Wong Kubu dalam Kesenjangan yang Tersembunyi

Di mata wong kubu, hutan adalah segalanya sebagai sumber kehidupan dan penghidupan dihutan mereka mencari madu, rotan, Jernang, berburu & mengambil...

Editor: Bejoroy

Cara berjalanya cepat dengan badan condong kedepan , dimana kakinya ketika jalan berjingkat, kedua telapak kakinya menghadap kedalam dan kakinya dengan ciri berbentuk O, ciri lainya berkulit gelap berambut keriting.

Kedua suku kubu ini mempunyai bahasa yang berbeda dan juga dialek berbeda dimasing masing kelompok, namun kalau ketemu antar kelompok lainnya suku kubu ini saling mengerti dalam mengunakan bahasa.

Ketiga, suku kubu mempunyai cara sendiri dalam menyembuhkan penyakit metode pengobatan ini dinamakan Besale.

Keempat, untuk kelompok yang masih berpindah pindah, kelompok imi masih percaya kalau tempat yang mereka jadikan tempat tinggal itu sial apabila diantara kelompok mereka ada yang meninggal dunia, kelompok suku kubu ini akan meninggalkan Tempat tersebut karena dianggap tempat tersebut adalah tempat yang sial, tradisi suku ini di namakan Melangun.

Sekarang Kondisi suku Kubu di kecamatan Bayung Lincir dan Batanghari Leko di Musi Banyuasini sudah jauh berbeda dan banyak berubah, suku kubu sudah banyak yang hidupnya menetap dan tinggal didusun yang dulunya suku kubu menyebutnya tempat tinggal orang terang, sekarang suku kubu banyak yang berpakain layaknya masyarakat Desa , bahkan ada beberapa yang bersekolah dan selesai S1 sarjana, bahkan ada yan menjadi kades dan anggota dewan.

Jangan lupa subscribe, like dan share channel TikTok Sriwijayapost di bawah ini:

Logo TikTok Sripoku.com

Namun sebagian besar suku kubu masih hidupnya tergantung dengan Alam untuk menunjang ekonomi keluarganya, dengan berburuh binatang dan dagingnya dijual, mencari Biga bubuk putih didalam bambu ,Jernang dan Bunga Jernang untuk obat obatan, Madu Sialang, biasanya hasil hutan yang mereka dapatkan dijual di desa desa terdekat disekitar hutan dengan cara barter sesuai dengan kelompok suku kubu ini butuhkan.

Wong kubu yang "diuwongke
Komunitas Suku kubu kelompok pak fendi yang berada di Dusun Suak Buring Desa Pagar Desa, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musi Banyuasin kini kelompok mereka telah direlokasi didalam areal konsesi milik salah satu perusahan hutan tanaman industri dengan luas lahan kurang lebih semuas 25 Ha, lahan tersebut berupa rumah, balai pertemun yang berfungsi sebagai masjid dan kebun karet, Relokasi terhadap komunitas sulu kubu ini merupakan bagian dari progam perusahaan hutan tanaman tersebut, program ini untuk membantu suku kubu dalam penghidupannya tanpa meninggallkan adat dan istiadat yang biasa mereka gunakan.

Relokasi suku kubu yang terletak didusun Buring lebih kurang 55 KM dari jalan Palembang

Sejak mendiami wilayah baru, pola hidup suku kubu kelompok pak fendi atau bisa juga kita sebut ditumenggungi beliau lambat laun mulai berubah. Budaya melangun yang biasa mereka terapkan kini tidak mereka lakukan lagi begitupun ketika mereka melakukan pernikahan adat suku kubu sudah mereka tinggalkan pernikahan mereka sekarang sudah memakai seorang jasa seorang penghulu karena mereka telah memeluk agam Islam.

Jangan lupa Like fanspage Facebook Sriwijaya Post di bawah ini:

Mereka tak lagi berpindah-pindah seperti yang kerap dilakukan oleh nenek moyangnya “ kami sudah kerasan disini dan kehidupan berpindah pindah sudah mulai kami tinggalkan,ujar pak Fendi”, Wong kubu yang direlokasi ini jumlahnya mencapai 60 jiwa, mereka juga telah mengenal cara pakaian, bercocok tanam seperti umbi, pisang atau padi telah dikenal pula.

Sedang pola mata pencaharian lama yang masih dipertahankan adalah berburu kijang, rusa, kancil dan mencari madu dihutan. Relokasi sendiri mulai berlangsung dari tahun 2011.

Persoalan mendasar lain, anak-anak Suku Kubu ini yang masuk ke dalam warga Dusun Bungkal masih kesulitan bersekolah. Satu-satunya sekolah yang ada di Desa Pagar Desa letaknya juah dari dusun mereka, medannya pun sangat sulit dilalui.

Halaman
123
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved