Opini
Saat Biaya Pendidikanmu Berasal dari Keringat Rakyat Indonesia
Negara mengumpulkan pajak dari rakyat, mengalokasikannya untuk pendidikan dengan harapan akan kembali dalam bentuk kemajuan bangsa di masa depan.
Oleh : Isni Andriana, SE, M.Fin, PhD
Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya
BEBERAPA waktu terakhir, ruang publik Indonesia ramai membicarakan polemik beasiswa negara, khususnya Beasiswa LPDP dan dana abadi pendidikan. Perbincangan ini mencuat setelah viralnya pernyataan seorang alumni LPDP yang menyebut “cukup saya saja WNI, anak jangan”, yang kemudian memicu reaksi luas dari masyarakat di media sosial.
Isu ini tidak hanya menjadi perdebatan personal, tetapi berkembang menjadi diskusi nasional tentang tanggung jawab moral penerima beasiswa yang dibiayai negara.
Bahkan, Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) turut memberikan klarifikasi dan melakukan pendalaman internal terkait pihak yang masih memiliki kewajiban kontribusi setelah studi.
Di tengah polemik tersebut, muncul kembali satu pengingat sederhana namun sangat penting: dana beasiswa negara berasal dari pajak rakyat dan pengelolaan keuangan negara. Kalimat ini mungkin terdengar biasa, tetapi maknanya sangat dalam.
Ia bukan hanya soal administrasi anggaran, melainkan pengingat moral bahwa setiap rupiah yang digunakan untuk membiayai pendidikan, termasuk kuliah ke luar negeri, berasal dari kerja keras jutaan rakyat Indonesia.
Dari petani yang bekerja di sawah, buruh yang bekerja seharian, guru honorer di daerah, pedagang kecil di pasar, hingga pekerja informal yang bahkan mungkin tidak pernah memiliki kesempatan mengenyam pendidikan tinggi.
Sering kali beasiswa negara dipandang sebagai “uang gratis”. Padahal, dalam perspektif kebijakan publik, tidak ada yang benar-benar gratis. Beasiswa negara adalah investasi sosial jangka panjang.
Negara mengumpulkan pajak dari rakyat, mengelola anggaran, lalu mengalokasikannya untuk pendidikan dengan harapan akan kembali dalam bentuk kemajuan bangsa di masa depan.
Artinya, ketika seseorang menerima beasiswa LPDP atau beasiswa negara lainnya, ia bukan hanya menerima bantuan pendidikan, tetapi juga menerima amanah publik yang sangat besar.
Program beasiswa yang bersumber dari dana abadi pendidikan memang dirancang untuk tujuan strategis, yakni meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia agar mampu bersaing secara global.
Namun, di balik kesempatan besar tersebut, ada ekspektasi yang tidak kecil. Negara berharap ilmu, pengalaman, dan jaringan global yang diperoleh penerima beasiswa dapat kembali memberikan manfaat nyata bagi Indonesia. Karena itu, beasiswa bukan sekadar fasilitas pribadi, melainkan investasi kolektif bangsa.
Jika kita membayangkan perjalanan satu rupiah pajak, gambaran ini menjadi lebih terasa nyata.
Seorang pedagang membayar pajak dari usahanya. Seorang karyawan dipotong pajak penghasilannya setiap bulan. Seorang pengusaha menyetor pajak perusahaannya. Semua dana itu masuk ke kas negara, lalu sebagian dialokasikan untuk sektor pendidikan.
Dari sanalah lahir program beasiswa yang membiayai anak bangsa belajar di universitas terbaik dunia. Dengan kata lain, ketika seorang mahasiswa belajar di luar negeri menggunakan beasiswa negara, ia sedang belajar dengan “keringat rakyat”.
Ia belajar dengan keringat tukang ojek yang berjuang di jalan setiap hari. Ia belajar dengan keringat nelayan yang berlayar sejak subuh. Ia belajar dengan keringat guru di pelosok yang mengajar dengan segala keterbatasan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Isni-1.jpg)