Opini

Menyelami Kesehatan Mental Generasi Z di Era Digital

DALAM rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia, penting untuk menyoroti salah satu kelompok yang paling terpengaruh oleh perkembangan zaman

Editor: Yandi Triansyah
handout
Afriyanti Staf BPS Provinsi Sumatera Selatan 

Membandingkan diri dengan orang lain dalam hal penampilan, pencapaian, dan gaya hidup dapat membuat mereka merasa tidak puas dengan diri sendiri. Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) mendukung keadaan, karena melihat orang lain yang tampak selalu berbahagia di media sosial membuat mereka merasa tertinggal.

FOMO menggambarkan ketakutan akan ketinggalan momen atau pengalaman yang penting, tidak hanya dalam kehidupan sosial tetapi juga dalam pekerjaan, pendidikan, atau hobi. Menurut Harvard Business Review , 56 persen remaja melaporkan bahwa mereka merasa stres karena melihat teman-teman mereka melakukan hal-hal yang menyenangkan di media sosial, yang berkontribusi pada peningkatan kecemasan.

Gejala FOMO meliputi penggunaan media sosial yang berlebihan, ketakutan ditolak dari kelompok sosial, serta komitmen yang berlebihan pada berbagai kegiatan.

Sebuah penelitian yang dilakukan University of California menemukan bahwa remaja yang menghabiskan lebih dari 3 jam sehari di media sosial memiliki kemungkinan 30 persen lebih tinggi untuk mengalami gejala kecemasan dan depresi dibandingkan mereka yang menggunakan media sosial secara moderat.

Data ini menunjukkan bahwa ada hubungan langsung antara waktu yang dihabiskan di media sosial dan berdampak negatif pada kesehatan mental, yang semakin memperkuat perlunya menanggapi isu ini dengan serius.

Salah satu dampak yang paling mencolok adalah munculnya tekanan sosial dan standar yang tidak realistis. Banyak remaja merasa terdorong untuk menciptakan citra diri yang sempurna, yang sering kali tidak sesuai dengan kenyataan. Survei Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia menunjukkan bahwa 54 persen remaja melaporkan merasa tidak percaya diri akibat membandingkan diri mereka dengan teman-teman di media sosial.

 Ini mengarah pada masalah kesehatan mental yang serius, termasuk kecemasan dan depresi.

Cyberbullying menjadi salah satu dampak paling berbahaya dari penggunaan media sosial. Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa 60 persen anak muda di Indonesia pernah mengalami cyberbullying, dengan bentuknya meliputi pengungkapan verbal, penyebaran rumor, dan pengucilan sosial.

Cyberbullying tidak hanya berdampak pada kesehatan mental korban, tetapi juga dapat mempengaruhi kinerja akademis dan interaksi sosial mereka.

Laporan Harvard Kennedy School menunjukkan bahwa korban cyberbullying lebih mungkin mengalami penurunan prestasi sekolah dan isolasi sosial, yang dapat berkontribusi pada perasaan putus asa dan depresi.Lebih jauh lagi, dampak psikologis dari cyberbullying sering kali mengakibatkan perilaku berisiko, seperti bimbingan zat atau bahkan percobaan bunuh diri. Menurut Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) , sekitar 10 persen dari anak muda yang menjadi korban cyberbullying melaporkan pernah berpikir untuk mengakhiri hidup mereka.

Hal ini menegaskan perlunya perhatian dan tindakan yang lebih serius dari orang tua, pendidik, dan pemerintah untuk memberikan perlindungan dan dukungan kepada anak-anak dan remaja yang mempengaruhi.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan bersinergi dengan UNFPA pada tahun 2023 melaksanakan survei mengenai kesehatan mental di kalangan remaja, termasuk Generasi Z. Hasil survei memperlihatkan bahwa 24 persen remaja menunjukkan gejala kecemasan atau depresi, dengan tekanan akademis, interaksi sosial, serta penggunaan media sosial yang berlebihan sebagai faktor dominan.

Sekitar 15 persen responden melaporkan pernah menjadi sasaran cyberbullying, yang berujung pada penurunan rasa percaya diri dan peningkatan kecemasan. 

Selain itu, survei I-NAMHS (Survei Kesehatan Mental Remaja Nasional Indonesia) pada 2022 mengungkap bahwa satu dari lima remaja di Indonesia mengalami gangguan mental seperti kecemasan dan depresi.

Sayangnya, hanya sekitar 20 persen dari mereka yang benar-benar mendapatkan akses layanan kesehatan mental akibat stigma dan kurangnya informasi. 

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved