Pendidikan Salah Arah. Respon Terhadap Fenomena Pelecehan Seksual di Lembaga Pendidikan
Dari sisi paradigma atau cara pandang pendidikan, cukup menarik dan mendesak untuk mendiskusikan arah dan orientasi pendidikan nasional saat ini.
Arah pengembangan pendidikan nasional berbasis teknologi modern dan penekanan pada persaingan untuk mendapatkan kesempatan di dunia kerja seringkali berdampak pada pengabaian terhadap aspek afeksi dan moral.
Teori neurosains yang melahirkan metode pendidikan berbasis otak (brain) sangat mendominasi cara pandang pendidikan modern.
Seiring dengan itu, pendidikan berbasis hati dan budi pekerti terkesan hanya bernu-ansa teoritik dan tak kunjung terimplementasi dengan efektif di lembaga pendi-dikan di negeri ini.
Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:

Paradigma Mendidik Hati atau Mendidik Otak
Pertanyaan mengenai aspek mana yang paling penting untuk dididik, sesungguh-nya telah lama menjadi perdebatan klasik para filosof yang selanjutnya melahirkan pandangan filsafat pendidikan.
Kaum intelektualiasme menganggap potensi daya nalar dan rasionalitas jauh lebih penting untuk menjadi tujuan utama pendidikan.
Pengikut pragmatisme menganggap kemampuan vokasional dan kompetensi untuk beradaptasi dengan tantangan kehidupan harus menjadi prioritas pendidikan.
Sementara itu, pengagum humanisme menganggap penghargaan terhadap harkat hi-dup manusia jauh lebih tinggi posisinya sehingga harus diutamakan menjadi ori-entasi semua aktivitas pendidikan.
Ketiga dimensi di atas (rasio, vokasi, dan nilai kemanusiaan) pada dasarnya telah disepakati sebagai ranah yang sama pentingnya untuk dididik secara bersamaan.
Dalam taksonomi Bloom dunia pendidikan dikenalkan dengan istilah ranah kogni-tif, afektif dan psikomotorik sebagai tiga wilayah potensi yang harus dikembang-kan dari setiap peserta didik.
Bagi para pengajar sudah sangat paham bahwa pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan peserta didik secara kognitif (ilmu), afektif (sikap moral), dan psikomotorik (skill).
Meskipun taksonomi Bloom mengajarkan untuk menyentuh ketiga ranah itu secara holistic, menyeluruh, dan bersamaan.
Jangan lupa subscribe, like dan share channel TikTok Sriwijayapost di bawah ini:

Namun faktanya hampir semua sekolah secara tanpa sadar justru lebih menganggap penting aspek ilmu ketimbang adab.
Kesetaraan ketiga ranah itu di hadapan proses pembelajaran masih belum terlihat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/abdurrahmansyah2-abdurrahmansyah1-abdurrahmansyah.jpg)