Opini
Menjaga Alam, Mewakili Peran Tuhan
Sekretaris Program Dokror dan Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Raden Fatah Palembang
Oleh: Dr. Hj. Uswatun Hasanah, M.Ag
Sekretaris Program Dokror dan Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Raden Fatah Palembang
Segala sesuatu yang ada atau dianggap ada selain Allah beserta Dzat dan sifat-Nya disebut manusia sebagai alam.
Secara khusus alam disebut dengan kata dunia, semesta atau universe yang memiliki sifat fana dan kasat mata.
Dalam al-Qur’an alam disebut secara lebih luas yaitu dengan istilah al-samawat wa al-ardh wa ma baynahuma yaitu langit, bumi dan apa yang ada di antara keduanya (Q.S. Maryam (19): 65).
Berdasarkan ayat al-Qur’an tersebut alam diartikan tidak hanya dunia yang nampak oleh mata, tetapi keseluruhan ciptaan Allah, termasuk manusia, jin, syaithon, para malaikat serta antariksa.
Sebagai Pencipta, Allah mengatur dan menjadikan alam dengan sistem yang teratur dan dapat ditinjau dari berbagai aspek ilmu pengetahuan dan kaidah sains.
Sunnatullah yang sering disebut manusia sebagai hukum alam dijadikan tolok ukur bergerak dan berlakunya semua sistem yang terjadi di alam.
Dengan sifat Maha Adil dan Bijaksana, alam dibangun dalam unsur sebab dan akibat (Q.S. al-Fath (49): 23).
Sehingga setiap individu akan bisa memprediksi tentang apa yang akan terjadi dari sebuah perilaku yang dilakukan, sehingga dapat mengawali dengan menyusun rencana secara matang.
Rajin belajar maka akan menjadi pandai. Tekun dan tidak mudah putus asa maka akan meraih kesuksesan. Tentu saja hal ini juga berlaku sebaliknya.
Termasuk ketika seseorang merasakan lapar maka dia harus makan sesuatu untuk mengobati rasa laparnya. Alam tunduk secara mutlak dengan hukum Allah.
Matahari dengan penuh konsisten terbit di sisi Timur dan terbenam di sisi sebelah Barat. Lautan, sungai dan danau tidak memuntahkan air dan segala kehidupan yang dikandungnya saat berkeliling, mengikuti bumi yang terus berputar tanpa henti pada porosnya.
Seekor harimau tetap patuh pada perintah Tuhan menjadi karnivora, hanya memakan daging meskipun sebagai raja hutan dia bisa makan rumput yang lebih mudah didapatkannya.
Maha Suci Allah, Tuhan bagi semua makhluk (Q.S. al-Fatihah (1): 4). Penguasa segala urusan yang terjadi di masa dahulu, sekarang ataupun yang akan datang.
Alam adalah makhluk Tuhan, maka sebagai makhluk terikat kewajiban untuk tunduk dan patuh kepada Tuhan-nya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/ushuludin.jpg)