Kebersihan Lingkungan
Islam dan Kebersihan Lingkungan
Islam sebagai agama sawawi telah memberi pedoman yang lengkap, rinci dan sempurna kepada manusia untuk menyerasikan semua aktivitasnya
Masing-masing senantiasa menjaga keabsahan thaharah ini agar wudhu dan ibadah shalatnya diterima oleh Allah Swt. sebagai wujud pengabdian kepada-Nya.
Namun thaharah fisik yang demikian itu masih terbatas pada thaharah fisik yang lebih bersifat pribadi.
Kesucian yang hanya terbatas pada penyucian diri secara individu.
Terbatas pada thaharah fisik seputar ibadah mahdhah.
Ibadah yang terkait dengan status manusia sebagai hamba Allah (Abd Allah), yang hakikat penciptaannya adalah sebagaimana firman-Nya : “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada- Ku. “(QS. Al- Zariyat : 56).
Dalam konsep Al-Qur’an, manusia bukan hanya terbatas pada penyembah Allah yang terkait dengan ibadah mahdha (khusus) semata melainkan pula menyangkut ibadah secara umum (ghair mahdhah).
Dalam konteks ini, status manusia termaktub dalam konsep Bani Adam, Bani Basyr, Khalifah Allah fi al-Ardh, al-Nas, al-Insan, al-Ins, dan Ummah.
Masing-masing konsep memuat pedoman bagaimana sejatinya peran manusia dalam statusnya itu.
Dalam status sebagai Bani Adam, manusia adalah makhluk sejagat untuk saling mengenal.
Bani Basyr, peran manusia difokuskan sebagai makhluk biologis yang memiliki potensi untuk berkembang biak.
Lalu dalam status sebagai Khalifah Allah fi al-Ardh, manusia diamanatkan untuk menjaga, memelihara, dan memakmurkan kehidupan di bumi sesuai dengan ketentuan Allah.
Kemudian status hubungan sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Selanjutnya berdasarkan statusnya sebagai al-Insan mengacu kepada potensi manusia sebagai makhluk yang dapat dididik dan membangun peradaban.
Berikutnya dalam status al-Ins al-Nas, manusia sebagai makhluk sosial dengan peran membina keharmonisan manusia sebagai makhluk yang hidup menetap yang memiliki unsur fisik material dan spiritual.
Dalam status sebagai ummah mengacu kepada peran manusia sebagai makhluk yang memiliki akidah yang sama.
Mencermati semua acuan konsep kepada status dan peran manusia ini, bagaimanapun thaharah fisik tidak hanya terbatas pada ibadah mahdhah saja.
Mau tidak mau, suka tidak suka, semestinya thaharah fisik ini mencakup kebersihan bukan hanya terbatas pada whudu saat akan shalat, serta selama menunaikan shalat.
Lebih dari itu kebersihan juga mesti tercermin secara jelas dalam sikap dan perilaku, serta mampu pula diwujudkan dalam segala bentuk aktivitas kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian pemahaman kebersihan harus lepas dan keluar dari kungkungan pengertian normatif.
Jangan hanya berupa bacaan-bacaan yang bersifat retorika yang terlafazkan dalam kata-kata maupun simbol-simbol keagamaan saja.
Cuma didengar dalam bentuk nasihat agama tetapi tidak teraplikasikan dalam hidup keseharian masyarakat orang- orang yang beriman.
Sejalan dengan statusnya berdasarkan konsep dari Sang Maha Pencipta, maka sejatinya kaum Muslimin merasa tergugah untuk senantiasa menyerasikan diri masing-masing sesuai hakikat penciptaannya dengan fungsi dan perannya sebagai khalifah Allah di mana bumi merupakan bagian dari lingkungan alam kehidupannya.
Menyadari, bahwa alam bisa hidup dan berkembang tanpa adanya manusia.
Namun mustahil, manusia mampu hidup tanpa adanya lingkungan alam yang serasi dengan kebutuhannya.
Untuk menjalani kehidupannya secara baik, manusia memerlukan lingkungan alam yang juga baik.
Lingkungan alam yang terpelihara dan tertata sesuai dengan tugas kekhalifahan yang diamanatkan oleh Sang Maha pencipta kepada manusia itu sendiri.
Apapun status yang disandangkan kepadanya.
Adapun kata kunci dari pemeliharaan dan panataan lingkungan itu adalah kebersihan fisik dan spiritual.
Kebersihan fisik mengacu kepada wujud nilai-nilai takwa dan ketaatan yang tercermin dalam tampilan.
Sementara kebersihan spiritual mengacu kepada nilai-nilai takwa dan ketaatan yang selalu memotivasi dalam setiap aktivitas.
Dengan demikian, semestinya kebersihan ganda dimaksud mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Diawali dari rumahtangga, meningkat ke tetangga hingga akhirnya ke lingkungan masyarakat yang lebih luas.
Melalui gerakan massal yang terbentuk atas kesadaran setiap keluarga Muslim, maka bukan mustahil pada waktunya nanti masyarakat Muslim akan mampu mengelola kebersihan lingkungannya.
Dengan dilandasi oleh kesadaran beragama yangb aplikatif seperti ini, maka tidak tertutup kemungkinan kalau perkampungan Muslim akan menjadi contoh dan sekaligus penggerak kebersihan.
Ketika itu nilai-nilai esensi shalat sudah tidak terbatas pada bacaan dan gerakan, melainkan sudah berdampak pada aktivitas kehidupan yang komprehensif dan lebih luas jangkauannya.
Manakala semuanya itu dapat diwujudkan, maka kehadiran Islam sebagai agama yang rahmatan lil ‘alamin akan tersaksikan secara nyata.
Semoga Allah SWT menanamkan kesadaran yang demikian itu ke dalam diri setiap Muslim.
Menyadarkan bahwa misi utama yang diemban oleh Rasulullah SAW adalah untuk memberi rahmat bagi seluruh alam.
Sebagai pengikut beliau, sejatinya misi ini pula yang menjadi rujukan kita kaum Muslimin dalam menjalani kehidupan sehari- hari. Amin.
.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/jalalprof.jpg)