LIPSUS

Lipsus: Caregiver Bermunculan di Rumah Sakit Palembang, Bantu Administrasi dan Dampingi Pasien

Jasa pendamping pasien atau caregiver non-resmi di lingkungan rumah sakit di Kota Palembang kian menjadi fenomena yang tak terelakkan.

Tayang:
Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Odi Aria
Sripoku.com/Linda Trisnawati
CAREGIVER- Yuri dan Tiwi saat menemani pasien di RSUP Dr. Mohammad Hoesin atau yang di kenal RSMH Palembang, Senin (27/4/2026). Mereka berdua merupakan sosok caregiver yang siap mendampingi pasien yang membutuhkan bantuannya. Keberadaan caregiver di rumah 

Tarif jasa yang ia tawarkan berkisar Rp 30 ribu per jam, tergantung jenis layanan. Untuk pasien dengan kondisi kompleks, pendampingan bisa berlangsung seharian penuh.

Meski banyak yang ingin bergabung, Yuri mengaku tetap selektif dalam merekrut anggota tim. Ia tidak ingin kualitas pelayanan menurun dan justru merepotkan pasien.

“Kita ini jasa pelayanan, jadi harus benar-benar paham alur dan tanggung jawab. Untuk sekarang saya berteman dengan Tiwi, jadi sering gabung bersama,” katanya.

Sementara itu, Tiwi rekan seprofesi Yuri yang sama-sama berusia 34 tahun mengatakan, bahwa ia menekuni pekerjaan ini sejak 2020.

Berawal dari membantu keluarga sendiri, ia kemudian menerima permintaan dari tetangga hingga pasien luar kota.

“Awalnya dari ngurus keluarga, bapak, adik dan keluarga. Lama-lama orang lain minta tolong,” ujarnya.

Ibu tiga anak yang tinggal di kawasan Pusri ini mengaku penghasilan dari caregiver cukup membantu ekonomi keluarga. Ia juga mengatur waktu dengan membagi peran bersama keluarga di rumah.

“Anak-anak sudah cukup mandiri, jadi bisa ditinggal saat kerja,” katanya.

Tiwi menjelaskan, layanan caregiver yang ia berikan cukup beragam, mulai dari rawat jalan, rawat inap non-medis, pendampingan pasca melahirkan, hingga menjaga balita (toddler) juga bisa sesuai permintaan pasien.

Selain itu, ia juga kerap membantu kebutuhan lain seperti mencari donor darah, mengurus resep, hingga memastikan pasien mendapatkan tempat tidur yang layak.

“Kita bertanggung jawab dari awal sampai pasien pulang,” tegasnya.

Dalam sehari, Tiwi bisa menangani hingga lima pasien untuk layanan ringan seperti pendaftaran atau pengambilan obat. Namun untuk pendampingan intensif, biasanya maksimal dua pasien.

Menurut  Tiwi tantangan terbesar adalah antrean. Lalu kalau ada pasien yang membutuhkan kursi roda ataupun tempat tidur untuk mobilitas selama rawat jalan juga hari dicarikannya. Kadang harus lari-lari nyarinya.

"Kalau jadi caregiver ini kuncinya harus sabar. Menghadapi pasien seperti apapun kita harus terima dan sabar, karena kita jual jasa.

Namun kami selalu memastikan layanan yang kami berikan baik untuk pasien," katanya.

Sementara itu untuk pengalaman pernah mendampingi pasien namun akhirnya pasien tersebut meninggal juga pernah. "Rasanya sedih kalau lihat pasien meninggal. Kalau kita  bantu dan berusaha yang terbaik saja," katanya.

Untuk menjangkau lebih banyak pasien, keduanya memanfaatkan media sosial. Yuri dikenal melalui akun “Yuri Caregiver Palembang”, sementara Tiwi melalui “Wie Caregiver Palembang”.

Melalui platform tersebut, mereka menerima berbagai permintaan, baik pendampingan langsung maupun layanan online seperti pendaftaran dan konsultasi jadwal medis.

Di tengah kompleksitas layanan rumah sakit modern, kehadiran caregiver seperti Yuri dan Tiwi menjadi solusi nyata bagi pasien, khususnya mereka yang datang dari luar daerah dan membutuhkan pendampingan ekstra.

Beda dengan Relawan
Berbeda dengan Yuri dan Tiwi, Rozi Samsaris (52) juga telah dikenal oleh masyarakat sebagai relawan bagi pasien rujukan di RSUP Dr. Mohammad Hoesin atau RSMH Palembang dari pelosok daerah.

Namun ia tak sepenuhnya bisa mendampingi pasien di rumah sakit lantaran ia memiliki pekerjaan lain sebagai anggota Sat Pol PP Sumsel.

"Di rumah sakit banyak orang yang butuh bantuan, dan membantunya juga beragama. Kalau saya relawan, maka membantunya gratis bagi yang tidak mampu," kata Ozi sapaan akrabnya, Senin (27/4/2026).

Menurutnya, sebagai relawan yang memiliki pekerjaan sehari-hari sebagai Pol PP, ia tidak bisa menemani pasien dari awal sampai akhir.

Namun ia tetap bisa membantu saat sengang ataupun koordinasi via telepon.

"Kalau yang butuh bantuan dari awal sampai akhir bisa menggunakan caregiver seperti Yuri dan Tiwi, yang memang bersedia menemani pasien dengan tarif yang menyesuaikan," katanya.

Menurutnya, kalau relawan dan jasa caregiver memang beda. Namun tujuannya sama-sama membantu masyarakat.

Biasanya yang menggunakan caregiver itu memang yang punya uang, tapi memiliki kesibukan sehingga dibutuhkan jasa caregiver untuk membantu keluarganya yang sedang berobat.

Dedikasi Rozi membantu sesama sudah dimulai sejak tahun 2000, berawal dari mendampingi warga asal daerahnya, Bengkulu, yang kebingungan saat dirujuk ke rumah sakit di Palembang.

Seiring berjalannya waktu tepatnya sejak 2015, aksi kemanusiaannya meluas setelah ia aktif menggunakan media sosial Facebook dengan akun @Rozi Sam.

Rozi yang tergabung di Rumah Singgah Relawan Pasien Rujukan mengatakan, ia melakukan berbagai bentuk bantuan yang menyentuh langsung kebutuhan pasien.

"Di rumah singgah gratis bagi pasien rujukan yang tidak mampu, lengkap dengan fasilitas antar-jemput ke rumah sakit," katanya.

Tidak hanya itu, Rozi juga aktif dalam kegiatan donor darah gratis, membantu mencarikan stok darah bagi pasien yang membutuhkan, tanpa imbalan apa pun.

Ia bahkan kerap membantu pasien terlantar, serta memberikan bantuan uang atau ongkos bagi pasien yang ingin pulang ke daerah asalnya namun tidak memiliki biaya.

“Apapun keluhan pasien, kita tampung dan kita respon secepat mungkin. Mulai dari ambilkan obat sampai kirim ke pasien, semuanya kita usahakan,” kata Rozi.

Menurutnya, mayoritas pasien yang ia bantu adalah penderita penyakit serius seperti kanker, tumor, gagal ginjal, hingga lupus yang memerlukan perawatan rutin di Palembang.

Banyak dari mereka berasal dari daerah terpencil dan mengalami kesulitan, baik dari segi biaya maupun pemahaman dalam mengurus administrasi rumah sakit yang kini serba digital.

“Banyak yang bingung saat sampai di rumah sakit besar. Mereka tidak tahu harus ke mana, bagaimana mengurusnya. Di situlah kami hadir untuk membantu,” jelasnya.

Kepedulian Rozi tidak muncul tanpa alasan. Ia mengaku sering merasa sedih melihat langsung penderitaan pasien, terutama mereka yang bahkan kesulitan untuk makan dan terpaksa berbagi makanan seadanya. Pengalaman itu semakin menguatkan tekadnya untuk terus membantu. 

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved