Opini

Menjaga Alam, Mewakili Peran Tuhan

Sekretaris Program Dokror dan Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Raden Fatah Palembang

Tayang:
Editor: Yandi Triansyah
Dokumen Pribadi
Dr. Hj. Uswatun Hasanah, M.Ag 

Bahkan ketika seorang perempuan bersuami berzina hukuman yang pantas untuknya adalah dirajam sampai mati.

Namun bagi pelacur yang disebutkan dalam hadis, surga Allah diberikan untuknya karena satu perbuatan yang terlihat sangat sederhana dan mudah.

Terlebih apabila dibandingkan statusnya sebagai seorang wanita penzina.

Para ulama berijtihad bahwa ketulusan dan kasih sayang sebagai penebar rahmat bagi alam, menjadi sebab si pelacur diampuni dan dimasukkan ke dalam surga Allah.

Selain ketulusan, manusia sebagai penjaga alam dituntut untuk dapat berkesinambungan da-lam kebaikan.
Tidak karena ikut-ikutan atau karena satu kepentingan.

Salah satu fenomena yang bisa diamati adalah saat terjadi puncak pandemic akibat Covid 19 di awal tahun 2020 yang lalu.
Ketika seluruh aktivitas manusia dipusatkan dari rumah.

Dampaknya banyak petani dadakan lahir, termasuk juga para pecinta hewan.

Sayangnya petani dadakan tidak konsisten menjaga tanamannya.

Setelah pandemic mereda, tidak sedikit tanaman tersebut dibiarkan layu tanpa dirawat kemudian menjadi mati. Kecintaan terhadap tanaman hanya untuk mengisi waktu luang, belum sampai kepada tahap kesadaran. Begitu juga dengan pecinta hewan.

Kucing dengan jenis tertentu menjadi buruan dan hewan kesayangan.

Ada yang diternakkan, dikurung, dipaksa kawin demi mengejar permintaan pasar. Kucing dijual belikan dengan harga tinggi.
Dirawat maksimal dengan pergi ke salon dan dokter secara rutin.

Makan makanan mahal dengan vitamin yang cukup.

Ironisnya tidak sedikit dari kucing kampung yang berkeliaran di dekat rumah dihardik hanya karena meminta sisa makanan.
Penebar kasih sayang bagi semesta, hakikatnya bukan hanya sekedar motto.

Tidak pula dikhususkan pada segelincir makhluk tertentu saja, sementara pada makhluk lain bertindak sesuka hati. Sikap ketiga untuk menjalankan peran manusia menjaga alam diwujudkan dengan adanya rasa tanggung jawab.

Manusia harus banyak belajar, karena menjadi khalifah bukan perkara mudah.

Harus bisa memahami bahwa setiap bagian yang diciptakan Tuhan memiliki fungsi dan tujuan masing-masing.
Tidak ada satupun ciptaan Allah sia-sia (Q.S. al- Imron (3): 191).

Mengelola dan memanfaatkan alam salah satunya dengan memperhatikan ekosistem. Tidak hanya tindakan sengaja merusak alam, tetapi prilaku hidup sehari-hari sebagiannya tanpa disadari dapat merusak ekosistem.

Misal yang banyak terjadi adalah penggunaan plastik pembungkus dan menganggapnya tidak masalah.

Belanja sayur dibungkus plastik, beraneka ragam minuman dikemas dalam bungkus plastik, beraneka jajanan lagi-lagi dibungkus pakai plastik.

Padahal plastik membutuhkan waktu 1000 tahun untuk bisa terurai.

Demikian juga pembakaran mesin kendaraan juga menyumbang polusi udara terbesar. Semakin banyak kendaraan lalu lalang berbahaya bagi bumi.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved