Opini

Opini: Menjaga Budi Pekerti Melayu di Era Globalisasi

Budi pekerti bukan hanya sekadar norma sosial, tetapi juga sebagai sumber pencerahan dan petunjuk bagi individu dalam menjalani kehidupan

Editor: adi kurniawan
handout
Otoman-Dosen Sejarah Peradaban Islam Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang 

Di tengah arus informasi yang cepat dan penetrasi budaya asing, masyarakat Melayu dihadapkan pada tantangan besar dalam menjaga budi pekerti yang telah menjadi identitas mereka selama berabad-abad.

Dalam tulisan ini, kita akan membahas tantangan yang dihadapi oleh masyarakat Melayu dalam mempertahankan nilai-nilai budi pekerti, serta peluang yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat identitas mereka di tengah arus global.

Budi pekerti, dalam konteks masyarakat Melayu, mencakup nilai-nilai moral dan etika yang menjadi landasan dalam interaksi sosial. Nilai-nilai ini meliputi kesopanan, rasa hormat, kejujuran, dan tanggung jawab.

Budi pekerti ini tidak hanya diwariskan secara lisan, tetapi juga tercermin dalam tradisi, adat, dan praktik keagamaan.

Sebagai contoh, dalam tradisi Melayu, konsep "adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah" menggambarkan bagaimana nilai-nilai agama dan budaya saling berkaitan dan mempengaruhi perilaku masyarakat.

Menurut Shamsul Amri Baharuddin (1996), budi pekerti Melayu mencerminkan kekayaan budaya dan identitas nasional yang harus dijaga, terutama dalam konteks perubahan yang cepat.

Dengan kata lain, budi pekerti menjadi cermin dari siapa kita sebagai bangsa dan bagaimana kita berinteraksi dengan dunia.

Tantangan dalam Menjaga Budi Pekerti Melayu

Salah satu tantangan utama yang dihadapi masyarakat Melayu adalah penetrasi budaya asing yang sangat kuat. Globalisasi telah membawa berbagai nilai dan norma baru yang sering kali bertentangan dengan prinsip-prinsip budi pekerti Melayu.

Misalnya, budaya konsumsi yang ditekankan dalam masyarakat modern sering kali mengabaikan nilai-nilai kesederhanaan dan saling membantu yang menjadi inti budi pekerti Melayu.

Seperti yang diungkapkan oleh Zainuddin (2012), “budaya barat yang menekankan individualisme dapat mengikis nilai-nilai kolektivisme yang selama ini menjadi pegangan masyarakat Melayu.”

Dalam hal ini, masyarakat Melayu perlu waspada agar tidak kehilangan jati diri mereka dalam pusaran budaya global yang semakin dominan.

Teknologi, khususnya media sosial, juga membawa dampak signifikan terhadap budi pekerti. Masyarakat, terutama generasi muda, lebih mudah terpapar informasi dan norma baru yang sering kali tidak sejalan dengan nilai-nilai tradisional.

Misalnya, perilaku yang kurang sopan, ujaran kebencian, dan perilaku negatif lainnya sering kali muncul di platform media sosial, menciptakan tantangan tersendiri bagi masyarakat Melayu dalam menjaga akhlak dan budi pekerti.

Menurut D. Muhammad (2020), “media sosial telah menciptakan ruang yang ambigu, di mana nilai-nilai positif dan negatif berbaur, sering kali membuat individu sulit untuk menavigasi perilaku yang sesuai dengan budi pekerti yang baik.”

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved