Breaking News:

Media Mainstream 'Dikerangkeng' Rezim (?)

Pertanyaan mendasar yg patut dan pantas kita ajukan adalah, apakah media mainstream yang kita gembar-gemborkan sebagai media independen itu masih ada?

Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM / Istimewa
Yurnaldi Wartawan Utama, Mentor Jurnalistik, dan Penulis Buku-buku Serial Wartawan Hebat 

Oleh : Yurnaldi
Wartawan Utama, Mentor Jurnalistik, dan Penulis Buku-buku Serial Wartawan Hebat

Kita sudah akan melangkah ke tahun 2022 dan Februari nanti kita akan memperingati Hari Pers Nasional (HPN).

Saatnya kita, wartawan/praktisi pers dan pemilik media arus utama (mainstream) melakukan introspeksi dan merefleksikan diri, apa yang sudah dan akan kita perbuat untuk pembaca, untuk kepentingan publik.

Pertanyaan mendasar yang patut dan pantas kita ajukan adalah, apakah media mainstream yang kita gembar-gemborkan sebagai media independen itu masih ada?

Atau sebaliknya, karena suatu alasan, pemerintah (rezim) mengerangkeng keberadaannya, se-hingga akibat ikutannya adalah media kehilangan pembaca dan akhirnya seperti ungkapan bagai kerakap tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau.

Dan faktanya, banyak juga media mainstream yang mati dan tak siap pula beralih ke media digital/daring.

Fakta yang saya dapatkan antara lain, ketika media mainstream (suratkabar,televisi, dan radio) melakukan kritik kepada pemerintah/rezim, para pimpinan media dikumpulkan dan “diceramahi” dan ada sejumlah catatan (tekanan).

Ada juga yang langganan diputus atau “dana bantuan atas nama subsidi atau kerjasama” ditiadakan.

Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:

Bagi yang menerima dana kerjasama, maka diharuskan memublikasikan siaran pers yang sehari bisa dua-tiga.

Halaman
1234
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved