Breaking News:

Pendidikan Salah Arah. Respon Terhadap Fenomena Pelecehan Seksual di Lembaga Pendidikan

Dari sisi paradigma atau cara pandang pendidikan, cukup menarik dan mendesak untuk mendiskusikan arah dan orientasi pendidikan nasional saat ini.

Editor: Bejoroy
SRIPOKU.COM/Istimewa
DR Abdurrahmansyah MAg / Dosen Pascasarjana Universitas Islam Negeri Raden Fatah. 

Oleh: Dr. Abdurrahmansyah MAg
Dosen Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang

Prolog
Akhir-akhir ini siklus kejadian memalukan yang melibatkan lembaga pendidikan kembali terulang.

Fenomena buruk ini menyasar semua jenjang pendidikan, baik pendidikan dasar, menengah, bahkan di perguruan tinggi.

Mengacu data Komnas Perempuan dari tahiun 2003-2020 terdapat fakta kekerasan seksual di lingkungan pendidikan dari tahun 2015-2020.

Dalam laporannya, selama lima tahun ada sekitar 51 kasus.

Dari puluhan kasus itu yang mengejutkan adalah pesantren atau pendidikan berbasis agama Islam menempati urutan kedua, yakni 19 persen (10 kasus) setelah universitas atau perguruan tinggi (27 persen).

Bentuk kekerasan yang tertinggi hingga mencapai 88 persen, yakni kekerasan seksual (45 kasus) yang terdiri dari perkosaan, pencabulan dan pelecehan seksual.

Para pelaku melibatkan guru, kepala sekolah, ustadz, pejabat di kampus dan dosen. Pemberitaan nasional ramai memperbincangkan akar masalah pelecehan seksual di lingkungan pendidikan dengan berbagai perspektif.

Dari sisi hukum, misalnya diskusi mengarah pada perlunya segera diberlakukan Undang-undang Tindak Pidana Pelecehan Seksual (TPPS);

Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:

Halaman
1234
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved