Opini

Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia: Ubah Cara Pandang, Selamatkan Harapan

Bunuh diri bukan sekadar masalah pribadi, tetapi persoalan serius yang menyentuh sisi kesehatan, sosial, hingga ekonomi.

Tayang:
Istimewa
dr. Latifah Nurfadliana, Sp.KJ (Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RS Ernaldi Bahar Prov. Sumsel) 

Tahun 2025 ini, Asosiasi Internasional Pencegahan Bunuh Diri mengangkat tema “Changing the Narrative on Suicide” atau Mengubah Narasi tentang Bunuh Diri.

Harapannya, dengan mengubah narasi, kita bisa mengubah stigma dan kesalahpahaman tentang bunuh diri menjadi sikap yang peduli, empati dan mendukung.

Bunuh diri merupakan masalah kesehatan mental yang perlu dibicarakan agar bisa dicegah.

Mayoritas orang yang berpikir untuk bunuh diri sebenarnya tidak ingin mati. Mereka hanya ingin lepas dari penderitaan yang mereka alami.

Dengan dukungan yang tepat, banyak orang yang punya pikiran bunuh diri bisa pulih dan bangkit kembali. 

Berikut tanda-tanda yang harus kita waspadai pada orang sekitar, yaitu ungkapan ingin mati atau merasa hidup tidak berarti, perubahan perilaku mendadak (seperti menarik diri, agresif, memberi barang-barang berharga, meminta maaf, membuat surat wasiat) dan perubahan suasana hati drastis (seperti tampak murung dan sedih).

Menanyakan langsung apakah seseorang memiliki pikiran bunuh diri tidak akan memicu keinginan bunuh diri.

Justru, itu bisa membuat mereka merasa diperhatikan dan tidak sendirian.

Apabila ada teman atau keluarga yang memperlihatkan tanda tersebut, ajaklah mereka bicara dengan tenang, dengarkan tanpa menghakimi, Lalu, arahkan agar mereka mencari bantuan profesional, baik ke psikiater atau psikolog. 

Ingatlah, pikiran bunuh diri bukan tanda kelemahan, namun bukti bahwa seseorang sedang menanggung beban yang terlalu berat sendirian.

Bunuh diri bukan satu-satunya jalan keluar. Ada cara lain untuk keluar dari rasa sakit ini, meskipun saat ini mungkin sulit terlihat. 

Jangan takut untuk bicara. Bicara tentang perasaan bukan tanda kelemahan, tapi justru langkah menuju kesembuhan, selalu ada harapan, dan selalu ada jalan.

Jangan menyerah, karena satu percakapan bisa menyelamatkan hidupmu. “Bicara tentang jiwa, selamatkan harapan, cegah bunuh diri.” (*)

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved