OPINI: Memaknai Nuzulul Quran dalam Konteks Pendidikan

Datangnya malam nuzulul Quran tersebut senantiasa dijadikan momentum umat Islam untuk senantiasa menguatkan keimanan bahwa Allah menurunkan al-Quran

Tayang:
Editor: adi kurniawan
Handout
Opini Prof. Dr. Hj. Zuhdiyah, M.Ag Guru Besar Pendidikan Islam UIN Raden Fatah Palembang dan Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Sumsel terkait Nuzulul Quran 

Keseimbangan dunia akhirat, menjadikan dunia sebagai sarana untuk mencapai pada kehidupan akhirat, dan menjadikan akhirat sebagai tujuan dengan tidak mengabaikan kehidupan dunia.

Untuk mencapai itu semua tentunya dibutuhkan pengembangan kecerdasan intelektual, emosional, moral dan
spiritual.

Ketiga, Kurikulum. Kurikulum merupakan komponen penting dalam pendidikan karena merupakan wadah yang menentukan arah pendidikan dan berisi materi atau muatan pesan yang akan disampaikan kepada peserta didik.

Surat al- Alaq ayat 1-5 menggunakan integrated curriculum, yakni mengintegrasikan materi tauhid dengan materi sains dan teknologi. Materi tauhid terdapat pada ayat pertama bismi robbik (dengan nama Tuhan-mu) dan ayat ke tiga warobbukal akrom (dan Tuhanmulah yang maha mulia).

Tauhid merupakan pondasi utama dalam seluruh aktivitas beragama umat muslim. Rusaknya tauhid maka akan rusak pula agama pada muslim tersebut.

Materi sains dan teknologi berupa materi penciptaan manusia sebagaimana terdapat pada ayat pertama setelah bismi robbik, yakni alladzi kholaq (yang menciptakan), di sambung ayat kedua, kholaqol insana min alaq (yang menciptakan manusia dari segumpal darah).

Sains dan teknologi dibutuhkan manusia untuk dapat memberlangsungkan kehidupannya dengan baik dan maju, tanpa sains manusia tentunya akan menjadi terkebelakang.

Namun pemanfaatan sains dan teknologi harus dilandasi dengan tauhid karena eksistensi manusia dan alam bermuara pada Tuhan (Allah), Tuhan adalah inti realitas yang membuat alam semesta ini ada.

Dengan demikian, dalam dunia pendidikan seharusnya tidak ada dikotomi ilmu atau pemisahan ilmu agama dan umum, keduanya harus terintegrasi berdasarkan prinsip sains yang terdapat dalam alquran.

Keempat, metode. Pemilihan metode yang tepat dapat mempermudah peserta didik dalam menerima dan memahami pelajaran.

Di awal pembelajaran pada ayat pertama Jibril menggunakan metode membaca (iqra’). Jibril menuntun Muhammad Saw membaca dengan telaten sampai akhirnya Muhammad Saw mampu mengikuti bacaan dengan baik.

Membaca bukan sekedar membaca untuk mendapatkan informasi bahwa Allah yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah, membaca bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Mulia.

Namun malaikat Jibril juga mengajak Muhammad Saw untuk memahami apa yang dibaca dengan cara merenungi, mengkaji, menganalisis, mensitesis dan mengevaluasi apa yang dibacanya sehingga mampu menuangkannya kembali dalam bentuk tertulis sebagaimama terdapat pada ayat keempat (bil-qolam) dan juga mampu menyampaikannya serta menyebar luaskan ilmu kepada umatnya sebagaiman ayat kelima allamal insana ma lam ya’lam (mengajari manusia apa yang tidak diketahuinya).

Membaca dalam surat al-alaq diulang sebanyak 2 kali, baru diikuti dengan menulis dan mendesiminasikan, hal ini menunjukkan pentingnya membaca.

Semakin tinggi minat membaca maka akan semakin tinggi juga wawasan seseorang dan akan mampu menyajikannya dalam bentuk karya nyata.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved