Opini
Opini: Pancasila Sebagai Landasan Etika Politik Indonesia
Orang-orang yang seharusnya mampu berperilaku menghormati hak-hak sosial menyalahgunakan kekuasaannya untuk memperkaya diri sendiri.
SRIPOKU.COM -- Etika memegang peranan penting dalam dunia politik, terutama dalam konteks politik saat ini yang seringkali sarat dengan norma dan praktik tidak etis.
Pancasila merupakan konsep pemikiran yang menjadi landasan bangsa Indonesia dalam penyelenggaraan kehidupan berbangsa dan bernegara (Ruslan, 2013).
Setiap aspek yang terkandung dalam nilai-nilai Pancasila merupakan kristalisasi dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia sejak dahulu kala.
Keberadaan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia diwakili oleh sila Pancasila.
Kelima pedoman tersebut diharapkan dapat menyatukan dinamika kehidupan masyarakat Indonesia.
Selain itu, Pancasila juga dianggap sebagai seperangkat prinsip abadi yang memuat gagasan-gagasan yang patut diperjuangkan (Rahayu, 2017).
Para pendiri bangsa melakukan perundingan panjang untuk mengambil keputusanakhir dan melahirkan Pancasila pada tanggal 1 Juni 1945.
Sebagai seperangkat nilai-nilai yang berkelanjutan, Pancasila tentunya mempunyai beberapa tugas untuk menunjang pembangunan bangsa Indonesia.
Fungsi-fungsi tersebut misalnya sebagai urat nadi kehidupan bangsa atau yang disebut sebagai pedoman hidup, yaitu landasan negara, sumber segala sumber hukum, dan juga pemersatu keberagaman masyarakat Indonesia.
Fungsi keberadaan Pancasila seharusnya menjadi sesuatu yang tidak dapat dipisahkan oleh warga negara, karena pada dasarnya fungsi tersebut berasal dari masyarakat Indonesia sendiri.
Masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai suku, agama, ras atau warna kulit yang berbeda.
Namun perbedaan tidak berhenti sampai disitu saja, masyarakat Indonesia juga berbeda dalam cara pandang, persepsi dan prinsip hidup.
Salah satu bentuk perbedaan cara pandang terhadap suatu hal adalah perbedaan sikap politik masyarakat Indonesia.
Topik ini dianggap sangat penting saat itu dan Pancasila akan memegang peranan penting di dalamnya.
Bisa dikatakan demikian karena setiap tahunnya konflik yang timbul karena perbedaan pendapat politik masih sering terjadi.
| Dari Kayuagung ke Moskow, Perjalanan Anak Sumsel Mengubah Nasib di Rusia |
|
|---|
| Menziarahi Reruntuhan Makna: Ketika Sejarah "Dikhianati" Demi Seremonial Belaka |
|
|---|
| Hati-hati dengan Diskon! |
|
|---|
| Digitalisasi Perbankan: Efisiensi Operasional atau Ancaman Keamanan Siber? |
|
|---|
| IHSG Awal 2026 Merosot Tajam: Mengapa Ini Justru Momentum Emas bagi Investor Jangka Panjang? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Otoman-SS-MHum-Dosen-Sejarah-Peradaban-Islam-UIN-Raden-Fatah-Palembang.jpg)