Opini

Catatan Kritis di Balik Uji Klinis Vaksin TB

Negara harus secara mandiri memiliki sumber daya untuk melakukan riset dan pengembangan obat dan vaksin sesuai dengan kebutuhan rakyat. 

Tayang:
Istimewa
Apt. Endang Rahayu 

Oleh: Apt. Endang Rahayu
(Pembina Parenting Yayasan Al-Ihsan Sungsang, Kabupaten Banyuasin)

 

SRIPOKU.COM - Huru hara mengenai pelaksanaan uji klinis tahap 3 vaksin TB M73 di Indonesia masih terus berlangsung. Berbagai ahli kesehatan berusaha memperjelas kepada masyarakat arti dari uji coba yang disalahkan artikan sebagai kelinci percobaan. 

Kejelasan mengenai pelaksanaan uji klinis ini dari sisi medis bisa membuat masyarakat paham, tetapi bukan berarti pelaksanaan uji klinis lepas dari kepentingan.

Celah Swasta dalam Kebijakan Proteksi

Sejak masa jabatan pertamanya (2017-2021), Donald Trump mengusung kebijakan American First yang berdampak pada pemotongan dana bantuan luar negeri secara drastis, termasuk dalam bidang kesehatan, seperti pemotongan terhadap hibah vaksinasi global, WHO, Gavi, dan USAID. 

Negara-negara seperti Indonesia, Bangladesh, dan Nigeria juga terkena dampak, karena sebelumnya mendapatkan ratusan juta dolar per tahun dari AS untuk program imunisasi dan TB.

Akibat kebijakan tersebut, Gates and Melinda Foundation menjadi penyumbang terbesar kedua untuk WHO setelah Jerman. Kekosongan dana yang terjadi di WHO mendorong Gates MRI, Wellcome Trust, dan Gavi memperbesar kontribusinya dengan menambal kekosongan dana tersebut, baik secara langsung atau melalui riset klinis. 

Adapun dalam bidang TB khususnya baksin M72, riset sebelumnya dilakukan dengan dukungan dana dari Global fund dan USAID. Kini program pengembangan  vaksin TB itu hampir seluruhnya didanai oleh Gates MRI dan Wellcome Trust.

Masuknya Gates MRI sebagai pemain pengganti ini berdampak pada berbagai hal, termasuk di Indoensia. Sejak kebijakan proteksi Trump, tepatnya di tahun 2019 di masa kepemimpinan pertamanya, program terkait pengendalian TB banyak dialihkan atau dikurangi. 

Langkah ini disusul dengan masuknya Gates foundoation lebih agresif melalui dana hibah yang cukup besar untuk Biofarma berkaitan dengan baksin COvid 19 dan TB, dukungan nutrisi ibu anak (micronutrien project), dan studi perilaku kesehatan masyarakat.

Meski terkesan kontra intuitif, langkah Trump mengurangi dana kesehatan luar negeri dan membiarkan filantropi swasta (Gates Foundation, Wellcometrust) mengisi kekosongan tersebuat adalah langkah yang masuk akal. Sejak awal Trump menganggap bahwa AS banyak dirugikan dengan berbagai program kemanusiaan. 

Ia berfokus pada nasionalisme ekonomi dengan target mengrangi defisit serta pengalihan anggaran ke militer dan prioritas domestik. Meski langkah ini memberikan ruang untuk masuknya swasta, tetapi Gates adalah warga dan kapitalis AS. Masuknya Gates tidak membuat AS kehilangan pengaruh, masihAS tapi lewat swasta.

Langkah ini juga membuat pemerintah bisa berhemat, tapi misi kesehatan global tetap berjalan berkat dana filantropi. Demikian juga produksi vaksin atau obat yang dipakai program WHO atau Gavi-Gates, lazimnya diproduksi oleh perusahaan AS (Merck, Pfizer, J&J). Dengan begitu, permintaan global atas produk made in Amerika ini tetap ada.

Adapun Gates Foundation, meski terlihat terpaksa, langkah proteksi Trump ini memberikan keuntungan bagi Gates. 

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved