Opini: Transmart Tutup: Kedepan Kemungkinan Akan Ada yang Menyusul

Lebih kurang 2 (dua) tahun Mal tutup, barang-barang di etalase Mal pada jamuran, singkat kata tidak kecil kerugian ekonomi yang timbul timbul.

Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM/Istimewa
Amidi (Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Palembang dan Pengamat Ekonomi Sumatera Selatan) 

Kemudian penyebab unit-unit bisnis tersebut berguguran (baca:colaps), karena konsumen tidak perlu lagi pergi ke gerai atau tokoh untuk berbelanja membeli makanan, minuman, barang-barang kebutuhan pokok dan kebutuhan sehari-hari, konsumen hanya cukup menekan tombol HP, maka konsumen sudah bisa memasan makanan, minuman, barang-barang kebuthan pokok dan kebutuhan sehari-hari dan tidak lama kemudian makanan,minuman, barang-barang kebutuhan pokok dan barang kebutuhan sehari-hari tersebut akan diantar.

Jangan lupa subscribe, like dan share channel TikTok Sriwijayapost di bawah ini:

Logo TikTok Sripoku.com

SOLUSI
Pelaku bisnis tidak bisa berdiam diri, tidak cukup perang discount, tidak cukup memoles gerai atau toko, tidak cukup dengan menyediakan pelayan yang “aduhai”, tetapi pelaku bisnis harus melakukan langkah inovasi baru dan perlunya berevolusi agar dapat menyesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan/keinginan konsumen. Untui itu inovasi dan evolusi mutlak dilakukan.

Menurut staf ahli Hippindo, Yongky Susilo (bisnis.com, 1 pebruari 2023), penyeab tutup Transmart tersebut, karena hypermarket tidak banyak berevolusi dan masih mengikuti pola lama seperti perang discount sehingga membuat konsumen bosan. Dia mencontohkan dua perusahaan ritel yang berevolusi yaitu Indomaret dan Alfamart. Indomaret memiliki sejumlah format, seperti Indomaret Fresh dan Indomaret Point, sementara Alfamart memiliki Alfamidi dan Alfa Express.

Penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan/diinginkan konsumen harus dilakukan. Misalnya dalam gerai atau toko kita harus ada WC, harus ada tempat sholat (untuk konsumen muslim) dan sarana prasarana lain yang dibutuhkan/diinginkan konsumen tersebut.

Kemudian antisipasi terhadap bisnis on line atau bisnis digital pun mutlak harus dilakukan, penggunaan aplikasi IT untuk pemesanan dan pengantaran harus dilakukan. Contoh anak laki-laki saya yang menjual “DURIAN KUPAS” saja, mempunyai/menyediakan 4 (empat) aplikasi untuk melayani pemesanan secara on line. Begitu juga dengan anak perempuan saya yang melakukan bisnis parfum, juga menyediakan aplikasi untuk pemesanan secara on line.

Selanjutnya yang tidak kalah pentingnya adalah melakukan research and development (R & D) terhadap unit bisnis dan layanan yang kita lakukan, bila perlu R & D tersebut kita lakukan setiap 6 (enam) bulan sekali. Dengan R & D tersebut akan diketahui apa yang dibutuhkan/diinginkan konsumen, akan diketahui kelebihan dan kekurangan unit bisnis dan layanan yang kita lakukan dan termasuklah akan diketahui apa maunya konsumen atas produk yang kita tawarkan tersebut.

Jika langkah-langkah tersebut tidak kita lakukan atau kita abaikan, ditambah pihak yang berkompeten tidak sigap menyikapi persoalan yang satu ini, maka tunggu saja ke depan akan ada lagi gerai atau toko atau unit bisnis lain yang menyusul akan tutup juga. Selamat berjuang!!!!!!

Jangan lupa Like fanspage Facebook Sriwijaya Post di bawah ini:

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved