Opini
Gonggongan Ujian Persatuan
Apakah semua suara yang terdengar hari ini benar-benar memperkaya percakapan publik, atau justru perlahan mengaburkannya?
Bukan dengan argumen yang lebih baik, melainkan dengan frekuensi yang lebih tinggi, irama percakapan publik pun dikendalikan.
Pada titik inilah kebebasan berekspresi mengalami pergeseran makna yang sungguh serius. Ia tidak lagi semata ruang untuk menguji kekuasaan, melainkan juga alat untuk membentuk persepsi—bahkan sebelum fakta sempat dipahami.
Yang lahir bukan lagi percakapan, melainkan arus. Dan dalam arus itu, publik sering kali tidak sadar: apakah ia sedang berpikir, atau sekadar mengikuti gelombang.
Di tengah semua itu, kita dihadapkan pada pilihan. Apakah kita menilai kebijakan dari bagaimana ia terdengar, atau dari bagaimana ia dirasakan? Apakah kita lebih percaya pada kalimat yang sempurna, atau pada perubahan yang tidak sempat diberi nama? Pertanyaan ini sederhana, namun di balik kesederhanaannya, jawabannya menentukan arah kepercayaan.
Pemerintah, tentu saja, tidak kebal dari kesalahan. Kebijakan harus terus diuji. Namun ada batas tipis yang sering dilupakan: ketika kritik kehilangan sensitivitas terhadap dampak nyata, ia berhenti menjadi alat perbaikan dan berubah menjadi kebisingan.
Dan kebisingan, berbeda dengan kritik, tidak memperjelas arah—ia hanya membuat orang ragu untuk melangkah.
Pada akhirnya, persoalan ini bukan tentang siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang masih mau mendengar. Bukan hanya mendengar argumen, tetapi juga mendengar perubahan yang tidak selalu terucap. Karena bangsa ini tidak kekurangan suara. Yang mulai langka justru kejernihan.
Dan di situlah, diam-diam, persatuan diuji. Bukan oleh perbedaan, melainkan oleh gema yang terlalu sempurna untuk dipertanyakan. (*)
| Meningkatkan Keakuratan Hasil Sensus Ekonomi 2026 Melalui Ground Check |
|
|---|
| Sleep Training dan Bayi yang tak Lagi Bangun: Saat Tren Parenting Berubah Jadi Peringatan |
|
|---|
| Serba Serbi Kitab Undang Undang Hukum Pidana Baru |
|
|---|
| Pelecehan Seksual di Dunia Pendidikan, Alarm Darurat Degradasi Moralitas Generasi |
|
|---|
| Memaknai Budaya Dalam Konteks yang Berbeda |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Anwar-Sadat-Opini.jpg)