Opini

Pewarta Profesi Mulia: Selamat Hari Pers Nasional 2026

Profesi ini menyimpan tugas mulia sepanjang peradaban manusia di muka bumi. Dimana tugas menyampaikan kabar ini telah diemban oleh orang-orang suci.

Tayang: | Diperbarui:
Dokumen KPU Muratara
Agus Mariyanto, S.Pd., MM 

Oleh: Agus Mariyanto, S.Pd., MM.
(Penulis  adalah mantan Ketua KPU Kabupaten Muratara Periode 2014-2019 dan 2019-2024)

SRIPOKU.COM - Peristiwa bersejarah yang terjadi pada 9 Februari 1946 merupakan bersatunya tekad wartawan Indonesia untuk ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan. Ketika itu negara dalam keadaan yang sangat genting. 

Lalu, dalam pertemuan bersejarah 9 Februari 1946 itu PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) terbentuk dengan Ketua Mr. Soemanang dan sekretarisnya Soedarjo Tjokrokisworo.

Peristiwa yang menggembirakan dalam dunia pers Indonesia adalah saat kemerdekaan dan keterbukaan media dijamin oleh negara.  Dan kini tiap tanggal 9 Februari insan pers memaknainya sebagai Hari Pers Nasional.

Pada Peringatan Hari Pers Nasional tahun 2026 ini, saya mencoba menelisik kembali tentang profesi yang strategis ini. Pers selain menjadi pilar demokrasi, ia juga bekerja menjaga narasi kebangsaan agar tetap hidup. 

Profesi ini menyimpan tugas mulia sepanjang peradaban manusia di muka bumi. Dimana tugas menyampaikan kabar dan menulis kabar ini telah diemban oleh orang-orang suci. Yaitu para nabi dan rasul Tuhan. Mereka mewartakan Kalam suci Tuhan dan kabar-kabar langit kepada umat manusia. Baik kabar masa lalu maupun masa depan. Setiap kabar yang dibawa oleh para nabi dan rasul mengandung kabar gembira dan peringatan.

Fakta dan harapan kehidupan manusia ditulis oleh pewarta (sahabat/murid) para Nabi dalam Kitab Suci. Menjadi pandu dan ensiklopedi sejarah yang menavigasi peradaban masa depan. 

Seiring perkembangan zaman, tugas menyampaikan kabar dan mencatat peristiwa dilakoni oleh orang-orang yang rela menderita. Merekalah juru tinta, juru warta. 

Bila karyanya berupa good news tidak banyak yang mengapresiasi. Namun bila insan media menyajikan bad news, maka sumpah serapah dialamatkan padanya. Sudah jelas resiko membayangi mata.  Oplah pun tak sebanding dengan garansinya.

Lihat saja, kasus pembakaran rumah wartawan Tribrata TV di Kab Karo. Yang hingga kini, anak yatim korban keganasan pihak yang namanya disentuh wartawan (korban) masih berjuang mencari keadilan. Dan masih banyak lagi deretan noktah pilu yang mendera para pewarta.

Meski demikian, profesi ini menarik dan diminati oleh banyak orang. Karena mereka yang memilih jalan hidup ini, mesti strugle . Menulis berita adalah tugas mulia, sehingga para pewarta (insan media) mesti sedapat mungkin menjaga batas-batas  kode etik dan kemerdekaannya.

Wartawan; Sejarawan sepanjang Zaman

Profesi wartawan tiap putaran waktu menghasilkan karya jurnalistik. Halaman-demi halaman dirunut dalam rubrik menarik untuk disajikan. Isue-demi issue dipintal dengan pikiran menjadi fakta yang diungkapkan. Lalu fakta dan kejadian (peristiwa) itu, tersimpan rapi dalam algoritma branda media.

Saat dinikmati pembaca dan pemirsa, ia menjadi nutrisi dalam bentuk informasi. Menjadi pijakan bagi pengambil kebijakan. Menjadi peluang bagi pencari harapan. Pun menjadi ancaman bagi kejahatan yang disembunyikan.

Kompilasi yang tercatat masif dan kreatif tak akan hilang oleh derasnya perubahan. Informasi-informasi itu tersusun dalam museum bergerak. Bahkan peristiwa ratusan tahun yang lalu, dapat ditarik kembali. Menjadi catatan sejarah yang terus dirawat oleh ingatan masa.

Wartawan adalah Sejarawan yang tak putus. Catatan berbagai peristiwa tersusun rapi sebagai sejarah yang pernah terjadi. Siapakah Sejarawan di dunia ini  yang mampu mencatat peristiwa dari waktu ke waktu dalam kehidupan manusia itu? Dialah wartawan.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved