Mimbar Jumat

Mimbar Jumat: Setengah Kebenaran Lebih Berbahaya daripada Kebohongan

DI TENGAH derasnya arus informasi, manusia tidak lagi kekurangan data, tetapi kekurangan kehati-hatian.

Editor: Odi Aria
Handout
Prof. Dr. Hj. Uswatun Hasanah, M.Ag, Dirda LPPK Sakinah Kota Palembang dan Dosen UIN Raden Fatah Palembang. 

Oleh: Prof. Dr. Uswatun Hasanah, M.Ag
Dirda LPK Sakinah Kota Palembang
Guru Besar Ilmu Hadis UIN Raden Fatah Palembang

DI TENGAH derasnya arus informasi, manusia tidak lagi kekurangan data, tetapi kekurangan kehati-hatian. Informasi yang tidak utuh sering dianggap memadai, lalu dijadikan dasar sikap dan keputusan.

Padahal, kebenaran yang parsial kerap lebih menyesatkan daripada kebohongan yang utuh. Kebohongan sering kali tampak sebagai kebohongan. Namun setengah kebenaran berbeda.

Ia hadir dengan wajah fakta, membawa data yang tidak sepenuhnya salah, tetapi dipotong dari konteksnya. Karena itu, setengah kebenaran jauh lebih berbahaya: ia menipu akal sekaligus menenangkan nurani secara palsu.

Berbagai riset literasi digital dan psikologi kognitif menunjukkan bahwa manusia cenderung mengambil kesimpulan dari informasi yang paling mudah diakses, bukan yang paling lengkap.

Fenomena ini dikenal sebagai confirmation bias dan availability heuristic. Akibatnya, satu fakta dibesarkan, sementara fakta lain diabaikan. Dalam praktik sosial, informasi parsial telah memicu penghakiman publik, konflik horizontal, hingga salah kebijakan.

Banyak keputusan publik diambil berdasarkan data selektif: angka dipilih yang menguntungkan narasi, suara kelompok kecil diabaikan, dan dampak jangka panjang tidak diperhitungkan. Ketika setengah kebenaran dijadikan dasar, kesalahan tidak lagi bersifat individual, melainkan kolektif.

Al-Qur’an meletakkan prinsip tegas dalam etika informasi dan pengambilan keputusan Firman Allah

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isra’: 36).

Ayat ini menegaskan bahwa setiap sikap, lahir dari pengetahuan yang akan dimintai pertanggungjawaban. Mengikuti informasi yang belum utuh bukan sekadar kekeliruan intelektual, tetapi juga kesalahan moral.

Peringatan yang lebih operasional ditegaskan dalam firman Allah berikutnya“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

(QS. Al-Hujurat: 6). Ayat ini menunjukkan bahwa penyesalan sosial sering lahir bukan dari niat jahat, melainkan dari keputusan yang diambil atas dasar pengetahuan yang setengah.

Rasulullah juga telah memberikan peringatan keras terkait sikap terhadap informasi “Cukuplah seseorang dianggap berdusta apabila ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim, 5). Hadis ini sangat relevan di era media sosial.

Tidak semua yang didengar layak dipercaya, apalagi disebarkan atau dijadikan dasar menilai dan mengambil keputusan. Dalam hadis lain, Rasul bersabda

“Ketenangan itu dari Allah, sedangkan tergesa-gesa itu dari setan (HR. Tirmidzi, 2012). Keputusan yang lahir dari ketergesaan hampir selalu berangkat dari data yang belum lengkap. Jika pada level individu setengah kebenaran melahirkan salah paham, maka di tangan pemimpin dampaknya jauh lebih fatal.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved