Opini
Menyelami Kesehatan Mental Generasi Z di Era Digital
DALAM rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia, penting untuk menyoroti salah satu kelompok yang paling terpengaruh oleh perkembangan zaman
Oleh: Afriyanti
Staf BPS Provinsi Sumatera Selatan
DALAM rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia, penting untuk menyoroti salah satu kelompok yang paling terpengaruh oleh perkembangan zaman—Generasi Z.
Selama dekade terakhir, Generasi Z—yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an—telah tumbuh di dunia yang sangat berbeda dari generasi sebelumnya.
Berdasarkan Sensus Penduduk 2020, Gen Z berkontribusi 27,94 persen dari total populasi Indonesia, menjadikannya kelompok usia yang berperan penting dalam struktur demografi negara.
Hidup mereka sangat dipengaruhi oleh kemajuan pesat teknologi, khususnya media sosial, yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari mereka.
Sebuah kajian yang dilakukan oleh Pew Research Center pada tahun 2021 mengungkapkan bahwa sekitar 90 persen remaja Gen Z terlibat dalam media sosial, dengan 40 persen mengaku menghabiskan lebih dari 3 jam setiap harinya di platform-platform tersebut.
Meskipun teknologi memberikan akses baru terhadap informasi dan meningkatkan konektivitas global, kehadiran media sosial juga memberi dampak besar pada kesehatan mental. Penelitian sebelumnya yang dipublikasikan dalam Journal of Abnormal Psychology menemukan bahwa tingkat kecemasan di kalangan remaja Gen Z meningkat hampir 50 persen dibandingkan dengan generasi sebelumnya (Generasi Y atau Milenial) pada tahun 2010.
Di samping itu, laporan dari American Psychological Association menunjukkan bahwa 61 persen Gen Z melaporkan merasa stres akibat interaksi diri dengan orang lain di media sosial.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di negara maju; di Indonesia, data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa 60 persen anak muda melaporkan mengalami cyberbullying, yang berkontribusi pada masalah kesehatan mental. Penyebaran informasi yang tidak akurat tentang kesehatan mental juga merupakan ancaman yang harus diwaspadai, terutama di era digital ini.
Dengan memahami bahwa kesehatan mental adalah hak asasi mendasar, seperti yang dinyatakan oleh WHO, kita menyadari bahwa kesehatan mental yang baik sangat penting untuk mencapai kesejahteraan hidup.
Oleh karena itu, perhatian terhadap isu kesehatan mental di kalangan Gen Z perlu ditingkatkan agar mereka dapat menghadapi tantangan zaman ini dengan lebih baik.
Generasi Z sangat erat dengan dunia digital, di mana platform seperti Instagram, TikTok, dan Twitter menjadi bagian integral dari kehidupan mereka.
Sayangnya, platform ini juga menimbulkan tekanan tersendiri. Gen Z hidup di tengah budaya online yang mengharuskan mereka menampilkan citra diri yang sempurna. Standar kecantikan, kesuksesan, dan kebahagiaan yang ditampilkan di media sosial seringkali tidak realistis, yang sering memicu perasaan rendah diri, kecemasan, dan depresi.
Menurut penelitian dari The Royal Society for Public Health di Inggris, 70 persen remaja melaporkan bahwa penggunaan media sosial berdampak negatif pada kesehatan mental mereka, dengan Instagram dinyatakan sebagai platform yang paling merugikan.
Di AS, survei oleh Common Sense Media menemukan bahwa 40 persen remaja melaporkan merasa cemas dengan penampilan fisik mereka karena media sosial, dan 1 dari 5 remaja mengalami gejala depresi yang dikaitkan dengan penggunaan media sosial.
Membandingkan diri dengan orang lain dalam hal penampilan, pencapaian, dan gaya hidup dapat membuat mereka merasa tidak puas dengan diri sendiri. Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) mendukung keadaan, karena melihat orang lain yang tampak selalu berbahagia di media sosial membuat mereka merasa tertinggal.
FOMO menggambarkan ketakutan akan ketinggalan momen atau pengalaman yang penting, tidak hanya dalam kehidupan sosial tetapi juga dalam pekerjaan, pendidikan, atau hobi. Menurut Harvard Business Review , 56 persen remaja melaporkan bahwa mereka merasa stres karena melihat teman-teman mereka melakukan hal-hal yang menyenangkan di media sosial, yang berkontribusi pada peningkatan kecemasan.
Gejala FOMO meliputi penggunaan media sosial yang berlebihan, ketakutan ditolak dari kelompok sosial, serta komitmen yang berlebihan pada berbagai kegiatan.
Sebuah penelitian yang dilakukan University of California menemukan bahwa remaja yang menghabiskan lebih dari 3 jam sehari di media sosial memiliki kemungkinan 30 persen lebih tinggi untuk mengalami gejala kecemasan dan depresi dibandingkan mereka yang menggunakan media sosial secara moderat.
Data ini menunjukkan bahwa ada hubungan langsung antara waktu yang dihabiskan di media sosial dan berdampak negatif pada kesehatan mental, yang semakin memperkuat perlunya menanggapi isu ini dengan serius.
Salah satu dampak yang paling mencolok adalah munculnya tekanan sosial dan standar yang tidak realistis. Banyak remaja merasa terdorong untuk menciptakan citra diri yang sempurna, yang sering kali tidak sesuai dengan kenyataan. Survei Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia menunjukkan bahwa 54 persen remaja melaporkan merasa tidak percaya diri akibat membandingkan diri mereka dengan teman-teman di media sosial.
Ini mengarah pada masalah kesehatan mental yang serius, termasuk kecemasan dan depresi.
Cyberbullying menjadi salah satu dampak paling berbahaya dari penggunaan media sosial. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa 60 persen anak muda di Indonesia pernah mengalami cyberbullying, dengan bentuknya meliputi pengungkapan verbal, penyebaran rumor, dan pengucilan sosial.
Cyberbullying tidak hanya berdampak pada kesehatan mental korban, tetapi juga dapat mempengaruhi kinerja akademis dan interaksi sosial mereka.
Laporan Harvard Kennedy School menunjukkan bahwa korban cyberbullying lebih mungkin mengalami penurunan prestasi sekolah dan isolasi sosial, yang dapat berkontribusi pada perasaan putus asa dan depresi.Lebih jauh lagi, dampak psikologis dari cyberbullying sering kali mengakibatkan perilaku berisiko, seperti bimbingan zat atau bahkan percobaan bunuh diri. Menurut Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) , sekitar 10 persen dari anak muda yang menjadi korban cyberbullying melaporkan pernah berpikir untuk mengakhiri hidup mereka.
Hal ini menegaskan perlunya perhatian dan tindakan yang lebih serius dari orang tua, pendidik, dan pemerintah untuk memberikan perlindungan dan dukungan kepada anak-anak dan remaja yang mempengaruhi.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan bersinergi dengan UNFPA pada tahun 2023 melaksanakan survei mengenai kesehatan mental di kalangan remaja, termasuk Generasi Z. Hasil survei memperlihatkan bahwa 24 persen remaja menunjukkan gejala kecemasan atau depresi, dengan tekanan akademis, interaksi sosial, serta penggunaan media sosial yang berlebihan sebagai faktor dominan.
Sekitar 15 persen responden melaporkan pernah menjadi sasaran cyberbullying, yang berujung pada penurunan rasa percaya diri dan peningkatan kecemasan.
Selain itu, survei I-NAMHS (Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional Indonesia) pada 2022 mengungkap bahwa satu dari lima remaja di Indonesia mengalami gangguan mental seperti kecemasan dan depresi.
Sayangnya, hanya sekitar 20 persen dari mereka yang benar-benar mendapatkan akses layanan kesehatan mental akibat stigma dan kurangnya informasi.
