan bertema berat dan sekaligus harus geleng-geleng kepala untuk mengapresiasi usaha Najib Mahfuz memperkenalkan eksistensi manusia, perbedaan, agama, di Tuhan di hadapan anak balita.

Setiap kita; orang tua, sering kali mendapatkan pertanyaan ya ng tidak terduga dari mulut mungil anak-anaknya.

Pertanyaan ini sering dijawab sekenanya oleh para orang tua karena dianggap belum sampai pemahaman anak pada hal tersebut.

Berlainan dengan prinsip di atas, Najib Mahfuz menghadirkan tokoh seorang anak yang cerdas yang memaksa orang tuanya mengernyit kan dahi dan berkeringat untuk sekedar mencari jawaban-jawaban yang sekiranya bisa dicerna oleh akal anak-anak balita.

Pertanyaan nya dimulai dari kejadian sekolah saat terjadi pemisahan kelas ketika ada mata pelajaran agama.

Tokoh kecil ini bertanya mengapa ia dipisahkan dengan Nadia, sahabatnya, ketika pelajaran itu? Dia tidak mau berpisah dan ingin bersama selamanya. 

Tokoh ayah menja wab bahwa karena agama berbeda, maka kelasnya pun berbeda.

Tokoh anak bertanya lagi maksud dari agama ber beda tersebut.

Tokoh ayah menjawab bahwa mereka Islam dan sahabatnya Kristen.

Pertanyaan selanjutnya sungguh membuat tokoh ayah benar-benar berkeringat, seperti: Mengapa saya muslim dan dia Kristen?

Siapakah yang terbaik?

Kalau Kristen dan Islam sama sama menyembah Allah, mengapa beribadahnya harus di ruang berlainan?

Siapakah Allah itu?

Di manakah ia tinggal?

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved