Mimbar Jumat

Mimbar Jumat: Setengah Kebenaran Lebih Berbahaya daripada Kebohongan

DI TENGAH derasnya arus informasi, manusia tidak lagi kekurangan data, tetapi kekurangan kehati-hatian.

Editor: Odi Aria
Handout
Prof. Dr. Hj. Uswatun Hasanah, M.Ag, Dirda LPPK Sakinah Kota Palembang dan Dosen UIN Raden Fatah Palembang. 

Keputusan pemimpin menjelma menjadi kebijakan, hukuman, dan arah hidup orang banyak. Data yang dipilih secara selektif atau sudut pandang yang sempit dapat berubah menjadi penderitaan kolektif.

Sejarah kebijakan publik modern menunjukkan bahwa banyak kegagalan lahir bukan karena ketiadaan data, melainkan karena data dipahami secara parsial. Pemimpin yang merasa telah memegang kebenaran sering kali lupa bahwa kebenaran yang utuh menuntut kerendahan hati untuk mendengar berbagai sisi.

Al-Qur’an mengabadikan kisah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman ‘alaihimas salam ketika keduanya memutus perkara ladang yang dirusak kambing.

Firman Allah: Dan (ingatlah kisah) Dawud dan Sulaiman ketika keduanya memberi keputusan tentang ladang… Maka Kami memberikan pemahaman (yang lebih tepat) kepada Sulaiman.” (QS. Al-Anbiya’: 78–79). Nabi Dawud memutus perkara berdasarkan kerugian yang tampak: ladang rusak, maka kerugian harus diganti. Keputusan ini benar secara hukum dan adil secara formal.

Namun Nabi Sulaiman melihat lebih jauh. Ia mempertimbangkan keberlanjutan hidup kedua pihak. Maka diputuskan agar pemilik kambing menyerahkan manfaat kambing kepada pemilik ladang hingga ladang pulih, sementara kambing tetap dipelihara. Keputusan ini lebih komprehensif dan maslahat.

Al-Qur’an menegaskan bahwa pemahaman Nabi Sulaiman lebih utuh, bukan karena keputusan Nabi Dawud salah, tetapi karena keputusan Nabi Sulaiman melampaui kebenaran parsial menuju keadilan substantif.

Selanjutnya kisah Nabi Musa ‘alaihissalam dan Khidir dalam QS. Al-Kahfi ayat 66 mengajarkan pelajaran mendalam tentang bahaya menilai sesuatu dari pengetahuan yang belum lengkap. Ketika Khidir melubangi perahu nelayan miskin, Nabi Musa memprotes karena tampak zalim.

Namun tindakan itu justru menyelamatkan perahu dari perampasan penguasa zalim. Ketika Khidir membunuh seorang anak, Nabi Musa kembali menolak. Namun tindakan itu mencegah penderitaan iman dan kehidupan orang tua anak tersebut di masa depan.

Ketika Khidir menegakkan dinding tanpa meminta upah, Nabi Musa mempertanyakan keadilannya. Namun tindakan itu menjaga harta anak yatim hingga mereka dewasa. Rangkaian peristiwa ini menegaskan bahwa penilaian berbasis kebenaran parsial hampir selalu melahirkan kesimpulan keliru, bahkan bagi seorang nabi sekalipun.

Daniel Kahneman, peraih Nobel Ekonomi dan pakar psikologi kognitif, menjelaskan bahwa manusia pada dasarnya tidak selalu berpikir secara mendalam dan rasional. Dalam karya monumentalnya Thinking, Fast and Slow, Kahneman membedakan dua sistem berpikir manusia.

Sistem pertama bekerja cepat, intuitif, dan emosional, sementara sistem kedua lambat, analitis, dan membutuhkan energi mental. Masalahnya, dalam kehidupan sehari-hari manusia jauh lebih sering menggunakan sistem berpikir cepat.

Otak mencari efisiensi, bukan ketepatan. Ketika dihadapkan pada informasi yang kompleks, manusia cenderung menyederhanakan realitas agar mudah dipahami. Di sinilah setengah kebenaran menjadi sangat berbahaya: ia memberi cukup data untuk memicu keyakinan, tetapi tidak cukup untuk menghasilkan pemahaman yang utuh.

Secara empiris, Kahneman menunjukkan bahwa keputusan yang diambil berdasarkan data terbatas sering terasa benar secara subjektif, tetapi keliru secara objektif. Ilusi kepastian inilah yang membuat manusia jarang meragukan kesimpulan awalnya. Begitu seseorang merasa sudah paham, proses berpikir kritis berhenti.

Akibatnya, kesalahan bukan hanya terjadi, tetapi dipertahankan dengan keyakinan. Temuan ini sejalan dengan kajian para pakar komunikasi dan media. Berbagai riset menunjukkan bahwa publik cenderung lebih mudah menerima narasi yang sederhana, linear, dan emosional dibandingkan penjelasan yang kompleks dan berlapis.

Narasi sederhana memberi rasa kejelasan cepat; ada tokoh benar, ada tokoh salah, ada sebab yang mudah dipahami, dan ada kesimpulan yang tegas. Bagi banyak orang, pola seperti ini terasa menenangkan di tengah dunia yang serba rumit.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved