Mimbar Jumat
Toleransi dan Pendidikan Agama Islam, Menjaga Harmoni dalam Kehidupan Berbangsa
Nilai toleransi terbukti menjadi perekat persatuan, terutama ketika berbagai elemen bangsa bersatu memperjuangkan kemerdekaan Bangsa dari penjajahan.
INDONESIA dikenal sebagai bangsa yang majemuk, dengan keberagaman agama, suku, budaya, dan bahasa yang membentang dari Sabang hingga Merauke. Keberagaman ini merupakan anugerah yang memperkaya kehidupan, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan tersendiri dalam menjaga persatuan.
Di tengah dinamika sosial yang kompleks, isu intoleransi kerap muncul, terutama di kalangan generasi muda yang hidup dalam arus globalisasi dan derasnya informasi digital. Kondisi ini menuntut adanya pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek kognitif, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebersamaan dan penghargaan terhadap perbedaan.
Pendidikan Agama Islam (PAI) memiliki peran strategis dalam hal ini. PAI tidak hanya sebatas mengajarkan ajaran ritual keagamaan, tetapi juga menginternalisasikan nilai-nilai universal Islam seperti kasih sayang, keadilan, dan toleransi.
Dengan landasan ajaran rahmatan lil ‘alamin, PAI dapat menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan sikap saling menghargai antar umat beragama maupun antar kelompok budaya.
Melalui pendekatan yang moderat dan inklusif, PAI dapat membentuk karakter mahasiswa dan pelajar agar mampu hidup harmonis di tengah keragaman bangsa.
Dengan demikian, pembahasan mengenai toleransi dalam kaitannya dengan PAI menjadi sangat relevan. Toleransi bukan hanya nilai moral, melainkan kebutuhan nyata untuk menjaga harmoni kehidupan berbangsa.
Melalui penguatan nilai ini dalam pendidikan, diharapkan lahir generasi yang tidak sekadar cerdas secara intelektual, tetapi juga matang dalam sikap sosial dan berkomitmen menjaga persatuan bangsa.
Landasan Toleransi dalam Islam
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), toleransi didefinisikan sebagai sifat atau sikap toleran, yaitu bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.
Dengan kata lain, toleransi adalah kemampuan untuk menghormati sifat dasar, keyakinan, dan perilaku yang dimiliki oleh orang lain.
Toleransi adalah salah satu nilai yang sangat dijunjung tinggi dalam agama Islam. Islam mengajarkan pentingnya menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama umat manusia, tanpa memandang perbedaan agama, suku, ras, atau budaya.
Dalam pandangan Islam, toleransi bukan hanya sekadar menghormati atau mengakui keberadaan perbedaan, tetapi juga melibatkan sikap saling menghargai, saling memahami, dan saling menghormati.
Toleransi dalam Islam mengajarkan umatnya untuk hidup berdampingan dengan damai dalam keragaman. Islam mengajarkan bahwa perbedaan adalah sunnatullah (hukum alam) yang harus dihormati dan dijadikan sebagai peluang untuk saling belajar dan memperkaya pengalaman hidup.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.” (Q.S. Al-Hujurat: 13).
Dalam Islam, memahami tidak hanya sebatas pengetahuan, tetapi juga melibatkan empati dan ketulusan hati untuk merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Nilai toleransi dalam Islam juga melibatkan sikap saling memahami.
Islam mengajarkan umatnya untuk berupaya memahami latar belakang, keyakinan, dan budaya orang lain tanpa prasangka atau stereotip. Dengan begitu, perbedaan yang ada dapat menjadi ruang untuk saling memahami dan media saling belajar serta memperkaya pengalaman hidup kita.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Oviyanti-Dosen-UIN-RF.jpg)