Data WHO tahun 2021 menunjukkan bahwa 1 dari 7 remaja di dunia mengalami gangguan mental, dengan depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku sebagai masalah yang paling umum.
Depresi menjadi penyebab utama penyakit dan disabilitas di kalangan remaja secara global, sementara bunuh diri tercatat sebagai penyebab kematian kedua tertinggi di kalangan remaja usia 15-19 tahun.
Di Indonesia, penelitian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Kesehatan pada tahun 2020 menemukan bahwa sekitar 18 persen remaja mengalami gangguan mental, menunjukkan angka yang cukup signifikan dan sejalan dengan tren global.
Jika dicermati dengan negara lain, prevalensi gangguan mental di kalangan remaja di Indonesia hampir setara dengan data dari negara berkembang lain seperti Filipina, di mana 17 persen remaja mengalami masalah kesehatan mental.
Namun, angka ini jauh lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara seperti Amerika Serikat, di mana sekitar 20 persen remaja melaporkan mengalami gangguan mental, atau Australia yang mencatat angka sebesar 27 persen.
Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun Indonesia menghadapi tantangan tersendiri dalam kesehatan mental remaja, tren yang tampak di Indonesia mencerminkan isu global yang lebih luas.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa Gen Z di Indonesia mungkin lebih rentan terhadap isu kesehatan mental seperti rekan-rekan mereka di negara lain, terutama dalam menghadapi tekanan yang dimunculkan oleh media sosial dan dinamika sosial yang terus berubah.
Untuk menangani isu ini, diperlukan pendekatan menyeluruh melibatkan berbagai pihak—dari individu, keluarga, sekolah, hingga pemerintah.
Langkah-langkah ini mencakup pendidikan, peningkatan akses ke layanan kesehatan, dukungan sosial, serta pengelolaan media sosial.
Pendidikan agama pun memainkan peran penting dalam membentuk nilai-nilai spiritual, moral, dan etika, yang dapat membantu Generasi Z mengelola tekanan sosial, menjaga kesehatan mental, dan mengembangkan karakter yang kuat menghadapi tantangan dunia digital.
Orang tua juga perlu berperan aktif dalam membimbing anak-anak mereka yang tumbuh di era media sosial. Dengan mengajarkan literasi digital, menetapkan batas penggunaan media sosial, memberikan dukungan emosional, dan menjadi teladan yang baik, orang tua dapat membantu anak-anak mereka menggunakan media sosial dengan bijak serta menjaga kesehatan mental mereka. Jika tindakan tidak diambil untuk mengatasi masalah kesehatan mental di kalangan Generasi Z, prediksi menunjukkan bahwa angka kecemasan dan depresi di antara mereka akan terus meningkat.
Menurut laporan dari McKinsey & Company, hampir 50 persen remaja Gen Z di seluruh dunia melaporkan mengalami gejala masalah kesehatan mental yang signifikan, dan tanpa intervensi yang efektif, angka ini bisa melesat hingga 60 persen dalam lima tahun ke depan.
Di tengah tantangan tersebut, perkembangan terbaru dalam terapi digital memberikan harapan baru. Aplikasi kesehatan mental seperti Headspace dan Calm semakin banyak digunakan, menawarkan akses mudah ke sumber daya kesehatan mental seperti meditasi dan terapi perilaku kognitif.
Selain itu, platform seperti Woebot yang memakai kecerdasan buatan untuk memberikan dukungan emosional secara interaktif juga semakin berkembang.
Penggunaan teknologi ini dapat menjadi alat krusial dalam upaya meningkatkan kesehatan mental Generasi Z, selama diimbangi dengan pendidikan yang baik tentang penggunaan media sosial dan kesadaran akan dampak negatifnya.
Dengan mengadopsi pendekatan yang proaktif dan mendukung, kita dapat membantu Generasi Z menghadapi tantangan kesehatan mental yang mereka hadapi dan mendorong mereka menuju masa depan yang lebih sehat dan seimbang. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Afriyanti.jpg)