Tumbuhlah dengan Harum Wahai Anak-anakku!

DALAM satu tahun, kita akan memperingati hari anak sebanyak tiga kali. Setiap tanggal 01 Juni, akan memperingati Hari Anak Internasional.

Tayang:
Editor: Salman Rasyidin
ist
Oleh: Muhammad Walidin, M.Hum 

Oborolan kita kali ini akan lebih fokus anak dalam karya sastra, terutama sastra Arab.

Dalam tradisi sastra Arab era 60-90 an, tidak banyak ditemukan karya sastra yang bertema anak.

Salah satu yang pernah menulis tema anak adalah sastrawan Arab asal Mesir, penerima Hadiah Nobel tahun 1988, bernama Najib Mahfuz.

Peserta lomba menggambar dan mewarnai bertajuk Fever Asian Games 2018 di Aula Putri Kembang Dadar, Gedung Badan Pengelola Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD), Provinsi Sumatera Selatan, Sabtu (24/2/2018).
Anak-anak Peserta lomba menggambar dan mewarnai bertajuk Fever Asian Games 2018 di Aula Putri Kembang Dadar, Gedung Badan Pengelola Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD), Provinsi Sumatera Selatan, Sabtu (24/2/2018)./ilustrasi                                                                                                                                                             (SRIPOKU.COM/RM. RESHA A.U)

Pengarang yang lahir pada 11 Desember 1911 dengn nama lengkap Najib Mahfuz Abdul Aziz Ibrahim Ahmad Pasha ini telah melahirkan karya sekitar 70 cerita pendek (dalam 15 antologi cerpen), 46 novel, serta 30 naskah drama.

Atas karya-karya tersebut, ia mendapatkan banyak penghargaan di bidang sastra. Ia meninggal dalam usia 95 tahun pada tanggal 30 Agustus 2006.

Berkaitan dengan tema anak, Najib Mahfuz pernah menulis dua karya sastra.

Pertama, berupa novel berjudul Awlad Haratina (Anak-Anak Kampung Kami) dan kedua, sebuah cerpen berjudul Jannat al-Athfal (Surga Anak-Anak).

Dalam terma bahasa Arab, Al-athfal dan Awlad mengandung pengertian bayi atau anak-anak.

Namun, dalam cerpen dan novel yang telah disebutkan, terma ini dipakai untuk pengertian yang berbeda.

Novel Awlad Haratina berisi tokoh-tokoh anak-anak laki-laki yang sudah besar, sementara Jannat al-Athfal memiliki tokoh bocah wanita sekitar lima tahunan.

Novel Awlad Haratina telah diterjamahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Sengketa oleh penerbit Pustaka Pelajar tahun 1999.

Novel yang pertama kali terbit secara bersambung pada harian al-Ahram pada tahun 1959 pernah menuai kontroversi panas saat diterbit kan sebagai novel pada tahun 1962.

Tak urung, Universitas al-Azhar melarang penerbitan novel ini dan kelompok Islam radikal berusaha membunuhnya pada tahun 1994 karena dituding sesat dan atheis.

Bahkan seorang ulama Mesir garis keras mengatakan bila Najib Mahfuz tidak pernah menulis Aulad Haratina, Salman Rusydi tidak akan pernah berani menulis The Sattanic Verses (1988).

Secara sekilas, novel ini bercerita tentang seorang tokoh kaya dan berkuasa bernama Gabalawi.

Di masa tuanya, ia memutuskan untuk beristirahat dan menyerahkan manajemen tanah wakaf kepada seorang anaknya.

Tanah itu sangat penting bagi orang kampung karena sumber kehidupan bagi mereka.

Akibat sifat tamak dari anaknya yang ingin menguasai tanah secara sepihak tersebut, tanah wakaf ini justru menjadi malapetaka.

Yang menjadi sumber kontorversi novel ini ternyata terletak kemiripan tokoh dan latar certia dengan kisah tertua ummat Islam, yaitu penciptaan Nabi Adam dan konflik turunannya, mulai dari hidup di surga hingga terusir dan beranak pinak di dunia.

Tokoh utama; Gabalawi memiliki karakter seperti Tuhan, sementara tokoh-tokohnya yang dialegorikan sebagai nama-nama nabi, yaitu Adham (Nabi Adam), Jabal (Nabi Musa; peristiwa gunung Sinai), Rifa'ah (Nabi Isa; peristiwa diangkat ke langit), dan Qasim (Nabi Muhammad; putra sulung beliau bernama Qasim). Kesimpulannya, karya ini dianggap penistaan terhadap sejarah dan ajaran Islam.

Sebenarnya, kalangan sastra memaknai hal ini sebagai fakta seni (Art fact) yang bisa dimaknai sebagai kritik sosial.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved