Opini
Menjaga Alam, Mewakili Peran Tuhan
Sekretaris Program Dokror dan Dosen Fakultas Ushuluddin UIN Raden Fatah Palembang
Selain menunjukkan sifat Maha Adil dan Bijaksana, kehadiran alam adalah sebagai bukti kasih sayang Tuhan untuk manusia.
Alam ditundukkan Tuhan untuk memenuhi segala kebutuhan hidup manusia (Q.S.15: 20).
Alam ada selama kehidupan manusia berlangsung. Saat manusia diwafatkan bermakna hubungannya dengan alam semesta su¬dah berakhir.
Tidak ada lagi fasilitas dunia yang bisa ia nikmati.
Begitupun ketika tiba hari kiamat, saat alam dihancurkan maka secara bersamaan kehancuran pula bagi kehidupan manusia seluruhnya (Q.S. 101: 1-5).
Meskipun manusia merupakan bagian dari alam, namun dari sisi fenomena yang terjadi, aktivitasnya dipisahkan dari alam.
Manusia ditempatkan sebagai wakil Tuhan yaitu memiliki peran sebagai pemimpin atau khalifah di alam (Q.S. al-Baqarah (2): 30).
Manusia berperan da¬lam mengelola dan memanfaatkan alam. Perilaku manusia sangat berdampak bagi alam.
Jika sesuatu yang buruk dilakukan maka akan menjadi sumber kerusakan bagi alam. Sebaliknya jika manusia bersikap baik, maka alam pun akan memberi banyak kebaikan.
Karenanya diperlukan kesadaran untuk menghilangkan dampak dari kerusakan lingkungan, maka ketika didatangkan bencana, hakikatnya adalah Tuhan bermaksud memperingatkan manusia untuk melakukan hal yang benar.
Misalnya memperhatikan ekosistem dan keseimbangan alam dalam pemanfaatan dan pengembangan sumber daya. Manusia harus senantiasa ingat.
Bahwa dirinya dan alam memiliki kedudukan yang sama sebagai makhluk Tuhan. Alam harus dipandang sebagai satu komponen yang memiliki nilai dan hak.
Ia merupakan bagian dari integritas kehidupan manusia yang harus dihormati, dihargai dan tidak disakiti. Alam bukan hamba manusia, ketundukannya kepada manusia hanya karena perintah Tuhan. Sesungguhnya alam memiliki nilai bagi dirinya sendiri.
Kerusakan yang terjadi di alam, diakibatkan sudut pandang yang salah dari manusia.
Dengan sikap an¬tro¬posentris, manusia memandang dirinya sebagai penguasa. Akibatnya keberadaan alam menjadi objek yang dapat dieksploitasi hanya untuk memuaskan keinginan pribadi (Q.S. ar-Rum (30): 41).
Telah jelas dalam al-Qur’an beberapa sikap yang dapat menjadi prinsip bijak untuk dipergunakan sebagai pengelola alam.
Di antaranya mejadikan diri sebagai rahmat bagi alam (Q.S. al-Anbiya (21) ayat 107).
Interaksi yang dilakukan manusia terhadap alam seharusnya dengan penuh kasih sayang dan penghargaan. Hubungan baik dibangun layaknya sebuah keluarga.
Dalam hadis pernah dikisahkan bahwa seorang pelacur masuk surga hanya karena memberi minum seekor anjing (H.R. Muslim, 2699).
Hal ini jelas bukan karena anjingnya terlebih lagi sebab si perempuan. Telah diketahui bersama jika melacur atau berbuat zina adalah masuk dalam prilaku dosa besar yang sulit mendapat ampunan dari Allah dan juga seluruh alam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/ushuludin.jpg)