Tumbuhlah dengan Harum Wahai Anak-anakku!
DALAM satu tahun, kita akan memperingati hari anak sebanyak tiga kali. Setiap tanggal 01 Juni, akan memperingati Hari Anak Internasional.
Oleh: Muhammad Walidin, M.Hum
Kaprodi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan HumanioraUIN Raden Fatah Palembang
DALAM satu tahun, kita akan memperingati hari anak sebanyak tiga kali.
Setiap tanggal 01 Juni, kita akan memperingati Hari Anak Internasional.
Bulan depan, tepatnya tanggal 23 Juli, kita akan merayakan Hari Anak Nasional.
Setiap bangsa juga memiliki Hari Anak Nasional masing-masing yang waktunya disesuaikan dengan historisitas setiap negara.
Sedangkan di penghujung tahun kelak, 20 November, ada perayaan Hari Anak Sedunia.
Mengapa harus tiga kali dalam setahun? Tak lain karena setiap hari anak memiliki fokus alarm dan tujuan yang berbeda.
Hari Anak Internasional bertujuan memberikan perlakuan yang tepat kepada anak ketika menghadapi masa-masa sulit (perang, pengungsian, wabah).
Ia juga dimaksudkan agar dunia memastikan anak berkembang dengan baik tanpa adanya eksploitasi dan mengarahkan anak agar meningkatkan skill yang berguna bagi dirinya dan masyarakat.
Hari Anak Nasional lebih memiliki ciri khas ke-Indonesiaan.
Di samping merayakan keriaan anak, peringatan ini lahir berdasarkan Undang-Undang Kesejahteraan Anak yang disahkan pada tanggal 23 Juli 1979.
Perayaan yang diikuti baik pemerintah pusat maupun daerah ini juga sebagai pengingat agar bangsa Indonesia selalu ramah anak.
Hari Anak Sedunia bertujuan untuk menghormati hak-hak anak di seluruh dunia.
Peringatan ini akan menawarkan kepada setiap orang untuk menginspirasi, mengawal, dan memeromosikan hak-hak anak.
Peringatan ini juga diharapkan dapat mengubah paradigma masyarakat dalam memperlakukan anak, terutama untuk turut meningkatkan aspek kebahagiaan dan kesehatan anak di seluruh dunia.
Ketiga perayaan di atas menegaskan kepada kita bahwa anak-anak sebagai aset setiap bangsa harus dipastikan tumbuh kembang, pendidikan, keceriaan, dan kebahagiaan mereka terjamin.
Sebab merekalah nanti yang akan menjadi pemimpin setiap bangsa masa depan.
Bila kehidupan mereka bahagia, maka mereka akan menjadi pendorong utama kebahagiaan dan kedamaian bagi dunia.
Ada banyak media yang digunakan oleh warga dunia dalam memeromosikan hak anak, mulai dari Undang-Undang, iklan, pertunjukan, film, dongeng, dan juga sastra.
Oborolan kita kali ini akan lebih fokus anak dalam karya sastra, terutama sastra Arab.
Dalam tradisi sastra Arab era 60-90 an, tidak banyak ditemukan karya sastra yang bertema anak.
Salah satu yang pernah menulis tema anak adalah sastrawan Arab asal Mesir, penerima Hadiah Nobel tahun 1988, bernama Najib Mahfuz.
Pengarang yang lahir pada 11 Desember 1911 dengn nama lengkap Najib Mahfuz Abdul Aziz Ibrahim Ahmad Pasha ini telah melahirkan karya sekitar 70 cerita pendek (dalam 15 antologi cerpen), 46 novel, serta 30 naskah drama.
Atas karya-karya tersebut, ia mendapatkan banyak penghargaan di bidang sastra. Ia meninggal dalam usia 95 tahun pada tanggal 30 Agustus 2006.
Berkaitan dengan tema anak, Najib Mahfuz pernah menulis dua karya sastra.
Pertama, berupa novel berjudul Awlad Haratina (Anak-Anak Kampung Kami) dan kedua, sebuah cerpen berjudul Jannat al-Athfal (Surga Anak-Anak).
Dalam terma bahasa Arab, Al-athfal dan Awlad mengandung pengertian bayi atau anak-anak.
Namun, dalam cerpen dan novel yang telah disebutkan, terma ini dipakai untuk pengertian yang berbeda.
Novel Awlad Haratina berisi tokoh-tokoh anak-anak laki-laki yang sudah besar, sementara Jannat al-Athfal memiliki tokoh bocah wanita sekitar lima tahunan.
Novel Awlad Haratina telah diterjamahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Sengketa oleh penerbit Pustaka Pelajar tahun 1999.
Novel yang pertama kali terbit secara bersambung pada harian al-Ahram pada tahun 1959 pernah menuai kontroversi panas saat diterbit kan sebagai novel pada tahun 1962.
Tak urung, Universitas al-Azhar melarang penerbitan novel ini dan kelompok Islam radikal berusaha membunuhnya pada tahun 1994 karena dituding sesat dan atheis.
Bahkan seorang ulama Mesir garis keras mengatakan bila Najib Mahfuz tidak pernah menulis Aulad Haratina, Salman Rusydi tidak akan pernah berani menulis The Sattanic Verses (1988).
Secara sekilas, novel ini bercerita tentang seorang tokoh kaya dan berkuasa bernama Gabalawi.
Di masa tuanya, ia memutuskan untuk beristirahat dan menyerahkan manajemen tanah wakaf kepada seorang anaknya.
Tanah itu sangat penting bagi orang kampung karena sumber kehidupan bagi mereka.
Akibat sifat tamak dari anaknya yang ingin menguasai tanah secara sepihak tersebut, tanah wakaf ini justru menjadi malapetaka.
Yang menjadi sumber kontorversi novel ini ternyata terletak kemiripan tokoh dan latar certia dengan kisah tertua ummat Islam, yaitu penciptaan Nabi Adam dan konflik turunannya, mulai dari hidup di surga hingga terusir dan beranak pinak di dunia.
Tokoh utama; Gabalawi memiliki karakter seperti Tuhan, sementara tokoh-tokohnya yang dialegorikan sebagai nama-nama nabi, yaitu Adham (Nabi Adam), Jabal (Nabi Musa; peristiwa gunung Sinai), Rifa'ah (Nabi Isa; peristiwa diangkat ke langit), dan Qasim (Nabi Muhammad; putra sulung beliau bernama Qasim). Kesimpulannya, karya ini dianggap penistaan terhadap sejarah dan ajaran Islam.
Sebenarnya, kalangan sastra memaknai hal ini sebagai fakta seni (Art fact) yang bisa dimaknai sebagai kritik sosial.
Akan tetapi, masya rakat yang menolak karya ini menganggap novel ini sebagai fakta sosial (socio fact); sesuatu yang pernah terjadi layaknya sebuah sejarah, bahkan lebih parah lagi menganggapnya sebagai fakta agama (religous fact) yang seakan melakukan upaya rekonstruksi sejarah agama.
Selama satu pihak memaksakan sudut pandangnya terhadap orang lain, maka kejadian seperti ini akan sangat mungkin terulang kembali terhadap karya yang lain, di tempat yang lain pula.
Karya kedua Najib Mahfuz yang berkaitan dengan tema anak adalah cerpen Jannat al-Athfal (Surga Kanak-Kanak).
Cerpen ini diperan kan oleh tiga orang tokoh, yaitu seorang bapak, ibu, dan anak perempuan berusia sekitar lima tahun.
Siapapun yang membaca cerpen ini akan mengatakan bertema berat dan sekaligus harus geleng-geleng kepala untuk mengapresiasi usaha Najib Mahfuz memperkenalkan eksistensi manusia, perbedaan, agama, di Tuhan di hadapan anak balita.
Setiap kita; orang tua, sering kali mendapatkan pertanyaan ya ng tidak terduga dari mulut mungil anak-anaknya.
Pertanyaan ini sering dijawab sekenanya oleh para orang tua karena dianggap belum sampai pemahaman anak pada hal tersebut.
Berlainan dengan prinsip di atas, Najib Mahfuz menghadirkan tokoh seorang anak yang cerdas yang memaksa orang tuanya mengernyit kan dahi dan berkeringat untuk sekedar mencari jawaban-jawaban yang sekiranya bisa dicerna oleh akal anak-anak balita.
Pertanyaan nya dimulai dari kejadian sekolah saat terjadi pemisahan kelas ketika ada mata pelajaran agama.
Tokoh kecil ini bertanya mengapa ia dipisahkan dengan Nadia, sahabatnya, ketika pelajaran itu? Dia tidak mau berpisah dan ingin bersama selamanya.
Tokoh ayah menja wab bahwa karena agama berbeda, maka kelasnya pun berbeda.
Tokoh anak bertanya lagi maksud dari agama ber beda tersebut.
Tokoh ayah menjawab bahwa mereka Islam dan sahabatnya Kristen.
Pertanyaan selanjutnya sungguh membuat tokoh ayah benar-benar berkeringat, seperti: Mengapa saya muslim dan dia Kristen?
Siapakah yang terbaik?
Kalau Kristen dan Islam sama sama menyembah Allah, mengapa beribadahnya harus di ruang berlainan?
Siapakah Allah itu?
Di manakah ia tinggal?
Bisakah ia dilihat?
Bagaimana mati itu?
Dan lain sebagainya.
Pertanyaan- pertanyaan ini memang terkesan berat karena seharusnya memang belum akan dicerna oleh anak.
Namun, pengarang berusaha memberi contoh cara bagaimana memberikan hak-hak anak akan jawaban yang dibutuhkan.
Caranya dengan membuat analogi-analogi yang mudah dicerna anak.
Misal, ketika ditanya mengapa tokoh anak bisa berbeda agama?
Tokoh ayah mengatakan bahwa karena ayah ibu, nenek kakeknya sudah beragama demikian, maka anak-anak juga akan beragama demikian.
Ketika ditanya yang mana yang lebih baik?
Pertanyaan ini dijawab bahwa semua agama baik dan setiap orang boleh memilih seperti keputusan untuk memilih mode pakaian.
Terhadap pertanyaan apakah mode pakaian sahabatnya sudah kuno dan mode pakaian tokoh kecil ini adalah yang terbaru, tokoh ayah menjawab tidak ada pakaian yang kuno atau baru.
Semua orang haruslah berpakaian seperti orang tuanya.
Be gitu seterusnya, semua pertanyaan dibuat seringan mungkin agar mampu dicerna oleh akal anak-anak yang masih dalam usia kanak-kanak.
Adalah menarik untuk menghubungkan cerpen di atas dengan pemenuhan hak spiritual anak dalam pendidikan usia dini.
Sejatinya, anak-anak telah memiliki sebuah potensi kecerdasan spiritual.
Menurut Seto Mulyadi, kecerdasan spiritual adalah bagaimana manusia dapat terhubung dengan Sang Pencipta.
Dengan kata lain, kecerdasan spiritual adalah kemampuan manusia untuk mengenali potensi fitrah dalam dirinya serta kemampuan seseorang mengenali Tuhannya yang telah menciptakan sehingga di manapun berada merasa dalam pengawasan Tuhannya.
Dalam penelitiannya, Sinter (2002) menyatakan bahwa potensi-potensi pembawaan spiritual (spiritual trait) pada anak antara lain adalah sifat keberanian, optimisme, keimanan, perilaku konstruktif, empati, sikap memaafkan, dan bahkan ketangkasan dalam menghadapi ama rah dan bahaya.
Semua itu menjadi sifat-sifat spiritual anak-anak sejak usia dini.
Kecerdasan sprititual ini harus diberi ruang-ruangnya oleh orang tua dan guru agar anak-anak bisa menerima hak-haknya serta mengeksplorasi potensi kedahsyatan dirinya sebagaimana pada cerpen Jannat al-Athfal dan tidak salah arah sebagaimana anak-anak dalam novel Aulad Haratina di atas.
Dalam hal pentingnya pemenuhan hak-hak spiritual anak, kita harus ingat apa yang dikatakaan oleh Donah Zohar dan Ian Marshal pada awal tahun 2000; kecerdasan spiritual dapat menjadi sumber motivasi yang memiliki kekuatan maha dahsyat, dan merupakan landasan yang diperlukan untuk memfungsikan intelligence quotient (IQ) dan emosional intelligence (EI) secara efektif bahkan merupakan kecerdasan tertinggi manusia.
Selamat Hari Anak! Tumbuhlah dengan harum anak-anak Indonesia!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/walidinw.jpg)